Being an Ordinary Human

Human-Behavior-The-Complete-Pocket-Guide

(Credit: imotions.com)

Rhoma Irama bilang, darah muda itu selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah. Bahkan menurutnya, masa muda adalah masa yang berapi-api. Begitu penuh ambisi ya masa muda itu? Saya jadi ingat diri saya sendiri. Dulu, saya pernah punya banyak ambisi. Mulai dari berambisi jadi yang paling pintar, paling kritis, dan paling paling yang lain.

Saya pernah ingin jadi seperti Rosiana Silalahi ataupun Desi Anwar, wartawan wanita yang keren banget. Saya pernah ingin jadi pengajar yang punya formulasi pendidikan paling menyenangkan bagi mahasiswa. Saya pernah ingin punya yayasan dan menyekolahkan anak-anak kurang mampu. Saya pernah ingin jadi seorang peneliti dan menelurkan berbagai buku.

Tapi kemudian, saya hanya berakhir sebagai editor showbiz yang kerap dipandang sebelah mata, serta sebagai mahasiswa S2 yang lulus paling buncit. Tidak ada pride apapun dari itu semua, kecuali at least i’m still alive facing every bad time for almost 5 years recent.

Sosok ambisius penuh mimpi itu bisa jadi sudah tidak ada dalam diri. Apa karena insecure? Bisa jadi. Lima tahun yang berat ini menjadikan saya lebih realistis, menyadari betapa dunia dan sosiety tidak sesederhana yang saya bayangkan. Saya kembali mengukur kapasitas dan kekuatan saya, bertanya pada diri saya sendiri tentang maunya apa?

flood_640

(Credit: descriptionari.com)

Barangkali, saya cuma ingin hidup sesuai kemampuan saya sendiri bersama takdir yang menyertainya. Saya ingin jadi orang yang biasa saja, seperti para tetangga saya di desa. Mereka petani yang bisa bahagia berkat hembusan angin silir-silir seusai bertani. Menikmati hidup, apa adanya.

Sebab, semakin hari semakin saya sadari, betapa setiap manusia memiliki perannya sendiri-sendiri sekecil apapun itu. Petani miskin yang bahagia berkat hembusan angin tadi itu, mereka berperan penting dalam menyediakan butiran nasi di meja makan kita hari ini.

Maka, jika sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat, maka apapun pekerjaan kita, kita sudah menunaikan itu kan?

Saya nggak mau bermimpi untuk jadi superhero, gelar berderet, atau bahkan jabatan yang tinggi. Saya cuma ingin menjalani apapun takdir yang sudah Tuhan gariskan dengan baik. Terutama jika mengingat kembali betapa kita semua akan bermuara pada satu hal yang sama, yakni menghadap Tuhan dan meminta ridho’nya sebagai hamba.

Corona, Why?

2AP1TD2-b598c7937e0cb7c3ddb3d98f6d897d82

Sumber: cdc.gov

Sudah nyaris sebulan isu-isu Corona wara-wiri di sosial media. Kini, karantina nasional sudah diberlakukan. Ada sejumlah penderita yang tersebar di beberapa kota, setidaknya saat ini sudah mencapai 300 orang lebih. Malang sendiri sudah termasuk dalam zona merah. Ya, sudah ada penderita Corona yang meninggal di sini.

Hari ini sudah memasuki hari ke-7 Karantina. Hari ini hari Minggu, dan artinya saya harus melewati hari Minggu di kos saja, nggak ke mana-mana. Sungguh, dari semalam saya ingin nangis terus bawaannya. Hingga bangun tidur pagi tadi, rasanya uring-uringan banget.

Sebab apa? Sebab bisa jadi ini adalah hari Minggu pertama yang harus saya lewatkan dengan tinggal di kos saja tak ke mana-mana selama beberapa bulan terakhir. Biasanya, saya pergi ke kantor untuk mengerjakan tesis. Ya, bagi saya kantor sudah seperti rumah. Bahkan hari libur pun ia masih jadi tempat ternyaman. Kalau nggak ngerjain tesis, saya ke sana untuk menulis blog. Kini, kantor tutup karena sedang disemprot disinfektan.

1800x1200_coronavirus_1

Sumber: cdc.gov

Tesis saya sudah selesai. Hal lain yang biasa saya lakukan di hari Minggu adalah pergi pacaran. Bersyukur sekali saya nggak jomblo melulu. Akhirnya lagu-lagu cinta penuh romansa ala Kahitna itu bisa relate juga sama kehidupan saya. Mulai dari nonton, nyari bakso, atau sekadar duduk-duduk di jalan Ijen itu semua biasa saya lakukan di hari Minggu.

Namun kali ini semua itu tak bisa saya lakukan. Saya betul-betul tidak terbiasa tinggal di kos saja seperti ini. Bad mood melanda. Pacar saya sampai saya cuekin dan dia juga ganti nyuekin saya. Huh! Sementara teman sekamar saya asyik main mobile legend. Hah! Saya lalu tidur. Uring-uringan itu hanya teredam selama 1 jam. Begitu bangun saya uring-uringan lagi.

Saya tak pernah menyangka akan melalui hari-hari karantina karena virus Covid-19. Saya nggak pernah menyangka kota Malang ini tiba-tiba sepi, semua orang takut keluar rumah. Sudah seperti pemandangan di film-film saja, film I AM LEGEND contohnya.

outbreak-coronavirus-world-1024x506px

Sumber: cdc.gov

Saya nggak pernah menyangka apa yang saya lihat di film itu beneran terjadi. Orang-orang mulai egois menyelamatkan diri. Kelangkaan ini itu terjadi. Setidaknya setahu saya masker, alkohol swabs, hingga hand sanitizer sudah langka. Orang egois beli borong sebanyak-banyaknya biar bisa terus sehat. Yang jual juga lantas naikin harga, sama-sama egois manfaatin momen buat menuhin pundi-pundinya. Ya, pundi-pundi, di masa seperti ini perekonomian pun turut terancam.

Keos mulai terjadi. Saling hujat di antara orang-orang egois tak terelakkan. Sosial media bising dengan itu. Belum lagi informasi yang kebenarannya dipertanyakan juga turut berseliweran. Krisis kepercayaan akan informasi muncul. Contohnya saja soal DIY disinfektan hingga DIY hand sanitizer yang dosis sampai keefektifannya masih terus pro kontra. Fiuh, berisik!

Di film-film, kekacauan itu terjadi sampai di dunia nyata. Ekonomi kacau, kriminalitas meningkat, kemanusiaan tak lagi jadi prioritas, yang paling utama tetap menyelamatan diri sendiri dan bertahan hidup. Mungkin kah kita hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai ke tahap itu? Gara-gara Corona?

 

Keep Learning Mbok!

FP SI MBOK 2

Potongan adegan di film THE HELP (Youtube)

Siang itu papa mengajakku pergi mengunjungi Mbok’e, perempuan tua yang dulunya pernah menjadi asisten rumah tangga di rumah kami. Entahlah, ayahku ini kenapa masih begitu peduli dengannya, mungkin karena si mbok ini hidupnya sendiri ditinggal anaknya jadi TKW di luar negeri.

Kedatangan kami disambut hangat oleh mbok’e, terlebih dia sudah sangat lama tidak bertemu denganku. Meski kami tinggal satu desa dan rumah kami hanya berjarak beberapa kilometer saja, aku memang sangat jarang mengunjunginya. Mbok’e mempersilahkan kami masuk dan membuatkan kami bubur sum-sum, dangangannya. Ya, membuat bubur sum-sum adalah satu-satunya keahlian yang mungkin dilakukan untuk menghidupi dirinya yang sudah cukup renta. Mau menjadi asisten rumah tangga juga rasanya siapa yang tega memperkerjakannya?

Mbok’e duduk di hadapan kami sambil tersenyum sumringah. Papa memulai pembicaraan dengan pertanyaan seputar kabarnya, kesibukannya dan kabar anaknya.

Banyak yang si mbok ini ceritakan, tapi ada satu yang cukup membuatku terenyuh. yakni tentang semangatnya untuk mengikuti sekolah buta huruf. Katanya setiap hari jum’at ia bersama teman-temannya yang sama-sama sepuh, sama-sama tidak bisa baca-tulis berkumpul di balai desa untuk belajar baca tulis. Mbok’e juga menunjukkan buku tulis yang biasa ia bawa “sekolah”. Deretan huruf tertulis dengan berantakan, besar kecilnya tidak sama.

FP SI MBOK 1

Potongan adegan di film THE HELP (Youtube)

Sebenarnya si mbok ini bukannya tidak bisa membaca dan menulis sama sekali, dulu aku pernah membaca tulisannya beberapa tahun silam, saat ia masih bekerja di rumah kami.

Aku yang saat itu masih SD entah kelas berapa, memang sangat jahil dan nggregetno. Iseng-iseng aku masuk kamar si Mbok ini, kemudian menemukan buku tulis yang tergeletak di kasur. Jiwa isengku begitu meronta, segeralah aku membukanya.

“ka lau ada telep o n ditanya dari si apa, mau bi cara de ngan si apa,
ka lau ibu tidak ada di ru mah ada pe san apa”

“ka lau sabun mau ha bis se gera bi lang sa ma ibu,
ja ngan pas su dah ha bis baru bi lang”

begitu isi buku tulis tersebut. ada pula beberapa tulisan huruf tunggal yang ditulis berulang. Semua tulisannya berantakan, kadang tidak pas di atas garis. Ini menandakan bahwa Mbok’e tidak mahir menulis, dan mungkin dia sedang belajar. Apa yang ia tulis kemungkinan menjadi remindernya, mengingat mamaku adalah orang yang suka memberlakukan aturan-aturan terkait prosedur rumah tangga.

FP SI MBOK 3

Potongan adegan di film THE HELP (Youtube)

Sebenarnya aku cukup geli hal sesepele itu harus ditulis di buku tulis, tapi itu kan sepele bagiku, bagi mbok’e mungkin tidak. Mungkin baginya adalah sesuatu yang salah jika informasi tentang siapa yang telepon dan sebagainya itu tidak dilaporkan pada mama, mengingat hanya dia satu-satunya orang di rumah yang tidak mobile kemana-mana.

Sejak saat itu aku sadari bahwa Mbok’e ini berusaha untuk tidak melupakan cara menulis dan membaca. Beberapa kali sempat pula aku ajari ia membaca dan menge-tes-nya. Seorang anak SD yang cukup tidak tahu diri sebenarnya.

Melihat hingga sekarang ia masih mau mengikuti kelas pemberantasan buta huruf tentu aku begitu salut. Semangatnya untuk belajar tinggi, semangatnya untuk menjadi bisa menulis dan membaca sangat mengagumkan. Ya, sekedar menulis dan membaca memang bagi kita adalah sesuatu yang mudah, yang sepele. namun bagi mbok’e itu “sesuatu banget”.

Maaf Jika Aku Mencintai Kekasihmu

Teruntukmu, Danila, Seseorang yang cuma ku tahu namanya.

Danila, dari judul tulisan ini saja tentu kamu sudah tahu aku akan mengobral apologi. Ya, aku mencintai kekasihmu, yang sekaligus bagiku pun ia adalah kekasihku. Kekasih, sebuah sebutan pada sosok berlabuhnya kasih, sesederhana itu. Dia bisa jadi tak membalas kasih, dia bisa jadi tak memberikan ikatan, satu-satunya definisi tunggal untuk kekasih memang sederhana, sosok yang dikasihi.

Maafkan aku yang mencintai kekasihmu. Bukan, bukan karena aku tak memahami sebagai sesama perempuan. Namun sepertinya kita sama-sama paham bahwa urusan hati ini bukanlah keputusan kita sendiri. Selalu ada Tuhan yang menyertai, Dia-lah satu-satunya pemilik kekuatan yang melintasi kalbu.

Satu-satunya yang bisa ku kendalikan, Danila, adalah jarak antara aku dan dia. Sesungguhnya kan bisa saja aku tak mempedulikanmu, toh kamu bukan sahabatku ataupun kawan baikku. Alasanku melontar apologi adalah, sebab aku melihat kekhawatiranmu di seberang sana. Seolah-olah aku adalah monster yang siap merebut kekasihmu kapan saja. Tidak Danila, kau keliru.

Ketahuilah Danila, cinta itu sesungguhnya hanya ada untukmu. Sekian lama, sekian banyak waktu yang ku habiskan bersamanya, bahkan barangkali lebih banyak waktu si kekasih ini bersamaku ketimbang bersamamu. Tapi kemudian aku sampai pada peraduan waktu yang membuatku mengerti bahwa cinta itu tidak pernah hadir untukku.

Ya, salahku pernah mengikhtiarkan cintanya. Tapi itu kan menurutmu, di antara kita bertiga tidak ada yang saling mengikat kan? Kau tak pernah mengikat janji dengan kekasih, begitu pun aku. Kita barangkali sama-sama tengah mengusahakan itu, dan… dan aku sudah memilih menyerah, Danila.

Ku kembalikan dia pada sang waktu, pada Sang Maha. Barangkali memang dia ditakdirkan membersamaimu atau mungkin bersama orang lain. Ku harap kita berada pada tataran pasrah yang sama, sehingga narasiku ini memiliki arti bagimu. Bahwa sesungguhnya sejak awal pasrah adalah tempatku berpijak. Aku mengikhtiarkan cintanya, di saat aku tahu ada kamu beserta masa lalumu dengannya. Bahkan kamu jauh melingkupi dimensi ini, Danila.

Aku begitu pasrah ketika rasa ini hadir, pada lelaki yang… yang aku tahu ia tak sendiri. Aku mengikhtiarkan cinta pun, tak pernah memaksa. Bagiku, segalanya tak pernah lepas dari kehendak semesta termasuk segala kebersamaan kami. Sebab aku berpijak pada pasrah, maka aku sangat sadar bahwa itu semua bisa saja tak berhasil. Beginilah ujungnya, sekali lagi, berhentilah gelisah.

‘BUMI MANUSIA’ dan… Glorifikasinya?

MV5BZWFmN2Q1YjQtMWQ0Ny00Njk0LWE3ZTItMmU1ZmUyYjExMGYzXkEyXkFqcGdeQXVyNzY4NDQzNTg@._V1_

IMDB

Kepopuleran film BUMI MANUSIA sebetulnya tidak pernah begitu saya perhatikan sih. Setidaknya sejak pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke yang jadi kontroversi itu sampai ramainya kata ‘Darsaaam!’ yang wara-wiri di Twitter, semua cuma jadi angin lalu bagi saya.

Namun di balik itu semua, saya tetap nggak ingin melewatkan film ini. Sebab? Sebab seorang kawan saya yang mengaku ‘Pramisme’ sejati sampai ogah banget nonton film ini. Menurutnya, film BUMI MANUSIA (BM) ini mereduksi semangat Pram yang tertuang dalam novelnya. Mereduksi seperti apa? Semangat macam apa yang dimaksud? Saya yang bukan pembaca novel-novel Pram ini jadi penasaran banget. Begitulah awal mula keinginan nonton BM ini tersulut.

Berangkatlah saya ke Mandala pada Jumat malam dan nonton pukul 20.20 WIB. Itu pertama kalinya saya nonton film jam segitu, actually. Setelah lalui perjalanan hampir sejam gara-gara macet di sekitaran UB dan kena omel “Lama sekali anda?”, akhirnya saya duduk di deretan kursi B dengan manjiah.

Satu setengah jam. Sejujurnya hanya satu setengah jam saya mampu bertahan nonton film ini. Sisanya? Saya glibak-glibuk sendiri antara ngantuk dan kedinginan. Setiap kali saya merem, setiap kali juga sebelah saya bangunin. Mau nggak mau tetap nonton meski… saya sudah sangat terganggu dengan glorifikasinya.

Setidaknya, saya berhasil nyelesein film ini meski sambil merem melek. Sejumlah poin jadi kesan saya pribadi, di antaranya:

Glorifikasi Cinta-Cintaan

fp minke 2
Yup, nggak tahu kenapa, gombalan-gombalan semacam “Kamu cantik seperti bidadari nggak ada tandingannya,” itu bikin tenggorokan saya seketika nyeletuk “Hedeeeh…” sambil memutar kedua bola mata. Ini kenapa nuansa-nuansa Dilan ada di sini sih?

Belum lagi Ann dikisahkan sakit yang cuma bisa di-dokter-in sama Minke. Ya Rabb… Ini Dilan, eh, Minke, Minke udah mirip sama Fahri bagi Maria di AYAT-AYAT CINTA (AAC) kan? Mau bilang Ann sebagai bucin tapi saya sadar diri saya pun sebucin itu. Saya tahu betapa sophisticatednya cinta antara pria pribumi dan wanita berdarah separuh Eropa dengan berbagai rintangannya. Namun, buat saya, perjuangan cinta ini berputar-putar pada pencarian status.

Lihat saja, apa sih romantisme dari Minke dan Ann yang benar-benar bisa ngena di hati kecuali saat akhirnya Ann harus budal ke Eropa dan tinggalkan pesan-pesan di akhir film? Gombalan, surat-surat yang dituliskan oleh Nyai Ontosoroh demi kebahagiaan putrinya, ijin menginap yang emang atas otoritas Nyai Ontosoroh, dll. Sebagian besar by design Nyai Ontosoroh.

Bahkan adegan ketika Minke menunjukkan surat legalisasi pernikahannya di hadapan Ann yang lagi asyik merem itu juga… swt (baca: sweat alias cape’ deh) banget. Paling bikin iri sih waktu Minke sama Ann kelar ena-ena, mereka malah diselimuti dong sama Nyai. Kalau bukan fiksi, yang ada malah diselimuti omelan panjaaang.

Dobrakan Nyai Ontosoroh

FP MINKE 3
Sebelum film dimulai, sosok di sebelah saya bilang “Tokoh sentral di film ini tuh Nyai Ontosoroh.” Mendengar itu saya mengernyitkan dahi, sebab selama ini saya pikir Nyai Ontosoroh adalah kekasih Dilan, eh, Minke. Ternyata dugaan saya salah besar dan mas sebelah saya ini bener adanya. It’s all about her.

Sosok nyai yang tegas, independen, cantik, cerdas, bijaksana, punya pemikiran yang bebas, serta sayang banget sama keluarga itu rasa-rasanya sangat mustahil benar-benar ada di jaman itu. Kultur Jawa yang disertai kentalnya patriarki dan marjinalisasi wanita tentu sudah lebih dari cukup jadi alasan untuk kemustahilan itu.

Namun nyai, yang juga diuntungkan sebab dinikahi Si gendat Herman itu punya kesempatan berkembang bahkan menjadi penguasa. Piye sist? We gak pengen rabi ambek bule sugih ae tiwas lanangan kakean aturan patriarki ala-ala syariah iku mbok gandoli teros? Astaghfirullah, afwan ughteaa

Nyai Ontosoroh adalah cerminan dari banyak hal. Ia adalah cerminan dari pribumi beserta semangat perlawanannya. Ia adalah cerminan dari semangat feminisme lewat segala kekuatannya baik secara finansial maupun secara batin. Maksud saya, batin wanita mana yang nggak ajur punya keluarga se-ajur itu? Dia nggak milih lari dari itu semua.

Minke Si Pria Tak Bercela

FP MINKE 5
Selain pemikirannya untuk menjadi pribadi yang bebas dan ogah bergantung pada hidup enak yang ditawarkan oleh bokapnya, nggak ada tuh hal lain yang bikin saya terkagum-kagum sama Minke. Sosok ini digambarkan terlalu cemerlang. Pandai menulis, otak encer, ganteng, bisa mempesona cewek Indo dalam sekali tatap, romantis, dan pinter bahasa Belanda, itu semua rasanya jadi kelemahan film seperti glorifikasi ‘Fahri’ yang sempurna layaknya Nabi. Untung nggak disertai juga dengan Parjiah minta dinikahi Minke misalnya. Fix, jadi AAC 2 versi zaman kolonial nanti.

Namun di sisi lain, saya senang sih dalam film ini ditunjukkan banget bagaimana media punya pengaruh. Pada aspek ini, saya jadi teringat kekuatan media di film biografi MAHATMA GANDHI. Strategi perlawanan Minke nggak seperti kontruksi perlawanan kuno selama ini yang selalu soal angkat bambu runcing (wicis itu possible anet di jaman itu). Namun lewat kekuatan media, Minke melakukan provokasi, melakukan perlawanan, menggungah jiwa-jiwa kritis para pribumi.

Sisi Lain Penjajahan

FP MINKE 4
Saya nggak begitu tahu sih selama ini kolonialisme digambarkan seperti apa selain seperti yang tergambar dari film-film semacam JAKA SEMBUNG. Dalam film-film jadul itu, penjajahan adalah soal ngambilin istri orang-orang pribumi, kerja paksa, mengambil hak pendidikan, dan penarikan pajak tinggi.

BM jelas menunjukkan sisi lain. Ia menunjukkan betapa penjajahan itu kejamnya sampai pada pemberlakuan hukum yang bersifat pribadi. Apa yang kurang privat dari status perkawinan Minke dan Ann serta status ibu-anak antara Nyai Ontosoroh dan Ann? Hukum Eropa diberlakukan dan diplintir sedemikian rupa, demi? Kepentingan golongannya sendiri. Ujung-ujungnya, jika benar hal semacam ini terjadi waktu itu, kebayang nggak sih ada berapa banyak anak yang bernasib sama seperti Ann? Dipisahkan dari suami dan ibunya sendiri gara-gara legalitas bullshit itu.

Pentingnya Identitas

FP MINKE 6
Saya masih ingat, suatu pagi di CFD, saya bercerita bahwa saya pernah berada di fase mempertanyakan identitas diri sendiri. Pasalnya jelas, saya ini mau dibilang Jawa tapi putih dan sipit, tapi mau dibilang Tionghoa tapi kok jilbaban (sebuah simbol yang jauh dari keidentikan Tionghoa) dan berperilaku layaknya ‘priyayi’. Sosok yang dengerin cerita saya waktu itu cuma mengernyitkan dahi sambil bilang “Emang apa pentingnya indentitas semacam itu, hari gini?”

Memang pada akhirnya, hari gini banget identitas semacam itu udah nggak relevan. Terlebih keterbukaan pemikiran dan globalisasi sudah begitu masif. Namun melihat BM, saya jadi mikir kalau identitas pernah jadi penentu hidup dan nasib. Nggak ada seorang pun yang bisa memilih untuk terlahir jadi pribumi, european, maupun berdarah campuran saat itu. Lucunya, klasifikasi itu gampang banget ditentuin dari muka sama pakaian, nggak ruwet tuh pake legalitas bla bla gitu.

Overall saya nggak punya kesan yang terlalu melekat sama BM, sebab menurut saya semua serba tanggung. Terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan. Terlebih akting dan dialog yang kaku. Duh, saya berharap tidak terlahir di Jawa saja waktu nonton ini, sebab dengan begitu urusan dialog bahasa Jawa Mawar De Jongh yang mukenye bule abis itu nggak mengganggu. Saya sebagai penonton sebagian film Hanung rasanya kangen sama filmnya yang bercita rasa tinggi semacam… LENTERA MERAH, mungkin?

Wacana Soal ‘Cewek Matre’ Itu… BASI BANGET!

images.jpeg

Credit: naukrinama.com

Waktu saya masih ABG dulu, rasa-rasanya gencar banget wacana soal Cewek Matre. Dari dulu, hingga sekarang definisi saya cuma satu, Cewek Matre adalah perempuan yang menjadikan urusan materi itu sebagai kriteria utamanya dalam menilai pria. Nggak cuma dulu sih, sampai sekarang wacana soal ini masih terus ada.

Entah kenapa ini kemudian tampaknya berkembang jadi peyoratif di masyarakat. Bahkan sampai ada lagu yang liriknya “Cewek matre, cewek matre ke laut aje.” Ah, elah, kliatan tuanya kan? Ini lagunya 8Ball judulnya Cewek Matre. Seinget saya lagu ini populer di tahun 90an hingga 2000an awal.

Ya, peyoratif. Seolah-olah cewek yang matre itu suatu hal yang hina. Padahal bisa jadi ini cuma konstruksi para pegiat patriarki biar pandangan ‘matre’ ini nggak tumbuh subur di masyarakat. Alih-alih kerja keras dan buktikan diri bahwa lelaki selalu bisa bersaing dalam hal mengejar materi, lebih baik matikan saja perspektif ‘matre’ ini, selesai urusan. Ini sih cuma dugaan sok tahu saya saja lho, tahan…. jangan emmosi jiwa anda~

woman with credit card and shopping bags

Di sisi yang lain, dengan definisi matre yang sudah saya jabarkan di awal tadi, saya sendiri sebetulnya nggak sepakati pandangan ini. Sesederhana materi bisa dicari dan sudah dijamin oleh Allah SWT, maka menaruh urusan materi sebagai prioritas kok rasanya kurang bijak. Terlebih kalau CUMA lihat materi, ini jelas menyalahi prinsip saya yang melihat apa-apa tidak boleh dangkal. Menilai satu individu yang super duper kompleks pada satu aspek saja? Big No, No.

Pandangan tersebut bahkan diinisiasi oleh papa saya sendiri. Saya masih ingat, lebaran kemarin, ada seorang pria bertitle ‘Paskhas AURI’ yang datang ke rumah bersama keluarganya. Niat mereka adalah berta’aruf. Dalam pidato sambutannya, papa saya menekankan bahwa yang paling penting adalah rasa. “Biarkan mereka berdua (diriku dan mas itu) saling mengenal secara natural. Karena bukan soal harta pak, bu, yang terpenting adalah kehadiran rasa di antara mereka dulu,” ujar Papa.

Yang kemudian nggak kalah masif adalah wacana soal ‘Cewek itu ya emang harus matre!’. Pandangan ini bahkan dianut juga sama para wanita lho! Saya sering sekali dulu ditanya sama teman kos setiap kali pulang ngedate. Dia bilang, “Dibayarin nggak mbak? Ha? enggak? Idih kalo aku sih ogah diajak keluar kalo nggak dibayarin.” Bagi saya ini lucu. Pria yang nggak segan kasih dompetnya saat kami ngedate juga nggak kalah lucu. Nggak pernah tuh saya sentuh dompetnya.

1456675742-1456621309-1456621214-vo-chong-tien-1

Wacana tersebut juga menjamur dengan berbagai legitimasi. Mulai dari harus memastikan prianya bisa menafkahi sang anak kelak sampai kita sebagai wanita sudah dibesarkan dengan limpahan harta oleh keluarga. Ini, sungguh nggak pernah bisa saya pahami. I mean pemikiran soal itu perlu, tapi bukankah itu dipikirin kalo udah pada pengen nikah? Sementara nikah adalah usaha bersama bukan? Nggak relate men, kalo mo nikah cuma semata mikirin materinya doang.

Lucunya, seperti judul tulisan ini, yang nggak kalah banyak adalah cowok matre. Setidaknya menurut pengalaman saya sih. Jika ‘matre’ itu hina, ada aja tuh pria yang memilih jadi hina di tengah kemapanan ideologi patriarki di negara ini.

Fakta ini nggak masif di wacana publik, dugaan saya sebab fenomena ini akan disikapi serupa dengan pelecehan seksual. Para korban pelecehan seksual kenapa jarang mau bercerita? Saya sendiri sebagai yang pernah mengalami pelecehan merasa enggan cerita sebab saya takut publik akan membodoh-bodohkan dan menyalahkan saya. Saya takut orang akan bilang “Salah’e gelem,”, “Salah bajumu itu,”, atau “Yo koen sing goblok, meneng ae koen?”. It was.

Barangkali, para korban cowok matre ini juga enggan cerita ke publik sebab khawatir mendapat reaksi serupa. “Yo koen sing goblok. Lanangan kere mbok openi,” semacam itulah. Ia akan disalahkan, bukan prianya yang disalahkan. Sebab apa? Sebab mapannya patriarki. Patriarki meletakkan pria selalu benar, selalu berkuasa, termasuk ketika mereka matre. Sementara perempuan dibilang bodoh dan lemah termasuk ketika mereka di-matre-in. Gimana menurutmu?

Menjadi ‘Jani’

Heboh-Penampakan-Fahrani-Pawaka-Empel-Bintang-Radit-dan-Jani-Kini-Botak-dan-Penuh-Tato-Ingatkan-Netter-dengan-Sheila-Marcia-1

Film memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana aku memandang dunia, salah satunya memandang kehidupan anti kemapanan. Maka nggak heran kalau pembaca kerap kali menemukan semangat feminisme dalam tulisan-tulisan saya sebab feminisme adalah satu dari sekian banyak bentuk perspektif anti kemapanan yang menarik bagi saya.

Selain feminisme, semangat yang sama juga saya temukan di sejumlah film, salah satunya dalam film RADIT DAN JANI. Bukan film baru memang, tapi pesan dan konstruksi film ini masih terus melekat di benak saya, bahkan kerap kali saya interpretasikan lagi dan lagi seiring dengan perkembangan diri saya sendiri.

Termasuk di masa sekarang ini. Saat ini, saya merasa sedang menggebu-gebunya mendobrak hal-hal mapan. Setidaknya, yang terakhir saya memberontak pada nilai ‘misuh’ yang dipenuhi tendensi gender. Kini, perjalanan hidup membawa saya lebih dari sekedar melontar anti kemapanan dalam wacana, tapi juga dalam pilihan-pilihan.

Melihat diri saya yang seperti ini (maksudnya penuh kecupuan), barangkali sulit untuk percaya jika saya menjadi Jani. Dalam film RADIT DAN JANI, Jani digambarkan sebagai sosok wanita dari keluarga mapan yang memilih untuk menikah dengan Radit. Setelah menikah, kehidupan sebagai pasangan yang anti kemapanan mereka jalani. Tentu, saya tidak betul-betul menjadi Jani beserta kehidupannya, tapi menjadi Jani dalam psikologis berpasangan. Atau setidaknya menjadi Jani versi saya sendiri.

10-potret-perubahan-penampilan-fahrani-radit-dan-jani-ini-bikin-syok-180313q

Jani yang mencintai Radit. Jani yang mau memahami pemikiran Radit yang nyeleneh. Jani yang mau menemani Radit yang tengah sakau. Jani yang tahu bahwa hidup dengan Radit tidak akan mudah. Intinya menjadi Jani yang dihadapkan pada pilihan anti kemapanan.

Berkali-kali saya menanyakan pada diri saya sendiri, apakah ini pilihan yang tepat? Atau karena keinginan dicintai yang muncul sesaat? Mungkinkah nasib saya pun akhirnya sama seperti Jani yang menyerah pada realitas hidup, menyerah mempertahankan pilihan anti kemapanannya?

Pada titik ini saya begitu merasa seperti kucing yang selama ini berpura-pura menjadi singa. Betapa tidak, saya begitu getol menyuarakan wacana-wacana anti kemapanan sekaligus mengkritisi nilai-nilai yang sudah mapan di masyarakat. Namun ketika ditantang menjadi Jani, dihadapkan pada anti kemapanan yang sesungguhnya, saya mengkeret.

Selain anti kemapanan, perspektif lain yang juga getol saya tanamkan adalah memandang semua manusia sama. Ini pun, tampak kemudian jadi senjata makan tuan.

Melihat manusia sebagai individu yang sama ini berarti memandang manusia sebagai makhluk yang sejatinya punya porsi hidup yang sama. Sama berat bebannya, sama juga berat rejekinya. Saya nggak tahu juga pemikiran ini dipantik oleh filsuf siapa tapi saya meyakininya saja seiring dengan mengobservasi orang-orang di sekitar.

jaswanto.-film-radit-dan-jani

Bagi saya, meski yang dihadapi seorang pengemis dan seorang pengusaha itu berbeda, tapi pada hakekatnya berat beban dan rejeki mereka sama. Artinya begini, bisa jadi beban materiil yang dihadapi pengemis lebih besar dibanding dengan beban materiil pengusaha. Namun bisa jadi juga rejeki yang tidak berupa materi si pengemis ini lebih besar ketimbang si pengusaha. Maka sejatinya, keduanya imbang. Kita semua paham kalau baik materi dan non materi keduanya penting bagi keberlangsungan hidup kita kan?

Belum lagi jika dipandang dari perspektif ke-akhirat-an atau ke-hamba-an, maka sesungguhnya malah nggak ada lagi konsep materi dan non materi tadi, yang ada cuma iman, amal, akhlak, yang sejatinya cuma bisa dinilai oleh Tuhan YME.

Saya terperangkap, hidup seperti menantang saya untuk betul-betul bisa memandang Radit sebagai manusia yang sama. Apakah saya mampu? Semesta seolah berucap “Hei Tan, jangan cuma berani kritisi sana-sini, berani nggak kamu jalani hidup betul-betul seperti perspektifmu itu?”

Namun saya percaya, setiap orang menghadapi battle-nya sendiri-sendiri sebab pada hakikatnya hidup adalah soal perjuangan. Jika pun tidak bersama Radit, tapi bersama Tidar misalnya, saya akan tetap menghadapi berbagai problematika yang sama-sama butuh perjuangan.

Membaca itu semua, barangkali nggak sedikit yang bilang saya naif. Iya, naif sudah seperti nama tengah saya kok.

Alasan Saya ‘Misuh’

Swearing-at-work-1

Credit: Scandikitchen.co.uk

Barangkali, bagi yang sudah mengenal saya dengan baik, hafal banget bahwa saya lebih sering mengucapkan ‘jancuk’ ketimbang ‘Astaghfirullahaladzim’. Terutama saat saya kesandung misalnya.

Kebiasaan ini, tentu nggak lepas dari kritik banyak orang, kawan baik saya salah satunya sebut saja Hari. Ia bisa dibilang yang paling sering habiskan waktu bersama saya, bahkan saat kami sudah tinggal di pulau yang berbeda begini. hampir 10 tahun berkawan, nggak heran kalau dia sudah semacam makanan sehari-hari mendengar saya misah-misuh.

Yang barangkali nggak dipahami oleh Hari maupun kawan-kawan yang lain, saya selalu punya alasan atas segala perilaku, termasuk perilaku misuh ini. Ada banyak malah, haha…

Pertama, bagi saya, misuh adalah bentuk pemberontakan pada konstruksi sosial. Orang selalu bilang bahwa perempuan nggak pantas misuh, nggak boleh misuh, nggak baik misuh, dll. Belum lagi perempuan misuh’an bakal dianggap sebagai perempuan nggak bener, perempuan nakal, perempuan yang mulutnya kotor, dll. Konstruksi ini nyatanya bukan cuma tertanam di benak orang-orang timur saja, tapi juga di barat.

mg_swearing_comp

Credit: Metro.co.uk

Saya cuma berpikir, atas dasar apa sekelumit kata-kata ini menjadi haram bagi separuh jumlah penduduk dunia? Toh, kita semua paham bahwa pada hakikatnya seluruh kata adalah netral. Bagi saya, mengumpat itu hasrat naluriah manusia. Orang bebas mau mengekspresikan itu lewat kata apapun, termasuk kata ‘jancuk’, ‘bgsd’, maupun ‘jmpt’. Begitupun dengan perempuan.

Lagian, kalau memang hasrat mengumpat itu naluriah dan kata-kata di atas cuma halal diucapkan pria, lantas perempuan kalau pengen mengumpat harus pakai kata apa? Pake ‘Astaghfirullahaladziim’? Kurang kearifan lokaaal kaaak, terlalu Arabiancentric.

Saya selalu percaya, ketika Sudjiwo Tedjo kerap menyapa para followersnya dengan ‘Cuk’ bahkan nggak segan mengungkap ‘Jancuk’ di wacana-wacananya, ia tahu bahwa itu bukan semata karena dia adalah pria. Ia tahu juga bahwa followersnya nggak semuanya lakik. Menurut saya, itu semua sebagai cara Presiden Jancukers ini membumi-ramah-kan kata ‘Jancuk’.

Sudjiwo juga sekaligus menyadarkan bahwa kata bisa jadi tidak bebas nilai, tapi kita bisa mengkonstruksi nilainya, semau kita. Termasuk Sudjiwo yang barangkali memaknakan Jancuk sebagai bentuk keakraban, dll. Sementara saya, jelas, memaknakannya sebagai pemberontakan.

merlin_148679712_66f85b3d-2a23-40d2-97ee-76a30004cdf0-jumbo

Credit: New York Times/Melinda Beck

Lewat Jancuk dan kawan-kawannya itu saya ingin tunjukkan bahwa hegemoni patriarki ini nggak berlaku buat saya, setidaknya dalam berekspresi. Lahir, tumbuh, dan hidup di tanah ini sudah pasti kehidupan saya bakal berada di jalur patriarki dalam seluruh fase kehidupan (maksudnya fase menjadi remaja sampai dewasa, single dan menikah, dll). Namun saya menolak tunduk jika berurusan dengan kebebasan berekspresi.

Tentu, tumbuh dan berkembang di bawah didikan orang tua yang menerapkan standar perilaku ‘Priyayi’ yang dioplos dengan ‘Islam konservatif’, saya nggak pernah dibolehkan misah-misuh. Alih-alih dibiarkan mengumpat, bilang ‘Sontoloyo’ aja saya udah auto kena setrap. Artinya, misah-misuh saya ini bukan berarti saya nggak pernah diajarin orang tua cara ‘njogo tutuk’ yang baik. Bahkan ada semacam doktrin bahwa perilaku ini identic dengan masyarakat kelas bawah.

Namun, di sisi yang lain saya menyadari bahwa kebiasaan ini nggak boleh terus-terusan dipelihara. Saya cukup merasa egois ketika masih terus begini setidaknya sampai saya punya anak misalnya. Saya menyadari, mengumpat ini sama seperti nafsu yang lain, yang seharusnya mampu ditahan atau setidaknya disalurkan dengan bijaksana. Adakah ide untuk itu?

Entahlah saya akan terus melakukan pemberontakan ini sampai kapan. Misi saya jelas sih, saya ingin orang-orang berhenti menyematkan hak-hak bertendensi gender pada kata-kata tertentu. Itu saja.

Rumah Tiada Dua

BeautyPlus_20160912172248_save

Dulu waktu masih remaja, saya sering sebel sama rumah saya yang berada di pelosok desa. Soalnya jelas, rumah ini jauh dari pusat kotanya Nganjuk. Waktu SMP, saya kalau sekolah aja harus naik sepeda dulu abis gitu dilanjut naik bis. Mau nongki cantique, ato sekedar jalan-jalan di pusat pertokoan juga harus menempuh 13 km. Sebel pokoknya.

Selain itu, saya juga sering diejekin temen-temen sekolah. Mereka sering bilang kalau di sekitar rumah saya nggak ada Indomaretnya jadi udah fix ndeso banget. Belum lagi waktu SMA, sakit ati tuh waktu dibilang “Rumahmu kan kabupaten, cah kabupaten kowe.” Hem, sedih.

Kalau inget itu semua, pengen ketawa sendiri. Lha gimana, kini justru lokasinya yang berada di desa ini malah bikin nyaman, bikin kangen. Ya namanya rumah, bukannya selalu begitu? Tentu. Kalau dipikir-pikir lagi, betapa beruntungnya setiap kali pulang kayak berasa liburan yang sesungguhnya. Dari rumah aja bisa melihat hamparan hijaunya sawah, menghirup udara segar, dan mendengar gemerisik suara daun bambu yang terterpa angin. Syahdu kan? Belum lagi suara angin kencang yang begitu mudah dimaklumi. Nggak ada duanya memang.

 

20160718_130543

Bangun tidur, duduk-duduk doang di teras, sepaket yang saya sebutin di atas itu udah tersedia di tambah secangkir teh Earl Grey. Jalanan masih sepi, yang ada cuma beberapa petani yang naik sepeda pelan-pelan sambil saling bersenda gurau. Suara burung mulai memecah dingin, diiringi dengan suara sapu para tetangga yang saling bersahutan.

Sementara langit masih gelap. Pelan-pelan fajar muncul semburat di antara awan-awan sisa hujan semalam. Ya, semalam hujan deras sampai-sampai para katak masih ada yang suarakan bahagianya di subuh hari. Mereka melompat-lompat di atas barisan lubang tanah kecil yang terbentuk akibat tetesan air dari genting.

Syahdu belum usai, subuh dihangatkan pula oleh sapaan orang-orang yang lewat. Mereka yang memandangi dari jalanan, bergelut dengan ragu sambil membatin “Ini mbak Tantri bukan ya?” gara-gara saya yang emang lama nggak pulang. Hingga akhirnya bodo amat dengan itu, mereka lantas melontar “Monggo mbak,” atau kalau ada yang sudah yakin, mereka akan menambahkan “Kapan dugi mbak?” Sebuah basa-basi yang khas, yang tentu nggak nemu beginian di kompleks kosan di Malang.

Nonton ‘LOVE FOR SALE’, Disadarkan Akan Resiko Memenangkan Hati

hqdefault

(Credit: id.bookmyshow.com)

Jumat malam (5/4) kemarin, Saya nonton film LOVE FOR SALE. Entah kenapa ya, semenjak bekerja, saya jadi males banget nonton tayangan-tayangan yang bikin mikir. Film detektif, film omnibus yang sarat kandungan kritik sosial, ataupun video-video youtube yang bertema politik itu semua adalah tontonan favorit saya. Namun makin hari, semua itu makin ogah saya sentuh. Saya jadi lebih seneng cari-cari film komedi ataupun tayangan receh semacam youtubenya Raffi Ahmad sampai MLI.

Barangkali saya cuma lagi butuh hiburan saja. Oh iya, kembali ke film LOVE FOR SALE. Memilih film ini pertimbangan utamanya adalah, ini produksi Visinema, rumah produksi milik Angga Dwimas Sasongko, sosok yang saya idolakan. Angga pernah bilang bahwa LOVE FOR SALE adalah salah satu karya dimana ia nggak lagi ‘menyetir’ dan memaksakan idealismenya. Dalam proses kreatif film ini, ia membebaskan para kru untuk mengekspresikan ide-de. Hasilnya, film ini berhasil berjaya di FFI dan festival-festival lain.

Sebagai orang yang selama ini sedikit mengikuti karya-karya Angga Sasongko, terasa sekali perbedaan LOVE FOR SALE dibanding film-film Angga sebelumnya. Saya selalu menemukan misi-misi yang berbau aktivis, kritik sosial, serta makna yang mendalam di film-film Angga, kecuali film HARI UNTUK AMANDA -yang emang kerjasama dengan MNC-.

Sebut saja CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU, dalam film ini jelas, persoalan-persoalan yang timbul dari kerusuhan ia angkat. Biografi serta semangat besar tokoh Sani betul-betul menampar banyak orang, betapa dedikasi dan keyakinan membawa pada perwujudan mimpi.

Begitupun dengan SURAT DARI PRAHA. Berangkat dari persoalan sejumlah orang yang kewarganegaraannya nggak diakui oleh negara, ada kisah cinta yang tersibak dan melahirkan sebentuk romantisme unik antara Larasati dan Jaya. Angga seolah menunjukkan serta mengingatkan bahwa kepentingan politik dampaknya sampai ke ‘hati’, sampai ke hubungan yang berbuntut panjang.

Review-Film-Sarah-Sechan-Curi-Perhatian-di-Film-Bukaan-8

(Credit: apabedanya.com)

Nuansa yang sama juga terkandung dalam film BUKAAN 8. Menurut saya, film ini diinspirasi oleh pengalaman dan kesan Angga semenjak punya Rigen, putranya. Saya sedikit tahu bahwa Angga merasa bahwa Rigen mengubah hidupnya dengan drastis, termasuk idealismenya. Maka nggak heran kalau BUKAAN 8 mengandung pesan betapa perjuangan seorang ayah yang miskin tapi idealis serta diremehkan mertua itu nggak main-main menjelang kelahiran si jabang bayi. Tokoh Alam Merdeka digambarkan sebagai sosok yang doyan mengkritik dan keluarkan statemen-statemen kontroversial di twitter. Terkait politik tentunya. Nggak jauh-jauh deh dari beginian.

Namun LOVE FOR SALE beda. Ya sudah pasti, wong sutradaranya beda, bukan Angga. Tapi di bawah Visinema, saya mengira akan tetap ada nuansa khas ala Angga yang tersemat, tapi ternyata tidak. Satu-satunya rasa yang terus melekat adalah, kesan yang mendalam. Ya, bagi saya, meski sudah menanggalkan isu-isu politik beserta idealisme kritik, film ini tetap tinggalkan kesan mendalam, sampai saya bisa menyelaminya lagi dan lagi.

Kisahnya cukup absurd dan ringan, tentang Richard di bujang lapuk dan Arini si teman kencan sewaan. Sudah bisa ditebak, meski awalnya mereka terlibat sebagai klien dan penyedia jasa, cinta tumbuh nggak terelakkan. Lalu Richard mulai mantap melamar, dan puff… Arini pergi seolah menyadarkan bahwa ini semua hakikatnya soal akad profesional.

Yang masih terngiang hingga sekarang adalah kata-kata Richard, bahwa mencintai itu mengandung resiko. Ini, justru sangat menampar saya yang kerap kali naif kalau sudah cinta.

fheadline jerawat

Barangkali, kesan mendalam atas film ini cuma gara-gara saya lagi sedih sebab sosok yang saya cintai tetiba bilang bahwa saya bukan tipenya. Tentu, hati mana yang nggak terkejut, nggak kalut, nggak ingin cepat-cepat kukut? Sama seperti Richard, seharusnya saya selalu ingat bagaimana ini semua berawal, dan barangkali muaranya akan sama, sebab begitulah resikonya. Bukan menjadi tipenya pun juga resiko.

Saya kerap kali mensimplifikasi bahwa ketinggian derajat saya sebagai manusia salah satunya terletak pada membela perasaan saya sendiri, menikmati dan hidup dengan segala emosi dan perasaan saya, termasuk perasaan mencintai seseorang. Naif pada persoalan ini, saya rasa sah-sah saja sebab toh ini cuma melibatkan saya sendiri, jika hal buruk terjadi tidak akan merugikan orang lain.

Saya selalu merasa, dalam berbagai hal ada banyak sekali motif yang memarjinalkan kedudukan sebagai manusia, makhluk berperasaan. Urusan pekerjaan, harus bermotif ekonomi, berkompromi sana-sini. Urusan pendidikan, lagi-lagi dituntut untuk ikuti sistem yang jelas-jelas penuh kepentingan, saya harus berkompromi lagi. Urusan beragama, aturannya dibikin seabreg, padahal dibikin simple pun bisa wong urusannya sama Yang Maha Kuasa. Segala urusan hidup deh, pokoknya saya harus ikuti aturan dan sistem, nggak bisa seenak ego saya sendiri.

E19_beinghuman-620x350

(Credit: india-forum.com)

Maka, soal hati, soal perasaan, soal mencintai saya ingin memenangkannya dan ogah kompromi-kompromi lagi serta ogah pusingin resiko-resiko yang siap datang. Yes, cinta itu buta, cinta itu naif, bagi orang-orang yang hidup di dunia yang menciptakan konsep buta dan naif. Tapi bagi makhluk yang tercipta dari kasih, dibesarkan dengan kasih, maka memiliki kasih dan membela perasaannya sendiri adalah hal biasa dan nggak perlu dihina-hina.

Maka di sinilah saya, senasib dengan Richard, menikmati resiko dan kembali sendiri lagi. Di akhir film Richard bilang “Mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan. Tapi ku kira mengambil resiko tak pernah ada salahnya.” Tentu, meski seperti ditampar sebab diingatkan soal resiko, kalimat terakhir dari kutipan itu serasa menepuk-nepuk punggung hati saya, seolah menguatkan bahwa saya telah berani mengambil resiko untuk memanusiakan diri saya sendiri.