Angan Tentang Senja di Usia Senja

images (2)

Pada banyak waktu, bahkan di sela-sela hadirnya pria lain yang datang silih berganti, ada satu pria yang terus menetap atau setidaknya kalaupun ia pergi, perginya nggak jauh-jauh dan pasti akan kembali. Kalau pergi dia nggak pamitan, tapi begitu datang lagi ia minta dimaklumi. Tentu, aku maklum, toh memangnya aku ini siapa minta dipamiti? Pemakluman ini biasanya akan disambut dengan “Alhamdulillah, trimakasih ya.”

Menjalani hari dengan pria ini memang tidak pernah pasti. Tidak pasti kapan akan betul-betul mendapatkan perhatiannya, kala tidak cuma aku wanita yang hadir di hidupnya. Tidak pasti harus berinteraksi seperti apa, kala kami tidak sekedar saling melontar tatap di setiap pertemuan. Tidak pasti pula apa yang terpatri dari keberadaan kami, kala pada banyak kali kami berjauhan lalu baper-baperan.

Namun dari semua ketidakpastian, aku bisa memastikan satu hal bahwa aku dan dia kelak akan menjadi orang yang paling bisa menikmati senja dengan sepenuh kehangatan di sisa-sisa usia tua… jika berkesempatan. Ya, dari segala fase hidup manusia entah kenapa aku memilih untuk memastikan fase yang paling ujung, paling akhir.

Bagaimana bisa aku memastikan itu? Sulit untuk dijelaskan.

images (1)

Orang bilang, di masa tua, tidak banyak yang bisa dilakukan sebab selain fisik yang melemah, fase yang memang harus dijalani adalah masa tua. Masa dimana sakit-sakitan jadi teman, ketenangan sudah serupa rindu harian, meditasi dan kontemplasi jadi kesukaan, dan kematian adalah takdir yang terus berkelebat di pikiran serta ambisi sudah sejauh mungkin ditepikan.

Di masa yang sudah lelah dan dipenuhi oleh pasrah itu, aku bisa membayangkan salah satu alasan untuk tetap hidup dan tidak menyianyiakan detik-detik terakhir adalah senja yang terlewati bersama dia. Senja indah, dan kami berdua juga tak kalah indah.

Burung berpulang memecah udara yang semakin dingin, sementara kami duduk berdua memecah hening. Masih tetap sama, lengan kiriku melingkari lengan kanannya. Daguku tersandar di bahunya. Bedanya, lenganku kini lebih lemah dan lebih kurus. Barangkali lapisan daki ada di antaranya, sebab tentu aku sudah nggak sanggup lagi membersihkan diri dengan lulur lavender favoritku. Wangiku pun sudah tak lagi disponsori oleh Marc Jacobs Daisy Honey, tapi sudah berganti jadi wangi minyak angin yang suka ku oleskan di hampir sekujur tubuh demi mendapatkan kehangatan paripurna. Rambutku sudah tak lagi hitam tebal dan sehat. Yang ada cuma rambut putih yang sudah mulai tipis, tergelung rapi.

Sementara dia, sudah tak lagi memakai sweater slimfit ala Korea yang biasa dipadu dengan kemeja di dalamnya. Dia jelas lebih memilih jaket rajut berkancing berwarna khaki yang agak kedodoran dipadu dengan syal hitam penahan angin dingin. Saat aku merubah posisi dagu jadi sedikit lebih menepi, ia memandangiku sambil tersenyum. Senyumnya tak lagi melengkung sempurna, sebab giginya juga nggak genap lagi, hampir habis malah. Ya, tentu sekedar menghabiskan waktu sore bersamaku tidak perlu pasang gigi palsu biar senyumnya paripurna.

images (3)

Angin sore itu memaksa kami untuk bertoleransi demi jadi penikmat senja sejati. Sekedar merinding sesaat sudah biasa, kini aku harus menanggung bersin dulu, sementara dia berkali-kali mengusap hidung yang kedinginan. Duh, menjadi tua begini amat sih.

Kami memecah hening dengan memulai pembicaraan soal burung yang menghiasi langit. Aku yang menua ini nyatanya masih begitu penasaran dengan hewan-hewan sekitar selayaknya bocah yang mempertanyakan kenapa suara kucing itu ‘meong’.

“Hun, coba lihat burung-burung itu,”
“Iya, kenapa memangnya?” tukasnya sembari meletakkan secangkir kopi Bali favorit yang barusan disesap.
“Mereka terbang bergerombol tapi bisa rapi begitu ya,”
“Iya, entah itu membentuk pola apa,”
“Kok bisa gitu ya? Ada insting apa di antara mereka?”
“Entahlah, tapi coba lihat, mereka menuju ke satu pohon besar,”
“Iya ih, pada ngapain?”
“Ya pulanglah Bun, sore-sore begini kalo nggak pulang mo kemana lagi?”
“Sok tahu deh. Kalau cuma pulang ngapain rame-rame?”
“Kalo bisa pulang barengan, ngapain pulang sendirian?”
“Iki lho mesti, aku nanya beneran jawabnya mesti guyon,”
“Kan mereka keluar kandang buat cari makan. Begitu kenyang, urusannya kelar. Ya udah, perginya barengan pulangnya juga barengan,”
“Nggak gitu, maksudnya mereka tuh semacam hidup secara kolektif gitu ta? Secara ilmiah gitu lho Hun,”
“Yo nggak tahu, Bun. Kamu i mesti lho nanya gini ke anak Satra Inggris,”
“Mesti bawa-bawa jurusan,”
“Lhaiyo kamu yo mesti nanya’e aneh-aneh. Aku sebagai sarjana sastra sejak puluhan tahun lalu mesti kudu menghadapi pertanyaan-pertanyaanmu sing embuh. Kamu kok gak nyari tempat labuhan segala pertanyaanmu itu ke pria lain se? Yang barangkali lebih banyak tau,”
“Nggak, ngapain juga. Mereka nggak ngerti soal Dangdut, Bunda Rita, ataupun mama Iis Dahlia,”

Mendengar itu dia terbahak nyata. Terkekeh-kekeh sampai bahunya bergetar membuatku tak nyaman dan lantas terbangun. Jemari tangan kananku yang lemah mencoba meraih perutnya untuk ku cubit. Namun alih-alih sampai ke perut, tangan kirinya sudah menyambut jemariku duluan, dan menggenggam hangat.

wtstw37srykuc5h3qaotcylpevdfxyb29ftmke6xzrdddrewcdy9efogr9kn69cw-

Angan-angan seperti ini, hanya ku temukan padanya. Seorang teman pernah bilang bahwa menua itu pasti, sepasti segala permasalahan hidup lain yang juga akan hadir silih berganti. Dari segala kekhawatiran yang barangkali bisa diselesaikan jika kami bersama, kekhawatiran akan hari tua saja yang paling ingin ku pastikan. Entah pula mengapa demikian.

Sayangnya, tentu, di awal sudah ku katakan bahwa ini semua indah adanya jika berkesempatan. Nyatanya tidak, kami tidak berkesempatan. Barangkali aku lupa, untuk sampai pada senja di usia senja itu, ada jalan panjang yang harus dilalui, harus dipikirkan. Jangankan sampai, jalannya saja nihil adanya.

Rumah Tiada Dua

BeautyPlus_20160912172248_save

Dulu waktu masih remaja, saya sering sebel sama rumah saya yang berada di pelosok desa. Soalnya jelas, rumah ini jauh dari pusat kotanya Nganjuk. Waktu SMP, saya kalau sekolah aja harus naik sepeda dulu abis gitu dilanjut naik bis. Mau nongki cantique, ato sekedar jalan-jalan di pusat pertokoan juga harus menempuh 13 km. Sebel pokoknya.

Selain itu, saya juga sering diejekin temen-temen sekolah. Mereka sering bilang kalau di sekitar rumah saya nggak ada Indomaretnya jadi udah fix ndeso banget. Belum lagi waktu SMA, sakit ati tuh waktu dibilang “Rumahmu kan kabupaten, cah kabupaten kowe.” Hem, sedih.

Kalau inget itu semua, pengen ketawa sendiri. Lha gimana, kini justru lokasinya yang berada di desa ini malah bikin nyaman, bikin kangen. Ya namanya rumah, bukannya selalu begitu? Tentu. Kalau dipikir-pikir lagi, betapa beruntungnya setiap kali pulang kayak berasa liburan yang sesungguhnya. Dari rumah aja bisa melihat hamparan hijaunya sawah, menghirup udara segar, dan mendengar gemerisik suara daun bambu yang terterpa angin. Syahdu kan? Belum lagi suara angin kencang yang begitu mudah dimaklumi. Nggak ada duanya memang.

 

20160718_130543

Bangun tidur, duduk-duduk doang di teras, sepaket yang saya sebutin di atas itu udah tersedia di tambah secangkir teh Earl Grey. Jalanan masih sepi, yang ada cuma beberapa petani yang naik sepeda pelan-pelan sambil saling bersenda gurau. Suara burung mulai memecah dingin, diiringi dengan suara sapu para tetangga yang saling bersahutan.

Sementara langit masih gelap. Pelan-pelan fajar muncul semburat di antara awan-awan sisa hujan semalam. Ya, semalam hujan deras sampai-sampai para katak masih ada yang suarakan bahagianya di subuh hari. Mereka melompat-lompat di atas barisan lubang tanah kecil yang terbentuk akibat tetesan air dari genting.

Syahdu belum usai, subuh dihangatkan pula oleh sapaan orang-orang yang lewat. Mereka yang memandangi dari jalanan, bergelut dengan ragu sambil membatin “Ini mbak Tantri bukan ya?” gara-gara saya yang emang lama nggak pulang. Hingga akhirnya bodo amat dengan itu, mereka lantas melontar “Monggo mbak,” atau kalau ada yang sudah yakin, mereka akan menambahkan “Kapan dugi mbak?” Sebuah basa-basi yang khas, yang tentu nggak nemu beginian di kompleks kosan di Malang.

Nonton ‘LOVE FOR SALE’, Disadarkan Akan Resiko Memenangkan Hati

hqdefault

(Credit: id.bookmyshow.com)

Jumat malam (5/4) kemarin, Saya nonton film LOVE FOR SALE. Entah kenapa ya, semenjak bekerja, saya jadi males banget nonton tayangan-tayangan yang bikin mikir. Film detektif, film omnibus yang sarat kandungan kritik sosial, ataupun video-video youtube yang bertema politik itu semua adalah tontonan favorit saya. Namun makin hari, semua itu makin ogah saya sentuh. Saya jadi lebih seneng cari-cari film komedi ataupun tayangan receh semacam youtubenya Raffi Ahmad sampai MLI.

Barangkali saya cuma lagi butuh hiburan saja. Oh iya, kembali ke film LOVE FOR SALE. Memilih film ini pertimbangan utamanya adalah, ini produksi Visinema, rumah produksi milik Angga Dwimas Sasongko, sosok yang saya idolakan. Angga pernah bilang bahwa LOVE FOR SALE adalah salah satu karya dimana ia nggak lagi ‘menyetir’ dan memaksakan idealismenya. Dalam proses kreatif film ini, ia membebaskan para kru untuk mengekspresikan ide-de. Hasilnya, film ini berhasil berjaya di FFI dan festival-festival lain.

Sebagai orang yang selama ini sedikit mengikuti karya-karya Angga Sasongko, terasa sekali perbedaan LOVE FOR SALE dibanding film-film Angga sebelumnya. Saya selalu menemukan misi-misi yang berbau aktivis, kritik sosial, serta makna yang mendalam di film-film Angga, kecuali film HARI UNTUK AMANDA -yang emang kerjasama dengan MNC-.

Sebut saja CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU, dalam film ini jelas, persoalan-persoalan yang timbul dari kerusuhan ia angkat. Biografi serta semangat besar tokoh Sani betul-betul menampar banyak orang, betapa dedikasi dan keyakinan membawa pada perwujudan mimpi.

Begitupun dengan SURAT DARI PRAHA. Berangkat dari persoalan sejumlah orang yang kewarganegaraannya nggak diakui oleh negara, ada kisah cinta yang tersibak dan melahirkan sebentuk romantisme unik antara Larasati dan Jaya. Angga seolah menunjukkan serta mengingatkan bahwa kepentingan politik dampaknya sampai ke ‘hati’, sampai ke hubungan yang berbuntut panjang.

Review-Film-Sarah-Sechan-Curi-Perhatian-di-Film-Bukaan-8

(Credit: apabedanya.com)

Nuansa yang sama juga terkandung dalam film BUKAAN 8. Menurut saya, film ini diinspirasi oleh pengalaman dan kesan Angga semenjak punya Rigen, putranya. Saya sedikit tahu bahwa Angga merasa bahwa Rigen mengubah hidupnya dengan drastis, termasuk idealismenya. Maka nggak heran kalau BUKAAN 8 mengandung pesan betapa perjuangan seorang ayah yang miskin tapi idealis serta diremehkan mertua itu nggak main-main menjelang kelahiran si jabang bayi. Tokoh Alam Merdeka digambarkan sebagai sosok yang doyan mengkritik dan keluarkan statemen-statemen kontroversial di twitter. Terkait politik tentunya. Nggak jauh-jauh deh dari beginian.

Namun LOVE FOR SALE beda. Ya sudah pasti, wong sutradaranya beda, bukan Angga. Tapi di bawah Visinema, saya mengira akan tetap ada nuansa khas ala Angga yang tersemat, tapi ternyata tidak. Satu-satunya rasa yang terus melekat adalah, kesan yang mendalam. Ya, bagi saya, meski sudah menanggalkan isu-isu politik beserta idealisme kritik, film ini tetap tinggalkan kesan mendalam, sampai saya bisa menyelaminya lagi dan lagi.

Kisahnya cukup absurd dan ringan, tentang Richard di bujang lapuk dan Arini si teman kencan sewaan. Sudah bisa ditebak, meski awalnya mereka terlibat sebagai klien dan penyedia jasa, cinta tumbuh nggak terelakkan. Lalu Richard mulai mantap melamar, dan puff… Arini pergi seolah menyadarkan bahwa ini semua hakikatnya soal akad profesional.

Yang masih terngiang hingga sekarang adalah kata-kata Richard, bahwa mencintai itu mengandung resiko. Ini, justru sangat menampar saya yang kerap kali naif kalau sudah cinta.

fheadline jerawat

Barangkali, kesan mendalam atas film ini cuma gara-gara saya lagi sedih sebab sosok yang saya cintai tetiba bilang bahwa saya bukan tipenya. Tentu, hati mana yang nggak terkejut, nggak kalut, nggak ingin cepat-cepat kukut? Sama seperti Richard, seharusnya saya selalu ingat bagaimana ini semua berawal, dan barangkali muaranya akan sama, sebab begitulah resikonya. Bukan menjadi tipenya pun juga resiko.

Saya kerap kali mensimplifikasi bahwa ketinggian derajat saya sebagai manusia salah satunya terletak pada membela perasaan saya sendiri, menikmati dan hidup dengan segala emosi dan perasaan saya, termasuk perasaan mencintai seseorang. Naif pada persoalan ini, saya rasa sah-sah saja sebab toh ini cuma melibatkan saya sendiri, jika hal buruk terjadi tidak akan merugikan orang lain.

Saya selalu merasa, dalam berbagai hal ada banyak sekali motif yang memarjinalkan kedudukan sebagai manusia, makhluk berperasaan. Urusan pekerjaan, harus bermotif ekonomi, berkompromi sana-sini. Urusan pendidikan, lagi-lagi dituntut untuk ikuti sistem yang jelas-jelas penuh kepentingan, saya harus berkompromi lagi. Urusan beragama, aturannya dibikin seabreg, padahal dibikin simple pun bisa wong urusannya sama Yang Maha Kuasa. Segala urusan hidup deh, pokoknya saya harus ikuti aturan dan sistem, nggak bisa seenak ego saya sendiri.

E19_beinghuman-620x350

(Credit: india-forum.com)

Maka, soal hati, soal perasaan, soal mencintai saya ingin memenangkannya dan ogah kompromi-kompromi lagi serta ogah pusingin resiko-resiko yang siap datang. Yes, cinta itu buta, cinta itu naif, bagi orang-orang yang hidup di dunia yang menciptakan konsep buta dan naif. Tapi bagi makhluk yang tercipta dari kasih, dibesarkan dengan kasih, maka memiliki kasih dan membela perasaannya sendiri adalah hal biasa dan nggak perlu dihina-hina.

Maka di sinilah saya, senasib dengan Richard, menikmati resiko dan kembali sendiri lagi. Di akhir film Richard bilang “Mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan. Tapi ku kira mengambil resiko tak pernah ada salahnya.” Tentu, meski seperti ditampar sebab diingatkan soal resiko, kalimat terakhir dari kutipan itu serasa menepuk-nepuk punggung hati saya, seolah menguatkan bahwa saya telah berani mengambil resiko untuk memanusiakan diri saya sendiri.

Bonus Yang ‘Lain’ Nggak Kalah Membahagiakan

Ultimate_Guide_Holiday_Bonus

Siapa sih yang nggak suka sama bonus? Sudah pasti semua suka-semua senang sama bonus. Sekali-kalinya dapat bonus sudah berasa jadi orang paling beruntung hari itu, mesam-mesem sendiri, kalau ingat ya bilang ‘Alhamdulillah’. Terlebih kalau udah gede begini, nggak cuma mampu beli chiki bonus mainan, tapi bisa juga beli sepatu bonus kaos kaki. Meski cuma kaos kaki, batin ini nggak bisa ditahan untuk bergumam “lumayan nih,” yhaaa khaan?

Yang lumayan-lumayan ini macam-macam bentuknya. Udah nggak jaman bonus kaos kaki. Yang lagi sering itu bonus berupa potongan untuk pembelian berikutnya, yang sebetulnya nggak lebih dari strategi biar customer belanja lagi dan lagi. Tentu, bonus-bonus begini motifnya ekonomi, nggak ada makan siang gratis kan? Tapi toh bodo amat, yang penting hepi :)))

Bagi saya, bonus memang menyenangkan, tapi bonus yang didapat dalam bentuk lain jauh dan sangat jauh lebih membahagiakan. Seperti yang saya dapat malam ini (27/3). Bonus itu berupa kesempatan.

Ya, malam ini saya mengunjungi sebuah toko baju di daerah Soekarno-Hatta. Bukan toko baju bermerek dan bergengsi, sama sekali bukan. Letaknya nyelip di gang sempit, bentuknya semacam rumah yang pagarnya ditutup. Kebayang kan kalau customer mengiranya toko ini tutup? Sepi sekali malam itu, saya jadi satu-satunya pembeli.

Saya masuk, dan mendapati seorang penjaga toko lagi mengaji. Kegiatan itu terhenti begitu saya datang. Salting tentu, tapi saya langsung pura-pura milih-milih baju padahal saya mau beli tas. Ya, toko ini jualan tas juga meski sebetulnya koleksi majornya baju dan celana.

Singkat cerita penjaga toko ini kemudian melayani. Ia adalah seorang wanita paruh baya yang ramah dan asyik abis. Saya yang super duper rewel cuma dalam rangka milih model dan warna tas ini ia ladeni sepenuh hati.

graphicstock-children-writing-and-reading-illustration_H_6N6Fg3l_SB_PM

Kelar milih tas dan baju (sungguh, sulit untuk nggak nambah ini), saya lantas ke meja kasir untuk membayar. Ibu ini lagi yang ngurusi. Hingga akhirnya saya tertegun saat beliau ngodein minta ditolongin.

“Iki tulisan e opo mbak? Gak ketok aku,” tuturnya sambil menyodorkan price tag tas yang mau saya beli. Mau dicatat rupanya. Saya langsung membacakan dan beliau tampak sulit untuk menulis.

“Tak tulisno kene buk,” ujar saya sambil mengambil alih polpennya. Ternyata toko ini pakai cara manual dalam pencatatan keluarnya barang dagangan. Juga nggak ada struk, nggak ada nota atau apapun itu namanya sebagai bukti pembelian.

Saat menuliskan tas dan baju yang saya beli di catatan, saya melihat tulisan ibu ini betul-betul seperti tulisan bocah yang baru belajar menulis. Huruf yang ukurannya nggak seragam, sampai nulisnya nggak selalu nempel di garis-garis buku.

Saya betul-betul baru tahu ada penjaga toko macam begini di jaman yang rasanya apa-apa serba canggih serba digital. Oke urusan menulis selesai, waktunya bayar. Saya keluarkan kartu debit, nggak salah dong sebab di situ emang ada mesinnya.

“Nggak iso pake ngunu iku mbak, pake uang ae,” pinta ibu ini.
“Lha iki onok mesin e ngene buk,” tukas saya ngeyel.
“Gak iso aku makenya. Lagian ini emang nggak pernah dinyalakan,” imbuhnya.

Oke saya pasrah, harus tarik tunai dulu ini. Setelah berdebat kecil soal Indomaret mana yang ada ATMnya sama beliau, saya akhirnya gas motor ke Alfamaret. Perdebatan yang sia-sia sih.

two-friend-girls-with-shopping-bags_gg83988435

Usai tarik tunai dan balik lagi ke toko, saya bayar. Beliau sampaikan permohonan maaf karena bikin saya repot.

“Maaf lho mbak, wes minta ditulisin, nggak bisa gesek lagi bayarnya. Lhaio gimana sih yang punya toko ini, saya nggak bisa apa-apa kok disuruh jaga. Abis yang punya toko ini pergi ke Surabaya selama seminggu mbak,” ujarnya sekalian curhat.

“Nggak papa buk. Lak gak ngene sampean gak eling aku,” kata saya separuh perez sambil cengengesan. Beliau tampak senang dengan kedatangan customer yang ngoceh mulu bak burung beo ini, sampai-sampai saya dianterin hingga luar pagar. Entah ini bagian dari service yang bermotif ekonomi juga apa tidak, tapi bagi saya bonusnya bukan itu.

Ya, bisa mengetahui bahwa masih ada ibu-ibu yang susah membaca dan menulis itu adalah bonus. Bisa membantunya menulis itulah bonus. Perdebatan kecil yang seru dan berujung sia-sia soal ATM itulah bonus. Singkatnya, bertemu dan menjalani beberapa menit bersama ibu ini adalah bonus.

Barangkali sederhana dan tidak penting, tapi bagi saya pengalaman bertemu ibu ini sungguh membahagiakan. Entah ya, conversation kami begitu genuine, rasanya kayak bukan orang asing sampai beliau sempat-sempatnya curcol dan saya sempat-sempatnya perez. Yang begini ini, seberapa mungkin terulang di toko-toko yang lain? Yang barangkali penjaganya keburu males melihat kedatangan customer sing ketok gak gablek duit begini.

Saya sampai berjanji pada ibu ini untuk datang kembali. “Tak parani maneh ya buk emben-emben, gak blonjo tapi, nyambangi sampean,” tutur saya sebelum menstarter motor sambil mesam-mesem bahagia.

The Art of Relationship

 

picasmosaic033 REVV

Sebetulnya, meski saya berkali-kali dekat dengan pria, tidak banyak yang bisa bertahan lama. Terakhir kali setidaknya sekitar 2008 sampai 2010 silam. Sudah lebih dari 10 tahun lalu, lama banget kan? Iya, lama.

Kali ini, pengalaman yang sama terulang. Setidaknya sejak 2017 silam. Jika dulu saya memaknai kedekatan dengan pria berarti kesialan, maka kali ini berbeda. Ya, dulu saya memutuskan mengakhiri hubungan sebab kalau dipikir-pikir betapa sial saya sebagai manusia biasa yang lemah pada hasrat, harus selalu terbelenggu pada keinginan-keinginan maksiat. Saya merasa begitu lelah menghadapi ujian-ujian hasrat itu.

Kali ini saya memaknai kedekatan dengan pria sebagai proses tumbuh bersama. Sampai pada pemaknaan ini, tentu tidak serta merta. Di tulisan saya sebelumnya, saya memaknainya sebagai permainan roller coaster semata. Entah kenapa, saya nggak mau berhenti memaknai lagi dan lagi. Bisa jadi hubungan ini terlalu berarti, bisa jadi juga saya cuma ogah hubungan ini akan berakhir sia-sia. Sebab saya tahu, kami tidak akan hidup bersama dalam institusi keluarga.

Tumbuh bersama. Ya, meski baru beberapa bulan, ada banyak pendewasaan yang saya dapat dari hubungan ini. Tidak lagi sekedar senang-senang disertai drama yang aduhai bapernya. Tidak lagi cuma saling lempar gombalan yang sebetulnya sudah seperti latihan merangkai diksi belaka. Bagi saya, justru letak sesungguhnya dari hubungan ini adalah pada sisi pendewasaannya.

picasmosaic035

Dulu, saya begitu kaku memaknai banyak hal, salah satunya tentang sikap orang lain pada saya. Hal remeh saja, semacam telat menjemput bisa saya bikin panjang. Saya bisa ngomel dan nelangsani hal itu sepanjang jalan, merelasikannya dengan integritas sampai merelasikan betapa gara-gara telat doang itu ngaruh ke jadwal saya yang lain.

Kekakuan saya itu ternyata nggak bisa selalu berlaku dalam hubungan. Saya ternyata harus memahami, nggak melulu maunya dipahami. Dulu, saya ngomel saya marah sebab saya selalu berpijak pada objektivitas. Semua orang tahu betapa telat itu suatu hal yang salah, maka amarah saya sangat boleh dan wajar. Tapi ternyata hidup nggak melulu begitu.

Objektivitas, barangkali jadi hal yang harus ditepikan dalam hubungan. Justru the art of relationship adalah saat kita bisa memandang dan menyikapi apa-apa yang terjadi dalam hubungan dengan cara pandang kita sendiri. Cara pandang dan sikap ini nggak melulu ditentukan oleh norma dan nilai sosial. Ada pengertian, pemakluman, meski tak hilangkan juga keinginan untuk saling membangun. Betapa sampai pada sekedar sikap menghadapi telat menjemput saja butuh sebuah kebijaksanaan yang tidak sederhana bukan?

Ya, kebijaksanaan ini sementara terimplementasikan pada hal-hal semacam pemakluman atas sifat super duper moody contohnya. Saya beneran nggak pernah tahan sama beginian, dulu. Bagi saya, sifat moody itu sangat egois, terlebih jika tidak dikomunikasikan. Sebagai orang komunikasi saya terbiasa bilang kalau saya lagi bad mood, semisal saat PMS atau haid. Saya terbiasa memberitahu orang-orang dekat bahwa saya lagi PMS dan meminta pemakluman. Itu, itu pula yang saya harap dilakukan oleh orang lain.

 

picasL-p4572 REV 2

Tapi kenyataannya tidak. Saya bisa jadi sansak omelan ataupun jadi sasaran kata-kata pedas atas harinya yang buruk. Saya bisa sangat sebal bahkan super uring-uringan kalau sudah begitu. Namun untungnya hal seperti ini nggak selalu berujung panjang. Lama-lama saya paham, hari buruk bisa menimpa kapan saja, dan bad mood hanya perlu dimengerti. Apa sih yang dibutuhkan? Bukan kesebalan, tapi barang kali semacam elus-elus punggung secara virtual. Bahkan diam bisa jadi sangat membantu. Ya, nggak usah tanya apa-apa, biarkan saja diam menjadi jarak hingga ia betul-betul sembuh dan siap kembali menyapa.

Itu baru satu dari seabreg pendewasaan yang saya alami. Masih ada yang lain, tapi pada dasarnya semua mengajarkan tentang memahami dan tidak tergesa. Ya, tidak tergesa. Saya ini orangnya super panikan, susah untuk tenang. Saya bisa langsung berpikir macam-macam cuma karena sehari saja nggak dichat. Tapi lama-lama saya jadi paham bahwa apa-apa dilihat pada hakikatnya. Hakikat hubungan itu apa sih? Apa iya hubungan berarti harus selalu terhubung? Terhubung secara virtual misalnya? Apa bijaksana menyandarkan pada itu semata? Tentu tidak kan?

Ya, sejujurnya sampai titik ini pun saya masih belum bisa mengatakan apa itu hakikat relationship. Mau dibilang sebagai ajang tumbuh bersama, tapi kadang pun kami masih begitu senang menjadi anak-anak. Mau dibilang sebagai sekedar permainan tapi kok rasanya terlalu banyak pendewasaan yang sama-sama dialami. Barangkali, barangkali saja lho ini, hakikat hubungan adalah proses pemaknaan lagi dan lagi yang berhadiah kebijaksanaan diri.

Salahkah Jika Aku Masih Hidup di Zamanmu?

dd202_2_cover_image_1

Pulang selalu torehkan cerita tersendiri pada setiap kalinya, tak terkecuali pada pulang kali ini. Mengambil cuti pertama setelah 3 bulan bekerja, rasanya sudah lama sekali saya pulang nggak leha-leha. Ya, mama sempat protes dulu sebab sekali-kalinya pulang, saya masih saja ngumek kerjaan. Ternyata begini rasanya ambil cuti.

Cerita kali ini bukan cerita yang baru sebenarnya, hanya saja baru saya renungkan, baru tahu harus memaknainya seperti apa. Jadi begini, setiap kali saya pulang, mama dan papa saya selalu curhat soal gadget atau hal-hal lain yang berhubungan dengan teknologi. Seperti contohnya papa yang curhat kala handphonenya nggak bisa menyimpan file unduhan, atau mama yang bingung dengan caranya nyambungin laptop ke internet.

Papa cerita kalau berkali-kali harus service handphone, yang ujungnya juga diflashin mulu. Sementara mama, yang masih bekerja, permasalahannya jauh lebih kompleks dari sekedar nyambungin wifi. Dalam pekerjaannya yang mulai harus melek teknologi, beliau dituntut untuk kuasai cara menggunakan email, menggunakan seabreg aplikasi (mulai dari aplikasi rujukan pasien, sampai aplikasi laporan bidan), hingga bikin laporan-laporan yang pakai ms. Word dan Excel.

blog_feature_IT_Careers_072015

Bagi bidan-bidan muda, tentu itu semua memudahkan sebab apa-apa tinggal pencet, tapi bagi mama saya, sekedar memahami logikanya saja, butuh kerja keras. Ya, setiap teknologi memiliki logika, simbol, dan pemahamannya masing-masing kan? Tentu dinas kesehatan nggak sebodoh itu menerapkan penggunaan teknologi tanpa ada pelatihan, tapi pelatihan ini hanya sampai pada tataran hapalan. Akibatnya? Akibatnya, saat mama saya mendapati cara-cara yang dihapalkan itu nggak bekerja dengan baik, beliau bingung dan nggak tahu harus gimana. Padahal jika lebih paham konstruksi dasar dari tindakan-tindakan dari sekedar mencet ctrl+S saja misalnya, banyak hal yang nggak jadi rumit.

Maka kemudian, saya jadi teringat pada materi stand up ‘MESAKE BANGSAKU’ Pandji Pragiwaksono. Bahwa salah satu kelompok minoritas di negeri ini adalah para lansia. Sebab minoritas, maka banyak kebijakan yang nggak berpihak pada orang-orang lansia seperti mama saya termasuk kebijakan soal teknologi ini. Saya selalu teringat pada hakikat teknologi adalah apa-apa yang mempermudah hidup manusia, tapi jika seperti ini, manusia yang mana yang dimudahkan? Manusia mayoritas maksudnya? Bidan-bidan muda itu maksudnya?

Tentu mengumbar gerutu nggak akan berujung pada apapun, toh kalau soal ini, barangkali batinmu berkata “Udah lansia kok masih kerja.” Ya, memang, seharusnya mama saya di rumah saja menikmati masa pensiun yang sesungguhnya itu nggak akan lama lagi. Hanya saja, saya rasa perlu dievaluasi soal kebijakan penggunaan teknologi ini. Mama saya tentu bukan satu-satunya bidan yang mengalami masa-masa transisi penggunaan teknologi saat sudah sepuh.

web-information-technology-it-support

Transisi ini bagi saya cukup massif. Bukan sekedar digitalisasi dokumen saja yang barangkali Cuma repot di pelaporan. Kalau Cuma begitu, pergi ke rental computer saja bisa kan? Transisi ini meliputi banyak hal seperti yang sudah saya paparkan di atas, jelasnya lebih menuntut kemadirian, seperti seyogyanya tujuan munculnya teknologi. Bidan dituntut untuk bisa kirim laporan via email sendiri, rujuk pasien sendiri pakai aplikasi, dll. Itu semua berada di posisi ‘harus’, nggak ada pilihan lain. Can you imagine?

Kalau sudah begini, saya jadi perpikir bahwa definisi kerja keras-banting tulang itu nggak melulu tergambarkan oleh banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan atau banyaknya tanggung jawab yang harus ditanggung. Kerja keras bagi mama saya barangkali berarti memahami dan beradaptasi dengan teknologi masa kini.

Kalau sudah begini, saya juga jadi teringat pada kata-kata Nagabonar dalam film ‘NAGABONAR JADI 2’. Kalimat itu begitu menyentuh, berbunyi “Salahku, aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit kumengerti, tapi berupaya kupahami karena aku mencintaimu, Bonaga…” Ya, memahami teknologi hingga sesusah payah ini, barangkali adalah perwujudan cinta mama pada saya. Betapa beliau masih harus terus bekerja demi terus menyekolahkan saya yang tak kunjung lulus ini.

Berdamai Dengan Ketidakcantikan, Berdamai Dengan Society

fheadline jerawat

Suatu hari di grup WA yang berisi teman-teman dekat semasa kuliah, ada kawan mengirim foto sepasang pengantin. Seorang yang lain tiba-tiba nyeletuk “Tak kiro manten wedok e Tantri,” tulisnya. Saya yang penasaran, langsung download foto itu dan menemukan bahwa memang agak sedikit mirip. Sontak saya membalas “Yo ayuan mbak iku,”. Seketika grup ramai dengan replyan “wkwkwk”, “hahahaha”, bahkan emote LOL. Ada yang membalas “Yo jelaslah, lawas”, ada juga yang nggak segan bilang “Kalau kamu cantik, kamu nggak mungkin berteman sama kita-kita,”.

Itu bagi saya biasa, menjadi tidak cantik adalah keseharian saya. Karenanya, saya juga super maklum ketika orang-orang berkomentar begitu.

Saya menyadari bahwa saya tidak cantik, setidaknya menurut standar yang dikonstruksi media sekaligus diyakini orang-orang Indonesia. Bukan cuma ginuk, tapi saya juga berwajah penuh jerawat. Iya, siapa sih yang mau peduli bahwa saya punya kulit super oily plus hormon yang hih suka bikin jerawat muncul itu? Paduan kulit oily dan hormonal, adalah duet combo untuk hidup dengan jerawat nggak ilang-ilang.

Ya, barangkali sebagian batinmu berkata “Perawatan dong,”. Siapa yang mau peduli juga dengan seabreg dokter beserta cream-creamnya yang sudah saya jajal? Toh, saya sih kadang-kadang percaya bahwa uang berbicara, artinya kalau saya punya uang banyak untuk perawatan wajah, muka saya paling mendingan deh.

fp jerawat 5

Toh sejauh ini juga saya sudah baca-baca soal berbagai perawatan yang dilakukan spesialis kulit untuk atasi jerawat, mulai dari injeksi serum sampai fractional laser. Semua itu secara ilmiah tentu bisa dipertanggungjawabkan, tapi ya sekaligus nggak murce. Susah bagi saya menjangkau perawatan-perawatan itu dengan kantong pas-pasan ini. Maka dari itu, saya memilih berdamai dengan menelateni treatment yang bisa saya jangkau. Nggak ampuh memang, jerawat tetap muncul, tapi ya ini yang bisa saya lakukan.

Selain itu dokter sendiri bilang bahwa sebelum saya tua dan menopouse, saya bakalan terus berjerawat. “Ada juga beberapa orang yang memang secara genetik berjerawat,” tambahnya seolah menekankan bahwa saya kemungkinan was born with theeese pimple.

Nggak cuma berdamai dengan itu, saya juga berdamai dengan segenap pengalaman yang saya punya gara-gara jerawat. Mulai dari disambati ibu sendiri, sampai ditawari pergi ke dukun. Nih lebih jelasnya:

1. Disambati Ibu Sendiri
Setiap kali pulang ke rumah, mama saya selalu bilang “wajah e jerawaten,”, “sumpek aku delok wajahmu, jerawaten terus,” dan lalin-lain. Intinya nyambati jerawatan. Ibarat sedih itu ada levelnya, di nomor inilah kesedihan paling puncak yang saya rasakan. Tapi ya sudah, beliau tahu kok effort saya bagaimana selama ini.

2. “If only you had a face as smooth as yours on the picture”

fp jerawat 3
Kalimat ini betul-betul keluar dari tenggorokan seorang kawan saat kami selesai berfoto di tepi Pantai Batu Bengkung. Ia mengatakan itu sambil memandang foto selfie kita berdua yang memang pakai beautify. Saya waktu itu ketawa aja. Si kawan satu ini memang unik, padahal beberapa waktu sebelumnya dia bilang lebih senang lihat wajah saya tanpa make up, ini sungguhan lucu.

3. Diusap Kain Leluhur

fp jerawat 1
Ide tersebut muncul dari seorang asisten rumah tangga di kos saya waktu masih di Soekarno-Hatta. Kala itu saya lagi nungguin gojek di teras, tetiba ia datang dan ikutan duduk. Entah ada angin apa, dia memandang wajah saya seraya bilang “Coba kamu cari kain mbah buyutmu, terus usapin ke muka. Pasti wajahmu bersih nanti,”. Mendengar itu saya antara bengong dan pengen ketawa. Saya iyain aja deh biar cepet.

4. Didukunin

ilustrasi-paranormal-dukun_20180205_204321

Masih ide yang datang dari ART, bedanya ini ide dari ART waktu saya ngekos di Jl. Karyawiguna belakang Kampus UMM. Saat itu saya lagi patah hati berat, patah hati pertama sebagai mahasiswa kalau nggak salah. Sontak, jerawat saya muncul rame banget kayak arisan kan kalau lagi stress tuh.

Saya yang lagi enak-enak masak indomie, tetiba disamperin sama ibu ART yang sudah lumayan sepuh. Beliau bilang pakai bahasa Jawa khas Banyuwangi yang intinya “Mbak, ke dukun aja ta? Nanti wajahmu jadi bersih, bersinar-sinar kayak diamond. Bikin lelaki itu nyesel mbak, pasti dia mau balik nanti,”. Saya yang memang susah judes sama tiyang sepuh, cuma menolak sambil ketawa.

5. Jeritan MUA

fp jerawat 4
Bebapa tahun lalu, sepupu saya menikah di masjid Agung Surabaya. Saya jelas seperti biasa, didapuk jadi mbak-mbak penjaga souvenir. Dateng subuh-subuh ke venue, lalu ketemu MUA. Baru ngelihat muka saya, dia sudah berteriak “Duh jerawaten! Jerawat e uakeh lho iki,”. Betul-betul berteriak, sampai mama saya di ruangan sebelah denger. Ia juga berkali-kali ngingetin asistennya yang makein foundation ke wajah saya, dia bilang jangan sampai jerawatnya kelihatan. Hem, senyumin aja sih, hahahaha

6. Muka Kayak Pembantu
Yang satu ini, literally terlontar dari sahabat baik saya sendiri, seorang lelaki yang kemana-mana sering sama saya dulu. Saya nggak inget gimana asal muasalnya dia bilang begini, yang saya inget cuma waktu itu kami lagi di koridor dekat kantor jurusan. Dia bilang wajah saya jerawatan dan kayak pembantu. Saya marah waktu itu. Bagi saya merendahkan profesi tertentu itu bukan hal baik.

7. Dimodusin Pedagang Sabun
Ini yang baru bulan lalu saya alami. Waktu itu saya naik grab car, abis pulang dari Bromo. Sengaja bare face, mulai dari berangkat sampai pulang. Saya lagi liburan dan ogah diribetin sama make up, sesimpel itu alasannya.

Dari kaca mobil yang di atas itu, pak driver memandangi saya. Beberapa kali kegap, hingga akhirnya beliau bilang “Mbak, mbak yang jilbab ijo, udah lama jerawatan?”. Saya bilang “udah” sambil bodo amat gara-gara capek banget.

Tampak nggak menyadari keengganan saya mengobrol, driver melanjutkan hasrat bicaranya. “Istri saya jualan sabun Amorea. Itu ampuh lho mbak, tetangga saya sekarang wajahnya bersih kalau pakai itu. Kalau mau tinggal WA saya aja mbak, kan ada ya nomor saya, tadi kan saya telpon,” tukasnya. Lagi-lagi saya iyain singkat, sambil sandaran di kursi, ngantuk.

8. Jomblo Karena Jerawat Ya?

fp jerawat 2
Lebaran 2 tahun lalu, saya lagi semobil sama tante dan om saya. Terjadilah pembicaraan soal saya yang masih jomblo-jomblo aja. Si Om bicara banyak, menduga-duga berbagai faktornya. Mulai dari kurang pergaulan, sampai muka jerawatan. “Itu memang jerawatan ya? Nggak bisa diilangin? Coba perawatan deh, aku dulu naksir tantemu karena wajahnya bersih dan pipinya merah,” celetuknya tanpa tendeng aling-aling.

Pada orang-orang seperti ini, yang saya tahu, mereka tidak betul-betul peduli. Mereka hanya berhasrat bicara, dan butuh ditanggap. Maka kemudian, saya mengambil strategi komunikasi ‘njupuk ngisor e’, alias jadi inferior. Intinya saya menanggapi dengan cara yang mereka harapkan.

Kedelapan peristiwa itu pada akhirnya saya terima dengan lapang dada, saya memilih berdamai dan memaklumi society yang memang manusia biasa, terbiasa dengan standar dan memandang apa-apa lewat mata belaka.

4 Laki-Laki dan 1 Tanggal di Bulan Juni

people-jumping-silhouettes-beach-water-reflections-sunset

Sebagai perempuan yang entah kenapa sejak kecil lebih nyaman bergaul dengan kaum adam, bersahabat dengan lelaki rasanya sudah sangat biasa. Karenanya, saya sering heran sama anggapan orang bahwa perempuan dan lelaki kalau bersahabat itu pasti friendzone alias ada salah satu yang naksir. Tapi di tengah keheranan itu, saya sendiri pernah buktikan kalau anggapan itu benar adanya hanya saja frekuensinya kecil. Katakanlah dari bersahabat dengan 5 lelaki, cuma 1 yang ada rasa ulala itu.

Bersahabat dengan lelaki mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa saya super cocok sohiban sama lelaki berzodiak Gemini. Eits, disclaimer dulu sebelum saya dihujat. Saya nih nggak percaya ramalan zodiac lho ya, dalam konteks ini saya Cuma memakai kategorisasinya saja. Saya sendiri berzodiak pisces, mungkinkah memang sudah banyak terjadi persahabatan antara pisces dan Gemini yang langgeng? Entah juga.

Setidaknya ada 4 lelaki berzodiak ini yang jadi sohib baik saya sampai sekarang. Sebut saja Mas Anin, Mas Dani, Mas Decki, dan Mas Tom. Keempatnya miliki pola interaksi yang berbeda, namun keempatnya adalah orang-orang yang paling bisa memahami isi otak saya.

Sebut saja mas Anin, dia itu sejak awal melihat saya bicara di salah satu forum, sudah semacam tau kalau saya berbeda. Saya inget banget waktu itu saya terlibat dalam forum di organisasi kampus yang diskusikan soal tema pameran foto. Saya lemparkan ide yang nggak popular, yakni tema tentang fasilitas umum. Maksud saya, dari pameran foto ini ada pesan yang ingin disampaikan yakni kritik pada pemerintah tentang fasilitas umum serta melihat bagaimana sih fasilitas umum ini dipakai, sudah sesuai kah atau gimana.

5188345441-9c4cb2febd-b-8cb6c49a4b514fab7b5e6144e37501e7-3d243d58774aeaeb1f153a58036d3cbf

Mendengar ide yang nggak popular itu, orang-orang di forum cuma bengong, dan barangkali mbatin anak semester 1 omongan e KYY (Koyok Yok-Yok o alias sok banget). Yang merespon dan mau mendatangi saya untuk diskusikan lebih jauh cuma 1, mas Anin. Semenjak itu mas Anin jadi salah satu temen diskusi paling nyambung soal organisasi dan leadership.

Kelar ketemu mas Anin di semester awal, saya lantas kenal dengan Mas Decki. Dia sudah seperti mentor saya sebab dia ngajarin saya banyak hal terutama tentang bersosial. Selain itu, ngomongin apa-apa yang idealis beserta hal-hal filosofis lainnya, saya super nyambunglah sama mas ini. Oia, soal ngajarin pentingnya bersosial, dia tuh kritik keengganan saya untuk ‘kumpul ambek menungso’. Ucapannya yang paling saya ingat adalah “Koen iku lapo se isin bersosial? Koen iku gak cacat, koen yo gak kere! Ganok alasan lho!”. Sungguh itu menohok sekali. Sejak itu saya mulai banyak perbaiki diri, mulai dari pola pikir sampai cara bajuan.

Kelar ketemu mas Decki, Tuhan pertemukan saya dengan mas Dani. Sebetulnya saya dan mas Dani ini sudah kenal dari awal kuliah, tapi baru benar-benar sohiban di semester-semester akhir. Mas Dani ini punya seabreg pertanyaan soal hidup yang sering dishare sama saya. Saya senang diajak menemukan jawabannya, sudah kayak nemu teka-teki silang yang berhadiah kapal. Kami setiap hari menukar pertanyaan, mulai dari apa saja resiko jika LGBT dilegalkan sampai kenapa orang marah-marah kalau dibilang gendut.

Selain itu, kami juga paling nyambung ngomongin soal analisis wacana kritis kala itu. Mas Dani juga sempat kasih saya buku tentang menjadi wanita sholehah di penghujung hari-harinya tinggal di Malang. Ya, 2015 silam ia saya lepas di stasiun Kota Baru untuk bertolak ke Jakarta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

2 tahun kemudian saya nggak sohiban sama lelaki Gemini, hingga akhirnya saya kenal sama mas Tom. Kami sebetulnya nggak punya persamaan apapun kecuali sama-sama nyambung. Mas Tom ini enak banget diajak ngobrol soal seni menulis karena kebetulan ia sarjana sastra. Selain itu ngobrolin soal gagasan-gagasan hasil observasi juga oke. Cuma dia memang semacam ogah ngomongin hal-hal spiritual dan pandangan politik sama saya. Barangkali karena berbeda tapi ya entah, dugaan saja sih. Tapi Mas Tom tetap sohib yang oke.

Yang kemudian baru saya sadari, keempatnya terlahir di tanggal yang sama di bulan Juni, yakni tanggal 3. Ulala, ada apa dengan tanggal 3? Bagi saya, ini unik sih saya bisa sohiban dengan lelaki bertanggal lahir sama dalam fase-fase yang berbeda. Apa kamu pun pernah alami hal serupa?

Saat Yang Lain Hujat Milenial, Ngalup Coworking Space Malah Jadi Sobat Kental

Beberapa waktu belakangan, milenial lagi jadi pembicaraan. Yup, mulai dari dasar pengkategoriannya sampai tingkah polah mereka, jadi perdebatan. Nggak salah sih, sebutan milenial tampaknya memang lagi menari-nari di permukaan benak para masyarakat, khususnya netizen.

Lantas, apa sih milenial itu sebenarnya? Dilansir dari tirto.id, para sosiolog membagi manusia jadi beberapa genarasi, yakni Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z. Lebih lanjut, masih menurut tirto.id, milenial merupakan kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980 sampai 1997. Jadi, apa kamu termasuk milenial gengs? Kalau saya sih iya, hehe..

Sebagai generasi milenial, saya sedih sebetulnya melihat ada banyak yang menghujat generasi ini. Milenial kerap dibilang nggak tau selera musik, taunya cuma musik-musik ala DWP. Ada juga yang bilang, milenial anaknya males-males, ogah kerja. Sekalinya kerja kok yo sambatan alias suka ngeluh. Duh! Milenial milenial, sekalinya hidup kok bisanya bikin geleng-geleng kepala aja.

ngalup.co_41955913_300581164103511_7096613471718866014_n

Salah satu kelas yang digelar Ngalup tentang membuat website. Kelas semacam ini wajib banget diikuti buat para Milenials yang mau usahanya go online (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Yang barangkali nggak dimengerti, kami, atau setidaknya saya, sebagai generasi milenial betul-betul berada di dua jaman yang berbeda. Pertama, saya ngerasain banget dibesarkan dengan sistem hidup, sistem pendidikan, yang berlaku di masanya, alias sistem-sistem yang dibikin berdasarkan pemikiran orang-orang jaman lawas.

Yup, orang-orang jaman lawas ini artinya orang-orang yang hidup di jaman orde baru. Menurut As’ad Muzammil dalam jurnal Potensia Volume 2, orang-orang di era tersebut berkarakteristik lemah, tidak berperan fragmentatif, ketakutan, disarkulatif dan involutif.

Kebayang banget dong kalau anak-anak seperti saya dibesarkan oleh orang-orang yang seperti itu? Beserta sistem hidup yang represif dan berciri ‘asal bapak senang’. Yes, boro-boro mikir break the rules, saya ngerasain banget apa-apa harus sesuai aturan, termasuk proyeksi masa depan.

ngalup.co_42003080_319384308794956_7029709981107830967_n

Kalau kelas yang satu ini adalah soal membangun merk lewat video, jadi peserta diajarkan mulai dari teori hingga praktik membuat video. Hem, sayang banget kan kalau dilewatkan? (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya nggak jauh-jauh dari profesi yang konvensional, semacam polisi, dokter, pilot, sama insinyur. Profesi-profesi yang sebetulnya dalam dunia nyata nggak jauh-jauh dari sistem yang sudah ada, profesi yang masih begitu tergantung pada sistem pemerintahan.

Namun ketika saya beranjak dewasa, saya menghadapi sebuah perubahan era yang luar biasa pesatnya. Sekedar pintar, rajin belajar dan bercita-cita jadi dokter doang nggak cukup. Era yang ada di depan saya adalah era dimana saya harus break the rules, berorientasi pada perkembangan teknologi, serta berani jadi creator. Sementara saya, nggak dibekali senjata untuk menghadapi itu semua. Pusing dong? Mental-mental yang kadung dibangun ini lho semacam mental-mental pendamba hidup sekedar enak semacam jadi PNS, pegawai tetap, dll.

Terlebih lagi perkembangan teknologi yang begitu pesat, rasanya salah banget kalau nggak mengejarnya cepat-cepat. Iya, saya tahu, saya dan milenial lainnya hidup dan bertumbuh bersama seabreg teknologi ini. Tapi, apa iya kami-kami ini betul-betul menguasai semuanya? Sementara rutinitas kami nggak melulu bergelut dengan itu. Itu lho, kami tuh masih disuruh bikin kerajinan menghias telur paskah di kala anak-anak di belahan dunia lain sudah belajar ngerakit robot. Sekali lagi, milenial adalah generasi yang dibesarkan dengan cara yang tidak dipersiapkan untuk masa depan.

ngalup.co_43985166_575181872936936_8565726028906653665_n

Sementara kelas yang ini ngajarin tentang Panduan Dunia Digital. Mulai dari pengenalan hingga cara mengetahui aktivitas toko online kita. (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Di tengah segala kebingungan tak tahu arah ini, saya menemukan Ngalup Coworking Space. Hem, bagai oase di tengah padang pasir, ada semangat produktif yang selalu di-encourage oleh Ngalup Coworking Space. Saya yang biasanya males-malesan, berasa tertampar melihat bagaimana para milenial seusia saya banyak yang ngeramein setiap kelasnya baik sebagai pembicara maupun sebagai peserta.

Di Ngalup Coworking Space selalu dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang bersiap dengan tantangan hidup hari ini. Mereka adalah milenial yang sudah gerah dengan dongeng-dongeng orang tua yang nyuruh daftar CPNS tiap tahun. Mereka adalah orang-orang yang super tertarik untuk wujudkan ide-ide kreatif mereka, lebih dari sekedar berkarya, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Orang-orang yang nggak melulu mau idup enak doang, tapi berjuang dan mendistraksi sistem yang ada. Break the rules, dan peka pada kebutuhan masyarakat hari ini.

Kelas-kelas di Ngalup Coworking Space selalu sesuai dengan kebutuhan zaman naaow. Sebut saja kelas-kelas yang diisi oleh para pendiri start up sampai para pengusaha UMKM. Seperti contohnya kelas yang diisi oleh Dinar Hana ST,. MT., seorang CEO dari Abundent. Apa sih Abundent itu? Abundent adalah perusahaan transformasi digital dan big data analytics. Please dong, udah pada tahu big data kan? Tahu algoritma kan?

ngalup.co_44686729_173624276926039_5206851751055900191_n

(Credit: instagram.com/ngalup.co)

Dinar mengisi kelas bertajuk ‘How to prepare your business for the artificial inteligence revolution’. Hem, jelas kelas ini dibutuhin banget kan sama kita-kita yang lagi diterpa gelombang digitalisasi yang masif. Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan sahabat, kalau hal-hal beginian nggak mulai jadi concern, mau jadi apaaa kita hadapi dunia?

ngalup.co_41761937_317551365494827_5047947721051007875_n

(Credit: instagram.com/ngalup.co)

Nggak cuma itu, milenial yang masih so young macam saya ini, sudah punya ambisi untuk bangun berbagai usaha. Ngalup Coworking Space nggak segan-segan gelar kelas soal saham. Nah lho, anak kemarin sore nih, udah pada main saham. Yup, bersama Komunitas Investor Saham Pemula (ISP), Frisca Devi Choirina paparkan soal saham dari A sampai Z. Hal-hal seperti ini lho yang jadi kebutuhan milenial, yang nggak diajarin di sekolah, yang nggak masuk dalam sistem pendidikan kita. Hih, gemesh!

Banner Ngalup

Karenanya, nggak salah banget deh kalau saya berani bilang bahwa Ngalup Coworking Space adalah wadahnya Milenial banget. Seabreg kreativitas beserta ide-ide inovatif kami bisa dishare, didiskusikan, bahkan bisa berkembang di sana. Makanya, rajin-rajin deh cek timeline Ngalup Coworking Space, biar nggak ketinggalan kelas-kelasnya yang barangkali jadi awal kesuksesanmu, buktikan bahwa Milenial nggak melulu doyan drama macam Awkarin!

Namun sebetulnya, Ngalup Coworking Space tidak hanya gelar kelas doang lho. Yang paling penting Ngalup bisa jadi kantor buat kalian para pemilik start up atau bisnis online. Yup, hari gini bikin kantor sendiri kadang mikir-mikir dulu ya, tapi Ngalup sediakan fasilitas ala kantor yang nyaman untuk disewa. Mulai dari wifi, listrik, dll. Ini solusi banget kan buat Milenial yang nggak sabar untuk seriusi bisnisnya?

 

Penulis adalah blogger anyaran yang tersobsesi jadi anggota dari Blogger Ngalam, 😀

Logo Blogger Ngalam edited

Drama OTW ke Stand Up Pandji Pragiwaksono, Dari Sendirian Sampai Nemu Teman Curhatan

BeautyPlus_20181123232123548_save

Soal gemari karya Pandji, saya paling tertarik sama stand upnya sejak 2013. Yup, Pandji memang telurkan banyak karya, mulai dari buku sampai lagu. Sebab tahun ini dia gelar stand up special, saya excited banget. Harus nonton pokoknya. Saya hepi banget soalnya nonton MESAKKE BANGSAKU dan JURU BICARA. Sebab itu, rencana nonton Pandji ini harus disiapin terutama karena lokasi acaranya di luar kota. Salah satu yang penting adalah, soal penginapan.

Jauh-jauh hari, bahkan sejak tahu kalo Pragiwaksono World Tour bakal digelar di Surabaya pad 1o November, saya udah bingung cari penginapan. Yup, nggak cuma dapetin tiket periode Wongsoyudannya doang yang susah, cari penginapan juga susah. Terutama bagi saya yang berkantong cekak ini.

Mengapa? Sebab acara dimulai pukul 19.00 dan selesai pukul 23. 00. Sepengalaman saya nonton JURU BICARA 2 tahun silam, baru bisa keluar gedung jam 1 dini hari. Pasalnya, antri fotonya itu lho panjaang minta ampun!

Sebagai keponakan kesayangan yang punya banyak om-tante dan pakde-bude berdomisili di Surabaya, tentu sekedar cari penginapan nggak ada masalah dong. Tapi kalau acara kelar jam segitu ya wasalam. Kena omel sih enggak, tapi sebagai gadis yang menjunjung tinggi budaya Jawa Matraman, tentu kudu wajib melestarikan perilaku sungkan. Hem, guaya yo? Jarno. Akhirnya jatuhlah pilihan pada nginep di kosan seorang teman yang bawain ogut kunci pager sendiri. Ulala, surga untukmu nak!

Kelar urusan penginapan dan perebutan tiket wongsoyudan, tibalah hari H. Kerjaan kantor beres jam 12 siang, langsung cabut cari bis patas Malang-Surabaya. Duduk sebelahan sama brondong emesh yang berisik mau datengin acara Korea-koreaan di Tunjungan Plaza (TP). Kelar basa-basi bentar saya langsung bablas turu, tau-tau udah mo nyampe aja di terminal Purabaya.

Jam 5 sore udah cantik, udah wangi. Sialnya, saya dapet mas ojol yang nggak tau dimana DBL. Padahal jelas ada di map. Saya sih santai aja pura-pura bego nggak tau dimana DBL, dalam hati cuma berkata “Mari kita lihat seberapa canggih dirimu menemukan DBL, khukhukhu”. Tampaknya itu bukan keputusan yang tepat ya, sebab sepanjang jalan saya bawaannya emosi mulu lihat si mas terkaget-kaget dengan notifikasi map semacam “Belok kanan setelah 200 meter”. Duh, ingin mara tapi taqut tossa~

Sesampainya di DBL, saya turun di trotoar. Mata kemudian tertuju pada seorang gadis yang sama-sama turun dari gojek. Dugaanku, dia juga sama-sama mau nonton Pandji. Eh ternyata bener, waktu saya samperin dan basa-basi, dia juga sama-sama dari Malang. Anak UB juga. Yaelah duniaaaaa…

BeautyPlus_20181123231948268_save

Kami berjalan beriringan bersama-sama menuju venue. Mampir Indomaret Graha Pena dulu dong beli minum. Iya, kami tahu kalau nggak boleh bawa makanan atau minuman ke dalem, tapi saking hausnya sebab berjalan kaki dari trotoar, begitu lihat Indomaret langsung belok. Kami berdua sama-sama semog siist, jalan kaki padahal tak berlari sudah bikin ngos-ngosan. Dan anda tahu pilihan minuman saya jatuh pada apa? Pada satu pack Yakult yang tentu tidak meredakan haus, tapi yasudahlah, kelima botolnya saya minum sekaligus.

Sebelum masuk area venue, sambil menyeruput minum masing-masing, kami berbincang sedikit. Saya yang memang hobi curhat ini, tetiba lontarkan resah yang berbunyi “Kamu sendirian? Kenapa? Kalau aku sendirian kesini soalnya susah tauk nyari temen yang sama-sama suka Pandji.” Si embak yang sungguh ku lupa namanya ini pun sepakat. Baginya sulit untuk menjelaskan apa menariknya Pandji pada kawan-kawannya. Yha, betul, terlebih lagi sejak dia dukung Anies, ah elah, sudahlah.

Setelah registrasi kami masuk venue dan bingung milih kursi. Pasalnya, semua kursi platinum yang depan sudah penuh. Apalagi tengah, elah udah disikat duluan. Jadilah kami duduk di dekat tribun. Yang jelas kami baru bisa lihat muka Pandji dengan super jelas lewat layar. Hemtalah.

Acara dibuka dengan penampilan Fuad Kangean, opener lokal asal Kangean-Madura. Sebagai seorang editor yang pernah nulis berita Stand Up Comedy Academy di Indosiar selama 1 musim, saya tahu banget kalau stand up itu nggak cuma soal lucu, tapi juga soal kegelisahan personal. Yup, Fuad ceritakan gelisahnya sebagai orang Madura beserta segala stereotype yang menyertainya. Mulai dari dianggap suka nyolong besi, sampai dicap ogah rugi. Sumpah, saya terbahak-bahak banget waktu dia bisa fasih banget bilang “Janc*k!”.

Setelah Fuad turun, naiklah Mamat Alkatiri, komika yang baru kali ini saya lihat. Namanya memang nggak asing, tapi entah kenapa saya nggak pernah tergerak nyari stand upnya di youtube. Duh, agak nyesel sih, sebab Mamat nggak cuma lucu, tapi kegelisahannya itu loh dipaparkan dengan logika-logika ala akademisi. Hem, maksudnya premis-premisnya tuh nggak cuma disupport oleh hasil observasi, tapi juga dengan logika yang runtun. Ku syuka Mamat, wkwkwk…

Setelah puas dibikin Mamat terpingkal, Pandji pun akhirnya naik panggung. Belum apa-apa sorak sorai penonton sudah menggema. Saya termasuk yang norak teriak-teriak sambil tepuk tangan cantik. Seperti apa sih penampilan Pandji malam itu sampai saya harus menyebutnya sebagai paket komplit yang bukan favorit? Hem, simak di postingan saya selanjutnya ya!