‘BUMI MANUSIA’ dan… Glorifikasinya?

MV5BZWFmN2Q1YjQtMWQ0Ny00Njk0LWE3ZTItMmU1ZmUyYjExMGYzXkEyXkFqcGdeQXVyNzY4NDQzNTg@._V1_

IMDB

Kepopuleran film BUMI MANUSIA sebetulnya tidak pernah begitu saya perhatikan sih. Setidaknya sejak pemilihan Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke yang jadi kontroversi itu sampai ramainya kata ‘Darsaaam!’ yang wara-wiri di Twitter, semua cuma jadi angin lalu bagi saya.

Namun di balik itu semua, saya tetap nggak ingin melewatkan film ini. Sebab? Sebab seorang kawan saya yang mengaku ‘Pramisme’ sejati sampai ogah banget nonton film ini. Menurutnya, film BUMI MANUSIA (BM) ini mereduksi semangat Pram yang tertuang dalam novelnya. Mereduksi seperti apa? Semangat macam apa yang dimaksud? Saya yang bukan pembaca novel-novel Pram ini jadi penasaran banget. Begitulah awal mula keinginan nonton BM ini tersulut.

Berangkatlah saya ke Mandala pada Jumat malam dan nonton pukul 20.20 WIB. Itu pertama kalinya saya nonton film jam segitu, actually. Setelah lalui perjalanan hampir sejam gara-gara macet di sekitaran UB dan kena omel “Lama sekali anda?”, akhirnya saya duduk di deretan kursi B dengan manjiah.

Satu setengah jam. Sejujurnya hanya satu setengah jam saya mampu bertahan nonton film ini. Sisanya? Saya glibak-glibuk sendiri antara ngantuk dan kedinginan. Setiap kali saya merem, setiap kali juga sebelah saya bangunin. Mau nggak mau tetap nonton meski… saya sudah sangat terganggu dengan glorifikasinya.

Setidaknya, saya berhasil nyelesein film ini meski sambil merem melek. Sejumlah poin jadi kesan saya pribadi, di antaranya:

Glorifikasi Cinta-Cintaan

fp minke 2
Yup, nggak tahu kenapa, gombalan-gombalan semacam “Kamu cantik seperti bidadari nggak ada tandingannya,” itu bikin tenggorokan saya seketika nyeletuk “Hedeeeh…” sambil memutar kedua bola mata. Ini kenapa nuansa-nuansa Dilan ada di sini sih?

Belum lagi Ann dikisahkan sakit yang cuma bisa di-dokter-in sama Minke. Ya Rabb… Ini Dilan, eh, Minke, Minke udah mirip sama Fahri bagi Maria di AYAT-AYAT CINTA (AAC) kan? Mau bilang Ann sebagai bucin tapi saya sadar diri saya pun sebucin itu. Saya tahu betapa sophisticatednya cinta antara pria pribumi dan wanita berdarah separuh Eropa dengan berbagai rintangannya. Namun, buat saya, perjuangan cinta ini berputar-putar pada pencarian status.

Lihat saja, apa sih romantisme dari Minke dan Ann yang benar-benar bisa ngena di hati kecuali saat akhirnya Ann harus budal ke Eropa dan tinggalkan pesan-pesan di akhir film? Gombalan, surat-surat yang dituliskan oleh Nyai Ontosoroh demi kebahagiaan putrinya, ijin menginap yang emang atas otoritas Nyai Ontosoroh, dll. Sebagian besar by design Nyai Ontosoroh.

Bahkan adegan ketika Minke menunjukkan surat legalisasi pernikahannya di hadapan Ann yang lagi asyik merem itu juga… swt (baca: sweat alias cape’ deh) banget. Paling bikin iri sih waktu Minke sama Ann kelar ena-ena, mereka malah diselimuti dong sama Nyai. Kalau bukan fiksi, yang ada malah diselimuti omelan panjaaang.

Dobrakan Nyai Ontosoroh

FP MINKE 3
Sebelum film dimulai, sosok di sebelah saya bilang “Tokoh sentral di film ini tuh Nyai Ontosoroh.” Mendengar itu saya mengernyitkan dahi, sebab selama ini saya pikir Nyai Ontosoroh adalah kekasih Dilan, eh, Minke. Ternyata dugaan saya salah besar dan mas sebelah saya ini bener adanya. It’s all about her.

Sosok nyai yang tegas, independen, cantik, cerdas, bijaksana, punya pemikiran yang bebas, serta sayang banget sama keluarga itu rasa-rasanya sangat mustahil benar-benar ada di jaman itu. Kultur Jawa yang disertai kentalnya patriarki dan marjinalisasi wanita tentu sudah lebih dari cukup jadi alasan untuk kemustahilan itu.

Namun nyai, yang juga diuntungkan sebab dinikahi Si gendat Herman itu punya kesempatan berkembang bahkan menjadi penguasa. Piye sist? We gak pengen rabi ambek bule sugih ae tiwas lanangan kakean aturan patriarki ala-ala syariah iku mbok gandoli teros? Astaghfirullah, afwan ughteaa

Nyai Ontosoroh adalah cerminan dari banyak hal. Ia adalah cerminan dari pribumi beserta semangat perlawanannya. Ia adalah cerminan dari semangat feminisme lewat segala kekuatannya baik secara finansial maupun secara batin. Maksud saya, batin wanita mana yang nggak ajur punya keluarga se-ajur itu? Dia nggak milih lari dari itu semua.

Minke Si Pria Tak Bercela

FP MINKE 5
Selain pemikirannya untuk menjadi pribadi yang bebas dan ogah bergantung pada hidup enak yang ditawarkan oleh bokapnya, nggak ada tuh hal lain yang bikin saya terkagum-kagum sama Minke. Sosok ini digambarkan terlalu cemerlang. Pandai menulis, otak encer, ganteng, bisa mempesona cewek Indo dalam sekali tatap, romantis, dan pinter bahasa Belanda, itu semua rasanya jadi kelemahan film seperti glorifikasi ‘Fahri’ yang sempurna layaknya Nabi. Untung nggak disertai juga dengan Parjiah minta dinikahi Minke misalnya. Fix, jadi AAC 2 versi zaman kolonial nanti.

Namun di sisi lain, saya senang sih dalam film ini ditunjukkan banget bagaimana media punya pengaruh. Pada aspek ini, saya jadi teringat kekuatan media di film biografi MAHATMA GANDHI. Strategi perlawanan Minke nggak seperti kontruksi perlawanan kuno selama ini yang selalu soal angkat bambu runcing (wicis itu possible anet di jaman itu). Namun lewat kekuatan media, Minke melakukan provokasi, melakukan perlawanan, menggungah jiwa-jiwa kritis para pribumi.

Sisi Lain Penjajahan

FP MINKE 4
Saya nggak begitu tahu sih selama ini kolonialisme digambarkan seperti apa selain seperti yang tergambar dari film-film semacam JAKA SEMBUNG. Dalam film-film jadul itu, penjajahan adalah soal ngambilin istri orang-orang pribumi, kerja paksa, mengambil hak pendidikan, dan penarikan pajak tinggi.

BM jelas menunjukkan sisi lain. Ia menunjukkan betapa penjajahan itu kejamnya sampai pada pemberlakuan hukum yang bersifat pribadi. Apa yang kurang privat dari status perkawinan Minke dan Ann serta status ibu-anak antara Nyai Ontosoroh dan Ann? Hukum Eropa diberlakukan dan diplintir sedemikian rupa, demi? Kepentingan golongannya sendiri. Ujung-ujungnya, jika benar hal semacam ini terjadi waktu itu, kebayang nggak sih ada berapa banyak anak yang bernasib sama seperti Ann? Dipisahkan dari suami dan ibunya sendiri gara-gara legalitas bullshit itu.

Pentingnya Identitas

FP MINKE 6
Saya masih ingat, suatu pagi di CFD, saya bercerita bahwa saya pernah berada di fase mempertanyakan identitas diri sendiri. Pasalnya jelas, saya ini mau dibilang Jawa tapi putih dan sipit, tapi mau dibilang Tionghoa tapi kok jilbaban (sebuah simbol yang jauh dari keidentikan Tionghoa) dan berperilaku layaknya ‘priyayi’. Sosok yang dengerin cerita saya waktu itu cuma mengernyitkan dahi sambil bilang “Emang apa pentingnya indentitas semacam itu, hari gini?”

Memang pada akhirnya, hari gini banget identitas semacam itu udah nggak relevan. Terlebih keterbukaan pemikiran dan globalisasi sudah begitu masif. Namun melihat BM, saya jadi mikir kalau identitas pernah jadi penentu hidup dan nasib. Nggak ada seorang pun yang bisa memilih untuk terlahir jadi pribumi, european, maupun berdarah campuran saat itu. Lucunya, klasifikasi itu gampang banget ditentuin dari muka sama pakaian, nggak ruwet tuh pake legalitas bla bla gitu.

Overall saya nggak punya kesan yang terlalu melekat sama BM, sebab menurut saya semua serba tanggung. Terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan. Terlebih akting dan dialog yang kaku. Duh, saya berharap tidak terlahir di Jawa saja waktu nonton ini, sebab dengan begitu urusan dialog bahasa Jawa Mawar De Jongh yang mukenye bule abis itu nggak mengganggu. Saya sebagai penonton sebagian film Hanung rasanya kangen sama filmnya yang bercita rasa tinggi semacam… LENTERA MERAH, mungkin?

Dear Ibunda Hajar

083442200_1543314629-kisah-siti-hajar-ibunda-nabi-ismail-as-munculnya-air-zam-zam

Copyright by isgcharlotte.com/Fimela.com

Selamat malam Ibunda Hajar,

Ijinkan aku menggulirkan tanya dan cerita, sekadar demi air mataku yang sesungguhnya tak pernah ku relakan untuk tumpah. Pada segala kehendak Tuhan yang terjadi di hidupku, aku selalu ingat sama Ibunda. Setidaknya seperti sekarang.

Bunda, seperti apa rasanya saat pertama kali bertemu Ibrahim AS? Adakah mimpimu yang terjawab olehnya? Lebih dari sekadar utusan Allah, lebih dari sekadar besarnya cintamu padanya, ku yakin bunda, ada mimpi yang terjawab olehnya. Seperti halnya aku yang rasa-rasanya telah menemukan Ibrahimku.

Tidak dalam kondisi terbaik kami dipertemukan. Sama-sama babak belur oleh hidup dan manusia. Lalu kami bertukar cerita, hingga akhirnya aku terkesima. Hanya empat belas hari, Bunda, aku sudah mampu bilang bahwa ia adalah jawaban atas mimpi-mimpiku.

1496654629661338-LOfficiel-Singapore-Women-On-A-Mission

Sumber: lofficielsingapore.com

Bagaimana tidak, Aku yang sudah sangat letih dihabisi kehidupan, rasanya seperti menemukan kembali alasan untuk bangkit. Setidaknya untuk kembali punya mimpi, memperjuangkan kembali apa-apa yang selama ini nyaris mati.

Melawan dunia, Bunda, melawan dunia. Mimpiku senaif itu. Tapi aku kadung kalah dan memilih menyerah. Terbelenggu kapitalisme dan pragmatisme yang tiada celah. Iya betul bunda, aku lemah, aku terlanjur marah pada kenyataan-kenyataan hidup dan sekalian jadi budak-budak nan pasrah.

Hingga ia datang, menawarkan uluran tangan. Ia berceloteh banyak soal angan, yang rasa-rasanya tidak lebih dari omong kosong sepanjang obrolan. Memberdayakan masyarakat, hingga mengedukasi bocah-bocah pemilik masa depan. Tentu, siapa yang tak bilang itu sekadar halu? Namun entah kenapa Bunda, aku mau percaya bahwa harapan untuk wujudkan itu semua ada.

nada-al-nahdi-credit-@mal2at-riyadh-3

Sumber: againstthecompass.com

Hampir setiap hari kami berbagi cerita, membuat rencana, atau sekadar tertawa bersama. Aku betul-betul merasa seperti manusia seutuhnya, kala pada satu waktu aku bisa berpikir keras dan mengulik ide-ide sekaligus juga memulaskan senyum membayangkan kuade. Hah, iya aku tahu bunda, bicara kuade rasanya masih perlu banyak jeda.

Namun Bunda, selayaknya kebahagiaan, tidak ada yang sempurna di sana. Ya, patah-patah… bahagiaku harus patah sebab suatu hal. Ia lantas pergi, tak mau memandangku lagi. Itulah mengapa Bunda, kau bisa melihat bekas-bekas air mata yang mengular di pipiku sekarang. Harapanku pupus, Bunda tahu kan betapa sejak dulu aku punya mimpi untuk berkarya bersama pasanganku? Ia pergi membawa segenap rancangan karya bersama itu, Bunda.

Tentu ku sadari, ini semua kehendak-Nya. Sang Maha Tahu punya seribu satu pertimbangan untuk menjauhkan kami. Tapi Bunda, jika di padang pasir itu kau pun menangis dan memanggil-manggil dan memandangi punggung Ibrahim AS, apalagi aku? Apa kau benar-benar rela diasingkan oleh orang yang paling kau cintai sekalipun kau tahu ini kehendak-Nya?

Wacana Soal ‘Cewek Matre’ Itu… BASI BANGET!

images.jpeg

Credit: naukrinama.com

Waktu saya masih ABG dulu, rasa-rasanya gencar banget wacana soal Cewek Matre. Dari dulu, hingga sekarang definisi saya cuma satu, Cewek Matre adalah perempuan yang menjadikan urusan materi itu sebagai kriteria utamanya dalam menilai pria. Nggak cuma dulu sih, sampai sekarang wacana soal ini masih terus ada.

Entah kenapa ini kemudian tampaknya berkembang jadi peyoratif di masyarakat. Bahkan sampai ada lagu yang liriknya “Cewek matre, cewek matre ke laut aje.” Ah, elah, kliatan tuanya kan? Ini lagunya 8Ball judulnya Cewek Matre. Seinget saya lagu ini populer di tahun 90an hingga 2000an awal.

Ya, peyoratif. Seolah-olah cewek yang matre itu suatu hal yang hina. Padahal bisa jadi ini cuma konstruksi para pegiat patriarki biar pandangan ‘matre’ ini nggak tumbuh subur di masyarakat. Alih-alih kerja keras dan buktikan diri bahwa lelaki selalu bisa bersaing dalam hal mengejar materi, lebih baik matikan saja perspektif ‘matre’ ini, selesai urusan. Ini sih cuma dugaan sok tahu saya saja lho, tahan…. jangan emmosi jiwa anda~

woman with credit card and shopping bags

Di sisi yang lain, dengan definisi matre yang sudah saya jabarkan di awal tadi, saya sendiri sebetulnya nggak sepakati pandangan ini. Sesederhana materi bisa dicari dan sudah dijamin oleh Allah SWT, maka menaruh urusan materi sebagai prioritas kok rasanya kurang bijak. Terlebih kalau CUMA lihat materi, ini jelas menyalahi prinsip saya yang melihat apa-apa tidak boleh dangkal. Menilai satu individu yang super duper kompleks pada satu aspek saja? Big No, No.

Pandangan tersebut bahkan diinisiasi oleh papa saya sendiri. Saya masih ingat, lebaran kemarin, ada seorang pria bertitle ‘Paskhas AURI’ yang datang ke rumah bersama keluarganya. Niat mereka adalah berta’aruf. Dalam pidato sambutannya, papa saya menekankan bahwa yang paling penting adalah rasa. “Biarkan mereka berdua (diriku dan mas itu) saling mengenal secara natural. Karena bukan soal harta pak, bu, yang terpenting adalah kehadiran rasa di antara mereka dulu,” ujar Papa.

Yang kemudian nggak kalah masif adalah wacana soal ‘Cewek itu ya emang harus matre!’. Pandangan ini bahkan dianut juga sama para wanita lho! Saya sering sekali dulu ditanya sama teman kos setiap kali pulang ngedate. Dia bilang, “Dibayarin nggak mbak? Ha? enggak? Idih kalo aku sih ogah diajak keluar kalo nggak dibayarin.” Bagi saya ini lucu. Pria yang nggak segan kasih dompetnya saat kami ngedate juga nggak kalah lucu. Nggak pernah tuh saya sentuh dompetnya.

1456675742-1456621309-1456621214-vo-chong-tien-1

Wacana tersebut juga menjamur dengan berbagai legitimasi. Mulai dari harus memastikan prianya bisa menafkahi sang anak kelak sampai kita sebagai wanita sudah dibesarkan dengan limpahan harta oleh keluarga. Ini, sungguh nggak pernah bisa saya pahami. I mean pemikiran soal itu perlu, tapi bukankah itu dipikirin kalo udah pada pengen nikah? Sementara nikah adalah usaha bersama bukan? Nggak relate men, kalo mo nikah cuma semata mikirin materinya doang.

Lucunya, seperti judul tulisan ini, yang nggak kalah banyak adalah cowok matre. Setidaknya menurut pengalaman saya sih. Jika ‘matre’ itu hina, ada aja tuh pria yang memilih jadi hina di tengah kemapanan ideologi patriarki di negara ini.

Fakta ini nggak masif di wacana publik, dugaan saya sebab fenomena ini akan disikapi serupa dengan pelecehan seksual. Para korban pelecehan seksual kenapa jarang mau bercerita? Saya sendiri sebagai yang pernah mengalami pelecehan merasa enggan cerita sebab saya takut publik akan membodoh-bodohkan dan menyalahkan saya. Saya takut orang akan bilang “Salah’e gelem,”, “Salah bajumu itu,”, atau “Yo koen sing goblok, meneng ae koen?”. It was.

Barangkali, para korban cowok matre ini juga enggan cerita ke publik sebab khawatir mendapat reaksi serupa. “Yo koen sing goblok. Lanangan kere mbok openi,” semacam itulah. Ia akan disalahkan, bukan prianya yang disalahkan. Sebab apa? Sebab mapannya patriarki. Patriarki meletakkan pria selalu benar, selalu berkuasa, termasuk ketika mereka matre. Sementara perempuan dibilang bodoh dan lemah termasuk ketika mereka di-matre-in. Gimana menurutmu?

Menjadi ‘Jani’

Heboh-Penampakan-Fahrani-Pawaka-Empel-Bintang-Radit-dan-Jani-Kini-Botak-dan-Penuh-Tato-Ingatkan-Netter-dengan-Sheila-Marcia-1

Film memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana aku memandang dunia, salah satunya memandang kehidupan anti kemapanan. Maka nggak heran kalau pembaca kerap kali menemukan semangat feminisme dalam tulisan-tulisan saya sebab feminisme adalah satu dari sekian banyak bentuk perspektif anti kemapanan yang menarik bagi saya.

Selain feminisme, semangat yang sama juga saya temukan di sejumlah film, salah satunya dalam film RADIT DAN JANI. Bukan film baru memang, tapi pesan dan konstruksi film ini masih terus melekat di benak saya, bahkan kerap kali saya interpretasikan lagi dan lagi seiring dengan perkembangan diri saya sendiri.

Termasuk di masa sekarang ini. Saat ini, saya merasa sedang menggebu-gebunya mendobrak hal-hal mapan. Setidaknya, yang terakhir saya memberontak pada nilai ‘misuh’ yang dipenuhi tendensi gender. Kini, perjalanan hidup membawa saya lebih dari sekedar melontar anti kemapanan dalam wacana, tapi juga dalam pilihan-pilihan.

Melihat diri saya yang seperti ini (maksudnya penuh kecupuan), barangkali sulit untuk percaya jika saya menjadi Jani. Dalam film RADIT DAN JANI, Jani digambarkan sebagai sosok wanita dari keluarga mapan yang memilih untuk menikah dengan Radit. Setelah menikah, kehidupan sebagai pasangan yang anti kemapanan mereka jalani. Tentu, saya tidak betul-betul menjadi Jani beserta kehidupannya, tapi menjadi Jani dalam psikologis berpasangan. Atau setidaknya menjadi Jani versi saya sendiri.

10-potret-perubahan-penampilan-fahrani-radit-dan-jani-ini-bikin-syok-180313q

Jani yang mencintai Radit. Jani yang mau memahami pemikiran Radit yang nyeleneh. Jani yang mau menemani Radit yang tengah sakau. Jani yang tahu bahwa hidup dengan Radit tidak akan mudah. Intinya menjadi Jani yang dihadapkan pada pilihan anti kemapanan.

Berkali-kali saya menanyakan pada diri saya sendiri, apakah ini pilihan yang tepat? Atau karena keinginan dicintai yang muncul sesaat? Mungkinkah nasib saya pun akhirnya sama seperti Jani yang menyerah pada realitas hidup, menyerah mempertahankan pilihan anti kemapanannya?

Pada titik ini saya begitu merasa seperti kucing yang selama ini berpura-pura menjadi singa. Betapa tidak, saya begitu getol menyuarakan wacana-wacana anti kemapanan sekaligus mengkritisi nilai-nilai yang sudah mapan di masyarakat. Namun ketika ditantang menjadi Jani, dihadapkan pada anti kemapanan yang sesungguhnya, saya mengkeret.

Selain anti kemapanan, perspektif lain yang juga getol saya tanamkan adalah memandang semua manusia sama. Ini pun, tampak kemudian jadi senjata makan tuan.

Melihat manusia sebagai individu yang sama ini berarti memandang manusia sebagai makhluk yang sejatinya punya porsi hidup yang sama. Sama berat bebannya, sama juga berat rejekinya. Saya nggak tahu juga pemikiran ini dipantik oleh filsuf siapa tapi saya meyakininya saja seiring dengan mengobservasi orang-orang di sekitar.

jaswanto.-film-radit-dan-jani

Bagi saya, meski yang dihadapi seorang pengemis dan seorang pengusaha itu berbeda, tapi pada hakekatnya berat beban dan rejeki mereka sama. Artinya begini, bisa jadi beban materiil yang dihadapi pengemis lebih besar dibanding dengan beban materiil pengusaha. Namun bisa jadi juga rejeki yang tidak berupa materi si pengemis ini lebih besar ketimbang si pengusaha. Maka sejatinya, keduanya imbang. Kita semua paham kalau baik materi dan non materi keduanya penting bagi keberlangsungan hidup kita kan?

Belum lagi jika dipandang dari perspektif ke-akhirat-an atau ke-hamba-an, maka sesungguhnya malah nggak ada lagi konsep materi dan non materi tadi, yang ada cuma iman, amal, akhlak, yang sejatinya cuma bisa dinilai oleh Tuhan YME.

Saya terperangkap, hidup seperti menantang saya untuk betul-betul bisa memandang Radit sebagai manusia yang sama. Apakah saya mampu? Semesta seolah berucap “Hei Tan, jangan cuma berani kritisi sana-sini, berani nggak kamu jalani hidup betul-betul seperti perspektifmu itu?”

Namun saya percaya, setiap orang menghadapi battle-nya sendiri-sendiri sebab pada hakikatnya hidup adalah soal perjuangan. Jika pun tidak bersama Radit, tapi bersama Tidar misalnya, saya akan tetap menghadapi berbagai problematika yang sama-sama butuh perjuangan.

Membaca itu semua, barangkali nggak sedikit yang bilang saya naif. Iya, naif sudah seperti nama tengah saya kok.

Alasan Saya ‘Misuh’

Swearing-at-work-1

Credit: Scandikitchen.co.uk

Barangkali, bagi yang sudah mengenal saya dengan baik, hafal banget bahwa saya lebih sering mengucapkan ‘jancuk’ ketimbang ‘Astaghfirullahaladzim’. Terutama saat saya kesandung misalnya.

Kebiasaan ini, tentu nggak lepas dari kritik banyak orang, kawan baik saya salah satunya sebut saja Hari. Ia bisa dibilang yang paling sering habiskan waktu bersama saya, bahkan saat kami sudah tinggal di pulau yang berbeda begini. hampir 10 tahun berkawan, nggak heran kalau dia sudah semacam makanan sehari-hari mendengar saya misah-misuh.

Yang barangkali nggak dipahami oleh Hari maupun kawan-kawan yang lain, saya selalu punya alasan atas segala perilaku, termasuk perilaku misuh ini. Ada banyak malah, haha…

Pertama, bagi saya, misuh adalah bentuk pemberontakan pada konstruksi sosial. Orang selalu bilang bahwa perempuan nggak pantas misuh, nggak boleh misuh, nggak baik misuh, dll. Belum lagi perempuan misuh’an bakal dianggap sebagai perempuan nggak bener, perempuan nakal, perempuan yang mulutnya kotor, dll. Konstruksi ini nyatanya bukan cuma tertanam di benak orang-orang timur saja, tapi juga di barat.

mg_swearing_comp

Credit: Metro.co.uk

Saya cuma berpikir, atas dasar apa sekelumit kata-kata ini menjadi haram bagi separuh jumlah penduduk dunia? Toh, kita semua paham bahwa pada hakikatnya seluruh kata adalah netral. Bagi saya, mengumpat itu hasrat naluriah manusia. Orang bebas mau mengekspresikan itu lewat kata apapun, termasuk kata ‘jancuk’, ‘bgsd’, maupun ‘jmpt’. Begitupun dengan perempuan.

Lagian, kalau memang hasrat mengumpat itu naluriah dan kata-kata di atas cuma halal diucapkan pria, lantas perempuan kalau pengen mengumpat harus pakai kata apa? Pake ‘Astaghfirullahaladziim’? Kurang kearifan lokaaal kaaak, terlalu Arabiancentric.

Saya selalu percaya, ketika Sudjiwo Tedjo kerap menyapa para followersnya dengan ‘Cuk’ bahkan nggak segan mengungkap ‘Jancuk’ di wacana-wacananya, ia tahu bahwa itu bukan semata karena dia adalah pria. Ia tahu juga bahwa followersnya nggak semuanya lakik. Menurut saya, itu semua sebagai cara Presiden Jancukers ini membumi-ramah-kan kata ‘Jancuk’.

Sudjiwo juga sekaligus menyadarkan bahwa kata bisa jadi tidak bebas nilai, tapi kita bisa mengkonstruksi nilainya, semau kita. Termasuk Sudjiwo yang barangkali memaknakan Jancuk sebagai bentuk keakraban, dll. Sementara saya, jelas, memaknakannya sebagai pemberontakan.

merlin_148679712_66f85b3d-2a23-40d2-97ee-76a30004cdf0-jumbo

Credit: New York Times/Melinda Beck

Lewat Jancuk dan kawan-kawannya itu saya ingin tunjukkan bahwa hegemoni patriarki ini nggak berlaku buat saya, setidaknya dalam berekspresi. Lahir, tumbuh, dan hidup di tanah ini sudah pasti kehidupan saya bakal berada di jalur patriarki dalam seluruh fase kehidupan (maksudnya fase menjadi remaja sampai dewasa, single dan menikah, dll). Namun saya menolak tunduk jika berurusan dengan kebebasan berekspresi.

Tentu, tumbuh dan berkembang di bawah didikan orang tua yang menerapkan standar perilaku ‘Priyayi’ yang dioplos dengan ‘Islam konservatif’, saya nggak pernah dibolehkan misah-misuh. Alih-alih dibiarkan mengumpat, bilang ‘Sontoloyo’ aja saya udah auto kena setrap. Artinya, misah-misuh saya ini bukan berarti saya nggak pernah diajarin orang tua cara ‘njogo tutuk’ yang baik. Bahkan ada semacam doktrin bahwa perilaku ini identic dengan masyarakat kelas bawah.

Namun, di sisi yang lain saya menyadari bahwa kebiasaan ini nggak boleh terus-terusan dipelihara. Saya cukup merasa egois ketika masih terus begini setidaknya sampai saya punya anak misalnya. Saya menyadari, mengumpat ini sama seperti nafsu yang lain, yang seharusnya mampu ditahan atau setidaknya disalurkan dengan bijaksana. Adakah ide untuk itu?

Entahlah saya akan terus melakukan pemberontakan ini sampai kapan. Misi saya jelas sih, saya ingin orang-orang berhenti menyematkan hak-hak bertendensi gender pada kata-kata tertentu. Itu saja.

Angan Tentang Senja di Usia Senja

images (2)

Pada banyak waktu, bahkan di sela-sela hadirnya pria lain yang datang silih berganti, ada satu pria yang terus menetap atau setidaknya kalaupun ia pergi, perginya nggak jauh-jauh dan pasti akan kembali. Kalau pergi dia nggak pamitan, tapi begitu datang lagi ia minta dimaklumi. Tentu, aku maklum, toh memangnya aku ini siapa minta dipamiti? Pemakluman ini biasanya akan disambut dengan “Alhamdulillah, trimakasih ya.”

Menjalani hari dengan pria ini memang tidak pernah pasti. Tidak pasti kapan akan betul-betul mendapatkan perhatiannya, kala tidak cuma aku wanita yang hadir di hidupnya. Tidak pasti harus berinteraksi seperti apa, kala kami tidak sekedar saling melontar tatap di setiap pertemuan. Tidak pasti pula apa yang terpatri dari keberadaan kami, kala pada banyak kali kami berjauhan lalu baper-baperan.

Namun dari semua ketidakpastian, aku bisa memastikan satu hal bahwa aku dan dia kelak akan menjadi orang yang paling bisa menikmati senja dengan sepenuh kehangatan di sisa-sisa usia tua… jika berkesempatan. Ya, dari segala fase hidup manusia entah kenapa aku memilih untuk memastikan fase yang paling ujung, paling akhir.

Bagaimana bisa aku memastikan itu? Sulit untuk dijelaskan.

images (1)

Orang bilang, di masa tua, tidak banyak yang bisa dilakukan sebab selain fisik yang melemah, fase yang memang harus dijalani adalah masa tua. Masa dimana sakit-sakitan jadi teman, ketenangan sudah serupa rindu harian, meditasi dan kontemplasi jadi kesukaan, dan kematian adalah takdir yang terus berkelebat di pikiran serta ambisi sudah sejauh mungkin ditepikan.

Di masa yang sudah lelah dan dipenuhi oleh pasrah itu, aku bisa membayangkan salah satu alasan untuk tetap hidup dan tidak menyianyiakan detik-detik terakhir adalah senja yang terlewati bersama dia. Senja indah, dan kami berdua juga tak kalah indah.

Burung berpulang memecah udara yang semakin dingin, sementara kami duduk berdua memecah hening. Masih tetap sama, lengan kiriku melingkari lengan kanannya. Daguku tersandar di bahunya. Bedanya, lenganku kini lebih lemah dan lebih kurus. Barangkali lapisan daki ada di antaranya, sebab tentu aku sudah nggak sanggup lagi membersihkan diri dengan lulur lavender favoritku. Wangiku pun sudah tak lagi disponsori oleh Marc Jacobs Daisy Honey, tapi sudah berganti jadi wangi minyak angin yang suka ku oleskan di hampir sekujur tubuh demi mendapatkan kehangatan paripurna. Rambutku sudah tak lagi hitam tebal dan sehat. Yang ada cuma rambut putih yang sudah mulai tipis, tergelung rapi.

Sementara dia, sudah tak lagi memakai sweater slimfit ala Korea yang biasa dipadu dengan kemeja di dalamnya. Dia jelas lebih memilih jaket rajut berkancing berwarna khaki yang agak kedodoran dipadu dengan syal hitam penahan angin dingin. Saat aku merubah posisi dagu jadi sedikit lebih menepi, ia memandangiku sambil tersenyum. Senyumnya tak lagi melengkung sempurna, sebab giginya juga nggak genap lagi, hampir habis malah. Ya, tentu sekedar menghabiskan waktu sore bersamaku tidak perlu pasang gigi palsu biar senyumnya paripurna.

images (3)

Angin sore itu memaksa kami untuk bertoleransi demi jadi penikmat senja sejati. Sekedar merinding sesaat sudah biasa, kini aku harus menanggung bersin dulu, sementara dia berkali-kali mengusap hidung yang kedinginan. Duh, menjadi tua begini amat sih.

Kami memecah hening dengan memulai pembicaraan soal burung yang menghiasi langit. Aku yang menua ini nyatanya masih begitu penasaran dengan hewan-hewan sekitar selayaknya bocah yang mempertanyakan kenapa suara kucing itu ‘meong’.

“Hun, coba lihat burung-burung itu,”
“Iya, kenapa memangnya?” tukasnya sembari meletakkan secangkir kopi Bali favorit yang barusan disesap.
“Mereka terbang bergerombol tapi bisa rapi begitu ya,”
“Iya, entah itu membentuk pola apa,”
“Kok bisa gitu ya? Ada insting apa di antara mereka?”
“Entahlah, tapi coba lihat, mereka menuju ke satu pohon besar,”
“Iya ih, pada ngapain?”
“Ya pulanglah Bun, sore-sore begini kalo nggak pulang mo kemana lagi?”
“Sok tahu deh. Kalau cuma pulang ngapain rame-rame?”
“Kalo bisa pulang barengan, ngapain pulang sendirian?”
“Iki lho mesti, aku nanya beneran jawabnya mesti guyon,”
“Kan mereka keluar kandang buat cari makan. Begitu kenyang, urusannya kelar. Ya udah, perginya barengan pulangnya juga barengan,”
“Nggak gitu, maksudnya mereka tuh semacam hidup secara kolektif gitu ta? Secara ilmiah gitu lho Hun,”
“Yo nggak tahu, Bun. Kamu i mesti lho nanya gini ke anak Satra Inggris,”
“Mesti bawa-bawa jurusan,”
“Lhaiyo kamu yo mesti nanya’e aneh-aneh. Aku sebagai sarjana sastra sejak puluhan tahun lalu mesti kudu menghadapi pertanyaan-pertanyaanmu sing embuh. Kamu kok gak nyari tempat labuhan segala pertanyaanmu itu ke pria lain se? Yang barangkali lebih banyak tau,”
“Nggak, ngapain juga. Mereka nggak ngerti soal Dangdut, Bunda Rita, ataupun mama Iis Dahlia,”

Mendengar itu dia terbahak nyata. Terkekeh-kekeh sampai bahunya bergetar membuatku tak nyaman dan lantas terbangun. Jemari tangan kananku yang lemah mencoba meraih perutnya untuk ku cubit. Namun alih-alih sampai ke perut, tangan kirinya sudah menyambut jemariku duluan, dan menggenggam hangat.

wtstw37srykuc5h3qaotcylpevdfxyb29ftmke6xzrdddrewcdy9efogr9kn69cw-

Angan-angan seperti ini, hanya ku temukan padanya. Seorang teman pernah bilang bahwa menua itu pasti, sepasti segala permasalahan hidup lain yang juga akan hadir silih berganti. Dari segala kekhawatiran yang barangkali bisa diselesaikan jika kami bersama, kekhawatiran akan hari tua saja yang paling ingin ku pastikan. Entah pula mengapa demikian.

Sayangnya, tentu, di awal sudah ku katakan bahwa ini semua indah adanya jika berkesempatan. Nyatanya tidak, kami tidak berkesempatan. Barangkali aku lupa, untuk sampai pada senja di usia senja itu, ada jalan panjang yang harus dilalui, harus dipikirkan. Jangankan sampai, jalannya saja nihil adanya.

Rumah Tiada Dua

BeautyPlus_20160912172248_save

Dulu waktu masih remaja, saya sering sebel sama rumah saya yang berada di pelosok desa. Soalnya jelas, rumah ini jauh dari pusat kotanya Nganjuk. Waktu SMP, saya kalau sekolah aja harus naik sepeda dulu abis gitu dilanjut naik bis. Mau nongki cantique, ato sekedar jalan-jalan di pusat pertokoan juga harus menempuh 13 km. Sebel pokoknya.

Selain itu, saya juga sering diejekin temen-temen sekolah. Mereka sering bilang kalau di sekitar rumah saya nggak ada Indomaretnya jadi udah fix ndeso banget. Belum lagi waktu SMA, sakit ati tuh waktu dibilang “Rumahmu kan kabupaten, cah kabupaten kowe.” Hem, sedih.

Kalau inget itu semua, pengen ketawa sendiri. Lha gimana, kini justru lokasinya yang berada di desa ini malah bikin nyaman, bikin kangen. Ya namanya rumah, bukannya selalu begitu? Tentu. Kalau dipikir-pikir lagi, betapa beruntungnya setiap kali pulang kayak berasa liburan yang sesungguhnya. Dari rumah aja bisa melihat hamparan hijaunya sawah, menghirup udara segar, dan mendengar gemerisik suara daun bambu yang terterpa angin. Syahdu kan? Belum lagi suara angin kencang yang begitu mudah dimaklumi. Nggak ada duanya memang.

 

20160718_130543

Bangun tidur, duduk-duduk doang di teras, sepaket yang saya sebutin di atas itu udah tersedia di tambah secangkir teh Earl Grey. Jalanan masih sepi, yang ada cuma beberapa petani yang naik sepeda pelan-pelan sambil saling bersenda gurau. Suara burung mulai memecah dingin, diiringi dengan suara sapu para tetangga yang saling bersahutan.

Sementara langit masih gelap. Pelan-pelan fajar muncul semburat di antara awan-awan sisa hujan semalam. Ya, semalam hujan deras sampai-sampai para katak masih ada yang suarakan bahagianya di subuh hari. Mereka melompat-lompat di atas barisan lubang tanah kecil yang terbentuk akibat tetesan air dari genting.

Syahdu belum usai, subuh dihangatkan pula oleh sapaan orang-orang yang lewat. Mereka yang memandangi dari jalanan, bergelut dengan ragu sambil membatin “Ini mbak Tantri bukan ya?” gara-gara saya yang emang lama nggak pulang. Hingga akhirnya bodo amat dengan itu, mereka lantas melontar “Monggo mbak,” atau kalau ada yang sudah yakin, mereka akan menambahkan “Kapan dugi mbak?” Sebuah basa-basi yang khas, yang tentu nggak nemu beginian di kompleks kosan di Malang.

Nonton ‘LOVE FOR SALE’, Disadarkan Akan Resiko Memenangkan Hati

hqdefault

(Credit: id.bookmyshow.com)

Jumat malam (5/4) kemarin, Saya nonton film LOVE FOR SALE. Entah kenapa ya, semenjak bekerja, saya jadi males banget nonton tayangan-tayangan yang bikin mikir. Film detektif, film omnibus yang sarat kandungan kritik sosial, ataupun video-video youtube yang bertema politik itu semua adalah tontonan favorit saya. Namun makin hari, semua itu makin ogah saya sentuh. Saya jadi lebih seneng cari-cari film komedi ataupun tayangan receh semacam youtubenya Raffi Ahmad sampai MLI.

Barangkali saya cuma lagi butuh hiburan saja. Oh iya, kembali ke film LOVE FOR SALE. Memilih film ini pertimbangan utamanya adalah, ini produksi Visinema, rumah produksi milik Angga Dwimas Sasongko, sosok yang saya idolakan. Angga pernah bilang bahwa LOVE FOR SALE adalah salah satu karya dimana ia nggak lagi ‘menyetir’ dan memaksakan idealismenya. Dalam proses kreatif film ini, ia membebaskan para kru untuk mengekspresikan ide-de. Hasilnya, film ini berhasil berjaya di FFI dan festival-festival lain.

Sebagai orang yang selama ini sedikit mengikuti karya-karya Angga Sasongko, terasa sekali perbedaan LOVE FOR SALE dibanding film-film Angga sebelumnya. Saya selalu menemukan misi-misi yang berbau aktivis, kritik sosial, serta makna yang mendalam di film-film Angga, kecuali film HARI UNTUK AMANDA -yang emang kerjasama dengan MNC-.

Sebut saja CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU, dalam film ini jelas, persoalan-persoalan yang timbul dari kerusuhan ia angkat. Biografi serta semangat besar tokoh Sani betul-betul menampar banyak orang, betapa dedikasi dan keyakinan membawa pada perwujudan mimpi.

Begitupun dengan SURAT DARI PRAHA. Berangkat dari persoalan sejumlah orang yang kewarganegaraannya nggak diakui oleh negara, ada kisah cinta yang tersibak dan melahirkan sebentuk romantisme unik antara Larasati dan Jaya. Angga seolah menunjukkan serta mengingatkan bahwa kepentingan politik dampaknya sampai ke ‘hati’, sampai ke hubungan yang berbuntut panjang.

Review-Film-Sarah-Sechan-Curi-Perhatian-di-Film-Bukaan-8

(Credit: apabedanya.com)

Nuansa yang sama juga terkandung dalam film BUKAAN 8. Menurut saya, film ini diinspirasi oleh pengalaman dan kesan Angga semenjak punya Rigen, putranya. Saya sedikit tahu bahwa Angga merasa bahwa Rigen mengubah hidupnya dengan drastis, termasuk idealismenya. Maka nggak heran kalau BUKAAN 8 mengandung pesan betapa perjuangan seorang ayah yang miskin tapi idealis serta diremehkan mertua itu nggak main-main menjelang kelahiran si jabang bayi. Tokoh Alam Merdeka digambarkan sebagai sosok yang doyan mengkritik dan keluarkan statemen-statemen kontroversial di twitter. Terkait politik tentunya. Nggak jauh-jauh deh dari beginian.

Namun LOVE FOR SALE beda. Ya sudah pasti, wong sutradaranya beda, bukan Angga. Tapi di bawah Visinema, saya mengira akan tetap ada nuansa khas ala Angga yang tersemat, tapi ternyata tidak. Satu-satunya rasa yang terus melekat adalah, kesan yang mendalam. Ya, bagi saya, meski sudah menanggalkan isu-isu politik beserta idealisme kritik, film ini tetap tinggalkan kesan mendalam, sampai saya bisa menyelaminya lagi dan lagi.

Kisahnya cukup absurd dan ringan, tentang Richard di bujang lapuk dan Arini si teman kencan sewaan. Sudah bisa ditebak, meski awalnya mereka terlibat sebagai klien dan penyedia jasa, cinta tumbuh nggak terelakkan. Lalu Richard mulai mantap melamar, dan puff… Arini pergi seolah menyadarkan bahwa ini semua hakikatnya soal akad profesional.

Yang masih terngiang hingga sekarang adalah kata-kata Richard, bahwa mencintai itu mengandung resiko. Ini, justru sangat menampar saya yang kerap kali naif kalau sudah cinta.

fheadline jerawat

Barangkali, kesan mendalam atas film ini cuma gara-gara saya lagi sedih sebab sosok yang saya cintai tetiba bilang bahwa saya bukan tipenya. Tentu, hati mana yang nggak terkejut, nggak kalut, nggak ingin cepat-cepat kukut? Sama seperti Richard, seharusnya saya selalu ingat bagaimana ini semua berawal, dan barangkali muaranya akan sama, sebab begitulah resikonya. Bukan menjadi tipenya pun juga resiko.

Saya kerap kali mensimplifikasi bahwa ketinggian derajat saya sebagai manusia salah satunya terletak pada membela perasaan saya sendiri, menikmati dan hidup dengan segala emosi dan perasaan saya, termasuk perasaan mencintai seseorang. Naif pada persoalan ini, saya rasa sah-sah saja sebab toh ini cuma melibatkan saya sendiri, jika hal buruk terjadi tidak akan merugikan orang lain.

Saya selalu merasa, dalam berbagai hal ada banyak sekali motif yang memarjinalkan kedudukan sebagai manusia, makhluk berperasaan. Urusan pekerjaan, harus bermotif ekonomi, berkompromi sana-sini. Urusan pendidikan, lagi-lagi dituntut untuk ikuti sistem yang jelas-jelas penuh kepentingan, saya harus berkompromi lagi. Urusan beragama, aturannya dibikin seabreg, padahal dibikin simple pun bisa wong urusannya sama Yang Maha Kuasa. Segala urusan hidup deh, pokoknya saya harus ikuti aturan dan sistem, nggak bisa seenak ego saya sendiri.

E19_beinghuman-620x350

(Credit: india-forum.com)

Maka, soal hati, soal perasaan, soal mencintai saya ingin memenangkannya dan ogah kompromi-kompromi lagi serta ogah pusingin resiko-resiko yang siap datang. Yes, cinta itu buta, cinta itu naif, bagi orang-orang yang hidup di dunia yang menciptakan konsep buta dan naif. Tapi bagi makhluk yang tercipta dari kasih, dibesarkan dengan kasih, maka memiliki kasih dan membela perasaannya sendiri adalah hal biasa dan nggak perlu dihina-hina.

Maka di sinilah saya, senasib dengan Richard, menikmati resiko dan kembali sendiri lagi. Di akhir film Richard bilang “Mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan. Tapi ku kira mengambil resiko tak pernah ada salahnya.” Tentu, meski seperti ditampar sebab diingatkan soal resiko, kalimat terakhir dari kutipan itu serasa menepuk-nepuk punggung hati saya, seolah menguatkan bahwa saya telah berani mengambil resiko untuk memanusiakan diri saya sendiri.

Bonus Yang ‘Lain’ Nggak Kalah Membahagiakan

Ultimate_Guide_Holiday_Bonus

Siapa sih yang nggak suka sama bonus? Sudah pasti semua suka-semua senang sama bonus. Sekali-kalinya dapat bonus sudah berasa jadi orang paling beruntung hari itu, mesam-mesem sendiri, kalau ingat ya bilang ‘Alhamdulillah’. Terlebih kalau udah gede begini, nggak cuma mampu beli chiki bonus mainan, tapi bisa juga beli sepatu bonus kaos kaki. Meski cuma kaos kaki, batin ini nggak bisa ditahan untuk bergumam “lumayan nih,” yhaaa khaan?

Yang lumayan-lumayan ini macam-macam bentuknya. Udah nggak jaman bonus kaos kaki. Yang lagi sering itu bonus berupa potongan untuk pembelian berikutnya, yang sebetulnya nggak lebih dari strategi biar customer belanja lagi dan lagi. Tentu, bonus-bonus begini motifnya ekonomi, nggak ada makan siang gratis kan? Tapi toh bodo amat, yang penting hepi :)))

Bagi saya, bonus memang menyenangkan, tapi bonus yang didapat dalam bentuk lain jauh dan sangat jauh lebih membahagiakan. Seperti yang saya dapat malam ini (27/3). Bonus itu berupa kesempatan.

Ya, malam ini saya mengunjungi sebuah toko baju di daerah Soekarno-Hatta. Bukan toko baju bermerek dan bergengsi, sama sekali bukan. Letaknya nyelip di gang sempit, bentuknya semacam rumah yang pagarnya ditutup. Kebayang kan kalau customer mengiranya toko ini tutup? Sepi sekali malam itu, saya jadi satu-satunya pembeli.

Saya masuk, dan mendapati seorang penjaga toko lagi mengaji. Kegiatan itu terhenti begitu saya datang. Salting tentu, tapi saya langsung pura-pura milih-milih baju padahal saya mau beli tas. Ya, toko ini jualan tas juga meski sebetulnya koleksi majornya baju dan celana.

Singkat cerita penjaga toko ini kemudian melayani. Ia adalah seorang wanita paruh baya yang ramah dan asyik abis. Saya yang super duper rewel cuma dalam rangka milih model dan warna tas ini ia ladeni sepenuh hati.

graphicstock-children-writing-and-reading-illustration_H_6N6Fg3l_SB_PM

Kelar milih tas dan baju (sungguh, sulit untuk nggak nambah ini), saya lantas ke meja kasir untuk membayar. Ibu ini lagi yang ngurusi. Hingga akhirnya saya tertegun saat beliau ngodein minta ditolongin.

“Iki tulisan e opo mbak? Gak ketok aku,” tuturnya sambil menyodorkan price tag tas yang mau saya beli. Mau dicatat rupanya. Saya langsung membacakan dan beliau tampak sulit untuk menulis.

“Tak tulisno kene buk,” ujar saya sambil mengambil alih polpennya. Ternyata toko ini pakai cara manual dalam pencatatan keluarnya barang dagangan. Juga nggak ada struk, nggak ada nota atau apapun itu namanya sebagai bukti pembelian.

Saat menuliskan tas dan baju yang saya beli di catatan, saya melihat tulisan ibu ini betul-betul seperti tulisan bocah yang baru belajar menulis. Huruf yang ukurannya nggak seragam, sampai nulisnya nggak selalu nempel di garis-garis buku.

Saya betul-betul baru tahu ada penjaga toko macam begini di jaman yang rasanya apa-apa serba canggih serba digital. Oke urusan menulis selesai, waktunya bayar. Saya keluarkan kartu debit, nggak salah dong sebab di situ emang ada mesinnya.

“Nggak iso pake ngunu iku mbak, pake uang ae,” pinta ibu ini.
“Lha iki onok mesin e ngene buk,” tukas saya ngeyel.
“Gak iso aku makenya. Lagian ini emang nggak pernah dinyalakan,” imbuhnya.

Oke saya pasrah, harus tarik tunai dulu ini. Setelah berdebat kecil soal Indomaret mana yang ada ATMnya sama beliau, saya akhirnya gas motor ke Alfamaret. Perdebatan yang sia-sia sih.

two-friend-girls-with-shopping-bags_gg83988435

Usai tarik tunai dan balik lagi ke toko, saya bayar. Beliau sampaikan permohonan maaf karena bikin saya repot.

“Maaf lho mbak, wes minta ditulisin, nggak bisa gesek lagi bayarnya. Lhaio gimana sih yang punya toko ini, saya nggak bisa apa-apa kok disuruh jaga. Abis yang punya toko ini pergi ke Surabaya selama seminggu mbak,” ujarnya sekalian curhat.

“Nggak papa buk. Lak gak ngene sampean gak eling aku,” kata saya separuh perez sambil cengengesan. Beliau tampak senang dengan kedatangan customer yang ngoceh mulu bak burung beo ini, sampai-sampai saya dianterin hingga luar pagar. Entah ini bagian dari service yang bermotif ekonomi juga apa tidak, tapi bagi saya bonusnya bukan itu.

Ya, bisa mengetahui bahwa masih ada ibu-ibu yang susah membaca dan menulis itu adalah bonus. Bisa membantunya menulis itulah bonus. Perdebatan kecil yang seru dan berujung sia-sia soal ATM itulah bonus. Singkatnya, bertemu dan menjalani beberapa menit bersama ibu ini adalah bonus.

Barangkali sederhana dan tidak penting, tapi bagi saya pengalaman bertemu ibu ini sungguh membahagiakan. Entah ya, conversation kami begitu genuine, rasanya kayak bukan orang asing sampai beliau sempat-sempatnya curcol dan saya sempat-sempatnya perez. Yang begini ini, seberapa mungkin terulang di toko-toko yang lain? Yang barangkali penjaganya keburu males melihat kedatangan customer sing ketok gak gablek duit begini.

Saya sampai berjanji pada ibu ini untuk datang kembali. “Tak parani maneh ya buk emben-emben, gak blonjo tapi, nyambangi sampean,” tutur saya sebelum menstarter motor sambil mesam-mesem bahagia.

The Art of Relationship

 

picasmosaic033 REVV

Sebetulnya, meski saya berkali-kali dekat dengan pria, tidak banyak yang bisa bertahan lama. Terakhir kali setidaknya sekitar 2008 sampai 2010 silam. Sudah lebih dari 10 tahun lalu, lama banget kan? Iya, lama.

Kali ini, pengalaman yang sama terulang. Setidaknya sejak 2017 silam. Jika dulu saya memaknai kedekatan dengan pria berarti kesialan, maka kali ini berbeda. Ya, dulu saya memutuskan mengakhiri hubungan sebab kalau dipikir-pikir betapa sial saya sebagai manusia biasa yang lemah pada hasrat, harus selalu terbelenggu pada keinginan-keinginan maksiat. Saya merasa begitu lelah menghadapi ujian-ujian hasrat itu.

Kali ini saya memaknai kedekatan dengan pria sebagai proses tumbuh bersama. Sampai pada pemaknaan ini, tentu tidak serta merta. Di tulisan saya sebelumnya, saya memaknainya sebagai permainan roller coaster semata. Entah kenapa, saya nggak mau berhenti memaknai lagi dan lagi. Bisa jadi hubungan ini terlalu berarti, bisa jadi juga saya cuma ogah hubungan ini akan berakhir sia-sia. Sebab saya tahu, kami tidak akan hidup bersama dalam institusi keluarga.

Tumbuh bersama. Ya, meski baru beberapa bulan, ada banyak pendewasaan yang saya dapat dari hubungan ini. Tidak lagi sekedar senang-senang disertai drama yang aduhai bapernya. Tidak lagi cuma saling lempar gombalan yang sebetulnya sudah seperti latihan merangkai diksi belaka. Bagi saya, justru letak sesungguhnya dari hubungan ini adalah pada sisi pendewasaannya.

picasmosaic035

Dulu, saya begitu kaku memaknai banyak hal, salah satunya tentang sikap orang lain pada saya. Hal remeh saja, semacam telat menjemput bisa saya bikin panjang. Saya bisa ngomel dan nelangsani hal itu sepanjang jalan, merelasikannya dengan integritas sampai merelasikan betapa gara-gara telat doang itu ngaruh ke jadwal saya yang lain.

Kekakuan saya itu ternyata nggak bisa selalu berlaku dalam hubungan. Saya ternyata harus memahami, nggak melulu maunya dipahami. Dulu, saya ngomel saya marah sebab saya selalu berpijak pada objektivitas. Semua orang tahu betapa telat itu suatu hal yang salah, maka amarah saya sangat boleh dan wajar. Tapi ternyata hidup nggak melulu begitu.

Objektivitas, barangkali jadi hal yang harus ditepikan dalam hubungan. Justru the art of relationship adalah saat kita bisa memandang dan menyikapi apa-apa yang terjadi dalam hubungan dengan cara pandang kita sendiri. Cara pandang dan sikap ini nggak melulu ditentukan oleh norma dan nilai sosial. Ada pengertian, pemakluman, meski tak hilangkan juga keinginan untuk saling membangun. Betapa sampai pada sekedar sikap menghadapi telat menjemput saja butuh sebuah kebijaksanaan yang tidak sederhana bukan?

Ya, kebijaksanaan ini sementara terimplementasikan pada hal-hal semacam pemakluman atas sifat super duper moody contohnya. Saya beneran nggak pernah tahan sama beginian, dulu. Bagi saya, sifat moody itu sangat egois, terlebih jika tidak dikomunikasikan. Sebagai orang komunikasi saya terbiasa bilang kalau saya lagi bad mood, semisal saat PMS atau haid. Saya terbiasa memberitahu orang-orang dekat bahwa saya lagi PMS dan meminta pemakluman. Itu, itu pula yang saya harap dilakukan oleh orang lain.

 

picasL-p4572 REV 2

Tapi kenyataannya tidak. Saya bisa jadi sansak omelan ataupun jadi sasaran kata-kata pedas atas harinya yang buruk. Saya bisa sangat sebal bahkan super uring-uringan kalau sudah begitu. Namun untungnya hal seperti ini nggak selalu berujung panjang. Lama-lama saya paham, hari buruk bisa menimpa kapan saja, dan bad mood hanya perlu dimengerti. Apa sih yang dibutuhkan? Bukan kesebalan, tapi barang kali semacam elus-elus punggung secara virtual. Bahkan diam bisa jadi sangat membantu. Ya, nggak usah tanya apa-apa, biarkan saja diam menjadi jarak hingga ia betul-betul sembuh dan siap kembali menyapa.

Itu baru satu dari seabreg pendewasaan yang saya alami. Masih ada yang lain, tapi pada dasarnya semua mengajarkan tentang memahami dan tidak tergesa. Ya, tidak tergesa. Saya ini orangnya super panikan, susah untuk tenang. Saya bisa langsung berpikir macam-macam cuma karena sehari saja nggak dichat. Tapi lama-lama saya jadi paham bahwa apa-apa dilihat pada hakikatnya. Hakikat hubungan itu apa sih? Apa iya hubungan berarti harus selalu terhubung? Terhubung secara virtual misalnya? Apa bijaksana menyandarkan pada itu semata? Tentu tidak kan?

Ya, sejujurnya sampai titik ini pun saya masih belum bisa mengatakan apa itu hakikat relationship. Mau dibilang sebagai ajang tumbuh bersama, tapi kadang pun kami masih begitu senang menjadi anak-anak. Mau dibilang sebagai sekedar permainan tapi kok rasanya terlalu banyak pendewasaan yang sama-sama dialami. Barangkali, barangkali saja lho ini, hakikat hubungan adalah proses pemaknaan lagi dan lagi yang berhadiah kebijaksanaan diri.