Drama OTW ke Stand Up Pandji Pragiwaksono, Dari Sendirian Sampai Nemu Teman Curhatan

BeautyPlus_20181123232123548_save

Soal gemari karya Pandji, saya paling tertarik sama stand upnya sejak 2013. Yup, Pandji memang telurkan banyak karya, mulai dari buku sampai lagu. Sebab tahun ini dia gelar stand up special, saya excited banget. Harus nonton pokoknya. Saya hepi banget soalnya nonton MESAKKE BANGSAKU dan JURU BICARA. Sebab itu, rencana nonton Pandji ini harus disiapin terutama karena lokasi acaranya di luar kota. Salah satu yang penting adalah, soal penginapan.

Jauh-jauh hari, bahkan sejak tahu kalo Pragiwaksono World Tour bakal digelar di Surabaya pad 1o November, saya udah bingung cari penginapan. Yup, nggak cuma dapetin tiket periode Wongsoyudannya doang yang susah, cari penginapan juga susah. Terutama bagi saya yang berkantong cekak ini.

Mengapa? Sebab acara dimulai pukul 19.00 dan selesai pukul 23. 00. Sepengalaman saya nonton JURU BICARA 2 tahun silam, baru bisa keluar gedung jam 1 dini hari. Pasalnya, antri fotonya itu lho panjaang minta ampun!

Sebagai keponakan kesayangan yang punya banyak om-tante dan pakde-bude berdomisili di Surabaya, tentu sekedar cari penginapan nggak ada masalah dong. Tapi kalau acara kelar jam segitu ya wasalam. Kena omel sih enggak, tapi sebagai gadis yang menjunjung tinggi budaya Jawa Matraman, tentu kudu wajib melestarikan perilaku sungkan. Hem, guaya yo? Jarno. Akhirnya jatuhlah pilihan pada nginep di kosan seorang teman yang bawain ogut kunci pager sendiri. Ulala, surga untukmu nak!

Kelar urusan penginapan dan perebutan tiket wongsoyudan, tibalah hari H. Kerjaan kantor beres jam 12 siang, langsung cabut cari bis patas Malang-Surabaya. Duduk sebelahan sama brondong emesh yang berisik mau datengin acara Korea-koreaan di Tunjungan Plaza (TP). Kelar basa-basi bentar saya langsung bablas turu, tau-tau udah mo nyampe aja di terminal Purabaya.

Jam 5 sore udah cantik, udah wangi. Sialnya, saya dapet mas ojol yang nggak tau dimana DBL. Padahal jelas ada di map. Saya sih santai aja pura-pura bego nggak tau dimana DBL, dalam hati cuma berkata “Mari kita lihat seberapa canggih dirimu menemukan DBL, khukhukhu”. Tampaknya itu bukan keputusan yang tepat ya, sebab sepanjang jalan saya bawaannya emosi mulu lihat si mas terkaget-kaget dengan notifikasi map semacam “Belok kanan setelah 200 meter”. Duh, ingin mara tapi taqut tossa~

Sesampainya di DBL, saya turun di trotoar. Mata kemudian tertuju pada seorang gadis yang sama-sama turun dari gojek. Dugaanku, dia juga sama-sama mau nonton Pandji. Eh ternyata bener, waktu saya samperin dan basa-basi, dia juga sama-sama dari Malang. Anak UB juga. Yaelah duniaaaaa…

BeautyPlus_20181123231948268_save

Kami berjalan beriringan bersama-sama menuju venue. Mampir Indomaret Graha Pena dulu dong beli minum. Iya, kami tahu kalau nggak boleh bawa makanan atau minuman ke dalem, tapi saking hausnya sebab berjalan kaki dari trotoar, begitu lihat Indomaret langsung belok. Kami berdua sama-sama semog siist, jalan kaki padahal tak berlari sudah bikin ngos-ngosan. Dan anda tahu pilihan minuman saya jatuh pada apa? Pada satu pack Yakult yang tentu tidak meredakan haus, tapi yasudahlah, kelima botolnya saya minum sekaligus.

Sebelum masuk area venue, sambil menyeruput minum masing-masing, kami berbincang sedikit. Saya yang memang hobi curhat ini, tetiba lontarkan resah yang berbunyi “Kamu sendirian? Kenapa? Kalau aku sendirian kesini soalnya susah tauk nyari temen yang sama-sama suka Pandji.” Si embak yang sungguh ku lupa namanya ini pun sepakat. Baginya sulit untuk menjelaskan apa menariknya Pandji pada kawan-kawannya. Yha, betul, terlebih lagi sejak dia dukung Anies, ah elah, sudahlah.

Setelah registrasi kami masuk venue dan bingung milih kursi. Pasalnya, semua kursi platinum yang depan sudah penuh. Apalagi tengah, elah udah disikat duluan. Jadilah kami duduk di dekat tribun. Yang jelas kami baru bisa lihat muka Pandji dengan super jelas lewat layar. Hemtalah.

Acara dibuka dengan penampilan Fuad Kangean, opener lokal asal Kangean-Madura. Sebagai seorang editor yang pernah nulis berita Stand Up Comedy Academy di Indosiar selama 1 musim, saya tahu banget kalau stand up itu nggak cuma soal lucu, tapi juga soal kegelisahan personal. Yup, Fuad ceritakan gelisahnya sebagai orang Madura beserta segala stereotype yang menyertainya. Mulai dari dianggap suka nyolong besi, sampai dicap ogah rugi. Sumpah, saya terbahak-bahak banget waktu dia bisa fasih banget bilang “Janc*k!”.

Setelah Fuad turun, naiklah Mamat Alkatiri, komika yang baru kali ini saya lihat. Namanya memang nggak asing, tapi entah kenapa saya nggak pernah tergerak nyari stand upnya di youtube. Duh, agak nyesel sih, sebab Mamat nggak cuma lucu, tapi kegelisahannya itu loh dipaparkan dengan logika-logika ala akademisi. Hem, maksudnya premis-premisnya tuh nggak cuma disupport oleh hasil observasi, tapi juga dengan logika yang runtun. Ku syuka Mamat, wkwkwk…

Setelah puas dibikin Mamat terpingkal, Pandji pun akhirnya naik panggung. Belum apa-apa sorak sorai penonton sudah menggema. Saya termasuk yang norak teriak-teriak sambil tepuk tangan cantik. Seperti apa sih penampilan Pandji malam itu sampai saya harus menyebutnya sebagai paket komplit yang bukan favorit? Hem, simak di postingan saya selanjutnya ya!

Advertisements

2 thoughts on “Drama OTW ke Stand Up Pandji Pragiwaksono, Dari Sendirian Sampai Nemu Teman Curhatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s