Berdamai Dengan Ketidakcantikan, Berdamai Dengan Society

fheadline jerawat

Suatu hari di grup WA yang berisi teman-teman dekat semasa kuliah, ada kawan mengirim foto sepasang pengantin. Seorang yang lain tiba-tiba nyeletuk “Tak kiro manten wedok e Tantri,” tulisnya. Saya yang penasaran, langsung download foto itu dan menemukan bahwa memang agak sedikit mirip. Sontak saya membalas “Yo ayuan mbak iku,”. Seketika grup ramai dengan replyan “wkwkwk”, “hahahaha”, bahkan emote LOL. Ada yang membalas “Yo jelaslah, lawas”, ada juga yang nggak segan bilang “Kalau kamu cantik, kamu nggak mungkin berteman sama kita-kita,”.

Itu bagi saya biasa, menjadi tidak cantik adalah keseharian saya. Karenanya, saya juga super maklum ketika orang-orang berkomentar begitu.

Saya menyadari bahwa saya tidak cantik, setidaknya menurut standar yang dikonstruksi media sekaligus diyakini orang-orang Indonesia. Bukan cuma ginuk, tapi saya juga berwajah penuh jerawat. Iya, siapa sih yang mau peduli bahwa saya punya kulit super oily plus hormon yang hih suka bikin jerawat muncul itu? Paduan kulit oily dan hormonal, adalah duet combo untuk hidup dengan jerawat nggak ilang-ilang.

Ya, barangkali sebagian batinmu berkata “Perawatan dong,”. Siapa yang mau peduli juga dengan seabreg dokter beserta cream-creamnya yang sudah saya jajal? Toh, saya sih kadang-kadang percaya bahwa uang berbicara, artinya kalau saya punya uang banyak untuk perawatan wajah, muka saya paling mendingan deh.

fp jerawat 5

Toh sejauh ini juga saya sudah baca-baca soal berbagai perawatan yang dilakukan spesialis kulit untuk atasi jerawat, mulai dari injeksi serum sampai fractional laser. Semua itu secara ilmiah tentu bisa dipertanggungjawabkan, tapi ya sekaligus nggak murce. Susah bagi saya menjangkau perawatan-perawatan itu dengan kantong pas-pasan ini. Maka dari itu, saya memilih berdamai dengan menelateni treatment yang bisa saya jangkau. Nggak ampuh memang, jerawat tetap muncul, tapi ya ini yang bisa saya lakukan.

Selain itu dokter sendiri bilang bahwa sebelum saya tua dan menopouse, saya bakalan terus berjerawat. “Ada juga beberapa orang yang memang secara genetik berjerawat,” tambahnya seolah menekankan bahwa saya kemungkinan was born with theeese pimple.

Nggak cuma berdamai dengan itu, saya juga berdamai dengan segenap pengalaman yang saya punya gara-gara jerawat. Mulai dari disambati ibu sendiri, sampai ditawari pergi ke dukun. Nih lebih jelasnya:

1. Disambati Ibu Sendiri
Setiap kali pulang ke rumah, mama saya selalu bilang “wajah e jerawaten,”, “sumpek aku delok wajahmu, jerawaten terus,” dan lalin-lain. Intinya nyambati jerawatan. Ibarat sedih itu ada levelnya, di nomor inilah kesedihan paling puncak yang saya rasakan. Tapi ya sudah, beliau tahu kok effort saya bagaimana selama ini.

2. “If only you had a face as smooth as yours on the picture”

fp jerawat 3
Kalimat ini betul-betul keluar dari tenggorokan seorang kawan saat kami selesai berfoto di tepi Pantai Batu Bengkung. Ia mengatakan itu sambil memandang foto selfie kita berdua yang memang pakai beautify. Saya waktu itu ketawa aja. Si kawan satu ini memang unik, padahal beberapa waktu sebelumnya dia bilang lebih senang lihat wajah saya tanpa make up, ini sungguhan lucu.

3. Diusap Kain Leluhur

fp jerawat 1
Ide tersebut muncul dari seorang asisten rumah tangga di kos saya waktu masih di Soekarno-Hatta. Kala itu saya lagi nungguin gojek di teras, tetiba ia datang dan ikutan duduk. Entah ada angin apa, dia memandang wajah saya seraya bilang “Coba kamu cari kain mbah buyutmu, terus usapin ke muka. Pasti wajahmu bersih nanti,”. Mendengar itu saya antara bengong dan pengen ketawa. Saya iyain aja deh biar cepet.

4. Didukunin

ilustrasi-paranormal-dukun_20180205_204321

Masih ide yang datang dari ART, bedanya ini ide dari ART waktu saya ngekos di Jl. Karyawiguna belakang Kampus UMM. Saat itu saya lagi patah hati berat, patah hati pertama sebagai mahasiswa kalau nggak salah. Sontak, jerawat saya muncul rame banget kayak arisan kan kalau lagi stress tuh.

Saya yang lagi enak-enak masak indomie, tetiba disamperin sama ibu ART yang sudah lumayan sepuh. Beliau bilang pakai bahasa Jawa khas Banyuwangi yang intinya “Mbak, ke dukun aja ta? Nanti wajahmu jadi bersih, bersinar-sinar kayak diamond. Bikin lelaki itu nyesel mbak, pasti dia mau balik nanti,”. Saya yang memang susah judes sama tiyang sepuh, cuma menolak sambil ketawa.

5. Jeritan MUA

fp jerawat 4
Bebapa tahun lalu, sepupu saya menikah di masjid Agung Surabaya. Saya jelas seperti biasa, didapuk jadi mbak-mbak penjaga souvenir. Dateng subuh-subuh ke venue, lalu ketemu MUA. Baru ngelihat muka saya, dia sudah berteriak “Duh jerawaten! Jerawat e uakeh lho iki,”. Betul-betul berteriak, sampai mama saya di ruangan sebelah denger. Ia juga berkali-kali ngingetin asistennya yang makein foundation ke wajah saya, dia bilang jangan sampai jerawatnya kelihatan. Hem, senyumin aja sih, hahahaha

6. Muka Kayak Pembantu
Yang satu ini, literally terlontar dari sahabat baik saya sendiri, seorang lelaki yang kemana-mana sering sama saya dulu. Saya nggak inget gimana asal muasalnya dia bilang begini, yang saya inget cuma waktu itu kami lagi di koridor dekat kantor jurusan. Dia bilang wajah saya jerawatan dan kayak pembantu. Saya marah waktu itu. Bagi saya merendahkan profesi tertentu itu bukan hal baik.

7. Dimodusin Pedagang Sabun
Ini yang baru bulan lalu saya alami. Waktu itu saya naik grab car, abis pulang dari Bromo. Sengaja bare face, mulai dari berangkat sampai pulang. Saya lagi liburan dan ogah diribetin sama make up, sesimpel itu alasannya.

Dari kaca mobil yang di atas itu, pak driver memandangi saya. Beberapa kali kegap, hingga akhirnya beliau bilang “Mbak, mbak yang jilbab ijo, udah lama jerawatan?”. Saya bilang “udah” sambil bodo amat gara-gara capek banget.

Tampak nggak menyadari keengganan saya mengobrol, driver melanjutkan hasrat bicaranya. “Istri saya jualan sabun Amorea. Itu ampuh lho mbak, tetangga saya sekarang wajahnya bersih kalau pakai itu. Kalau mau tinggal WA saya aja mbak, kan ada ya nomor saya, tadi kan saya telpon,” tukasnya. Lagi-lagi saya iyain singkat, sambil sandaran di kursi, ngantuk.

8. Jomblo Karena Jerawat Ya?

fp jerawat 2
Lebaran 2 tahun lalu, saya lagi semobil sama tante dan om saya. Terjadilah pembicaraan soal saya yang masih jomblo-jomblo aja. Si Om bicara banyak, menduga-duga berbagai faktornya. Mulai dari kurang pergaulan, sampai muka jerawatan. “Itu memang jerawatan ya? Nggak bisa diilangin? Coba perawatan deh, aku dulu naksir tantemu karena wajahnya bersih dan pipinya merah,” celetuknya tanpa tendeng aling-aling.

Pada orang-orang seperti ini, yang saya tahu, mereka tidak betul-betul peduli. Mereka hanya berhasrat bicara, dan butuh ditanggap. Maka kemudian, saya mengambil strategi komunikasi ‘njupuk ngisor e’, alias jadi inferior. Intinya saya menanggapi dengan cara yang mereka harapkan.

Kedelapan peristiwa itu pada akhirnya saya terima dengan lapang dada, saya memilih berdamai dan memaklumi society yang memang manusia biasa, terbiasa dengan standar dan memandang apa-apa lewat mata belaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s