Salahkah Jika Aku Masih Hidup di Zamanmu?

dd202_2_cover_image_1

Pulang selalu torehkan cerita tersendiri pada setiap kalinya, tak terkecuali pada pulang kali ini. Mengambil cuti pertama setelah 3 bulan bekerja, rasanya sudah lama sekali saya pulang nggak leha-leha. Ya, mama sempat protes dulu sebab sekali-kalinya pulang, saya masih saja ngumek kerjaan. Ternyata begini rasanya ambil cuti.

Cerita kali ini bukan cerita yang baru sebenarnya, hanya saja baru saya renungkan, baru tahu harus memaknainya seperti apa. Jadi begini, setiap kali saya pulang, mama dan papa saya selalu curhat soal gadget atau hal-hal lain yang berhubungan dengan teknologi. Seperti contohnya papa yang curhat kala handphonenya nggak bisa menyimpan file unduhan, atau mama yang bingung dengan caranya nyambungin laptop ke internet.

Papa cerita kalau berkali-kali harus service handphone, yang ujungnya juga diflashin mulu. Sementara mama, yang masih bekerja, permasalahannya jauh lebih kompleks dari sekedar nyambungin wifi. Dalam pekerjaannya yang mulai harus melek teknologi, beliau dituntut untuk kuasai cara menggunakan email, menggunakan seabreg aplikasi (mulai dari aplikasi rujukan pasien, sampai aplikasi laporan bidan), hingga bikin laporan-laporan yang pakai ms. Word dan Excel.

blog_feature_IT_Careers_072015

Bagi bidan-bidan muda, tentu itu semua memudahkan sebab apa-apa tinggal pencet, tapi bagi mama saya, sekedar memahami logikanya saja, butuh kerja keras. Ya, setiap teknologi memiliki logika, simbol, dan pemahamannya masing-masing kan? Tentu dinas kesehatan nggak sebodoh itu menerapkan penggunaan teknologi tanpa ada pelatihan, tapi pelatihan ini hanya sampai pada tataran hapalan. Akibatnya? Akibatnya, saat mama saya mendapati cara-cara yang dihapalkan itu nggak bekerja dengan baik, beliau bingung dan nggak tahu harus gimana. Padahal jika lebih paham konstruksi dasar dari tindakan-tindakan dari sekedar mencet ctrl+S saja misalnya, banyak hal yang nggak jadi rumit.

Maka kemudian, saya jadi teringat pada materi stand up ‘MESAKE BANGSAKU’ Pandji Pragiwaksono. Bahwa salah satu kelompok minoritas di negeri ini adalah para lansia. Sebab minoritas, maka banyak kebijakan yang nggak berpihak pada orang-orang lansia seperti mama saya termasuk kebijakan soal teknologi ini. Saya selalu teringat pada hakikat teknologi adalah apa-apa yang mempermudah hidup manusia, tapi jika seperti ini, manusia yang mana yang dimudahkan? Manusia mayoritas maksudnya? Bidan-bidan muda itu maksudnya?

Tentu mengumbar gerutu nggak akan berujung pada apapun, toh kalau soal ini, barangkali batinmu berkata “Udah lansia kok masih kerja.” Ya, memang, seharusnya mama saya di rumah saja menikmati masa pensiun yang sesungguhnya itu nggak akan lama lagi. Hanya saja, saya rasa perlu dievaluasi soal kebijakan penggunaan teknologi ini. Mama saya tentu bukan satu-satunya bidan yang mengalami masa-masa transisi penggunaan teknologi saat sudah sepuh.

web-information-technology-it-support

Transisi ini bagi saya cukup massif. Bukan sekedar digitalisasi dokumen saja yang barangkali Cuma repot di pelaporan. Kalau Cuma begitu, pergi ke rental computer saja bisa kan? Transisi ini meliputi banyak hal seperti yang sudah saya paparkan di atas, jelasnya lebih menuntut kemadirian, seperti seyogyanya tujuan munculnya teknologi. Bidan dituntut untuk bisa kirim laporan via email sendiri, rujuk pasien sendiri pakai aplikasi, dll. Itu semua berada di posisi ‘harus’, nggak ada pilihan lain. Can you imagine?

Kalau sudah begini, saya jadi perpikir bahwa definisi kerja keras-banting tulang itu nggak melulu tergambarkan oleh banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan atau banyaknya tanggung jawab yang harus ditanggung. Kerja keras bagi mama saya barangkali berarti memahami dan beradaptasi dengan teknologi masa kini.

Kalau sudah begini, saya juga jadi teringat pada kata-kata Nagabonar dalam film ‘NAGABONAR JADI 2’. Kalimat itu begitu menyentuh, berbunyi “Salahku, aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit kumengerti, tapi berupaya kupahami karena aku mencintaimu, Bonaga…” Ya, memahami teknologi hingga sesusah payah ini, barangkali adalah perwujudan cinta mama pada saya. Betapa beliau masih harus terus bekerja demi terus menyekolahkan saya yang tak kunjung lulus ini.

Advertisements

2 thoughts on “Salahkah Jika Aku Masih Hidup di Zamanmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s