The Art of Relationship

 

picasmosaic033 REVV

Sebetulnya, meski saya berkali-kali dekat dengan pria, tidak banyak yang bisa bertahan lama. Terakhir kali setidaknya sekitar 2008 sampai 2010 silam. Sudah lebih dari 10 tahun lalu, lama banget kan? Iya, lama.

Kali ini, pengalaman yang sama terulang. Setidaknya sejak 2017 silam. Jika dulu saya memaknai kedekatan dengan pria berarti kesialan, maka kali ini berbeda. Ya, dulu saya memutuskan mengakhiri hubungan sebab kalau dipikir-pikir betapa sial saya sebagai manusia biasa yang lemah pada hasrat, harus selalu terbelenggu pada keinginan-keinginan maksiat. Saya merasa begitu lelah menghadapi ujian-ujian hasrat itu.

Kali ini saya memaknai kedekatan dengan pria sebagai proses tumbuh bersama. Sampai pada pemaknaan ini, tentu tidak serta merta. Di tulisan saya sebelumnya, saya memaknainya sebagai permainan roller coaster semata. Entah kenapa, saya nggak mau berhenti memaknai lagi dan lagi. Bisa jadi hubungan ini terlalu berarti, bisa jadi juga saya cuma ogah hubungan ini akan berakhir sia-sia. Sebab saya tahu, kami tidak akan hidup bersama dalam institusi keluarga.

Tumbuh bersama. Ya, meski baru beberapa bulan, ada banyak pendewasaan yang saya dapat dari hubungan ini. Tidak lagi sekedar senang-senang disertai drama yang aduhai bapernya. Tidak lagi cuma saling lempar gombalan yang sebetulnya sudah seperti latihan merangkai diksi belaka. Bagi saya, justru letak sesungguhnya dari hubungan ini adalah pada sisi pendewasaannya.

picasmosaic035

Dulu, saya begitu kaku memaknai banyak hal, salah satunya tentang sikap orang lain pada saya. Hal remeh saja, semacam telat menjemput bisa saya bikin panjang. Saya bisa ngomel dan nelangsani hal itu sepanjang jalan, merelasikannya dengan integritas sampai merelasikan betapa gara-gara telat doang itu ngaruh ke jadwal saya yang lain.

Kekakuan saya itu ternyata nggak bisa selalu berlaku dalam hubungan. Saya ternyata harus memahami, nggak melulu maunya dipahami. Dulu, saya ngomel saya marah sebab saya selalu berpijak pada objektivitas. Semua orang tahu betapa telat itu suatu hal yang salah, maka amarah saya sangat boleh dan wajar. Tapi ternyata hidup nggak melulu begitu.

Objektivitas, barangkali jadi hal yang harus ditepikan dalam hubungan. Justru the art of relationship adalah saat kita bisa memandang dan menyikapi apa-apa yang terjadi dalam hubungan dengan cara pandang kita sendiri. Cara pandang dan sikap ini nggak melulu ditentukan oleh norma dan nilai sosial. Ada pengertian, pemakluman, meski tak hilangkan juga keinginan untuk saling membangun. Betapa sampai pada sekedar sikap menghadapi telat menjemput saja butuh sebuah kebijaksanaan yang tidak sederhana bukan?

Ya, kebijaksanaan ini sementara terimplementasikan pada hal-hal semacam pemakluman atas sifat super duper moody contohnya. Saya beneran nggak pernah tahan sama beginian, dulu. Bagi saya, sifat moody itu sangat egois, terlebih jika tidak dikomunikasikan. Sebagai orang komunikasi saya terbiasa bilang kalau saya lagi bad mood, semisal saat PMS atau haid. Saya terbiasa memberitahu orang-orang dekat bahwa saya lagi PMS dan meminta pemakluman. Itu, itu pula yang saya harap dilakukan oleh orang lain.

 

picasL-p4572 REV 2

Tapi kenyataannya tidak. Saya bisa jadi sansak omelan ataupun jadi sasaran kata-kata pedas atas harinya yang buruk. Saya bisa sangat sebal bahkan super uring-uringan kalau sudah begitu. Namun untungnya hal seperti ini nggak selalu berujung panjang. Lama-lama saya paham, hari buruk bisa menimpa kapan saja, dan bad mood hanya perlu dimengerti. Apa sih yang dibutuhkan? Bukan kesebalan, tapi barang kali semacam elus-elus punggung secara virtual. Bahkan diam bisa jadi sangat membantu. Ya, nggak usah tanya apa-apa, biarkan saja diam menjadi jarak hingga ia betul-betul sembuh dan siap kembali menyapa.

Itu baru satu dari seabreg pendewasaan yang saya alami. Masih ada yang lain, tapi pada dasarnya semua mengajarkan tentang memahami dan tidak tergesa. Ya, tidak tergesa. Saya ini orangnya super panikan, susah untuk tenang. Saya bisa langsung berpikir macam-macam cuma karena sehari saja nggak dichat. Tapi lama-lama saya jadi paham bahwa apa-apa dilihat pada hakikatnya. Hakikat hubungan itu apa sih? Apa iya hubungan berarti harus selalu terhubung? Terhubung secara virtual misalnya? Apa bijaksana menyandarkan pada itu semata? Tentu tidak kan?

Ya, sejujurnya sampai titik ini pun saya masih belum bisa mengatakan apa itu hakikat relationship. Mau dibilang sebagai ajang tumbuh bersama, tapi kadang pun kami masih begitu senang menjadi anak-anak. Mau dibilang sebagai sekedar permainan tapi kok rasanya terlalu banyak pendewasaan yang sama-sama dialami. Barangkali, barangkali saja lho ini, hakikat hubungan adalah proses pemaknaan lagi dan lagi yang berhadiah kebijaksanaan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s