Bonus Yang ‘Lain’ Nggak Kalah Membahagiakan

Ultimate_Guide_Holiday_Bonus

Siapa sih yang nggak suka sama bonus? Sudah pasti semua suka-semua senang sama bonus. Sekali-kalinya dapat bonus sudah berasa jadi orang paling beruntung hari itu, mesam-mesem sendiri, kalau ingat ya bilang ‘Alhamdulillah’. Terlebih kalau udah gede begini, nggak cuma mampu beli chiki bonus mainan, tapi bisa juga beli sepatu bonus kaos kaki. Meski cuma kaos kaki, batin ini nggak bisa ditahan untuk bergumam “lumayan nih,” yhaaa khaan?

Yang lumayan-lumayan ini macam-macam bentuknya. Udah nggak jaman bonus kaos kaki. Yang lagi sering itu bonus berupa potongan untuk pembelian berikutnya, yang sebetulnya nggak lebih dari strategi biar customer belanja lagi dan lagi. Tentu, bonus-bonus begini motifnya ekonomi, nggak ada makan siang gratis kan? Tapi toh bodo amat, yang penting hepi :)))

Bagi saya, bonus memang menyenangkan, tapi bonus yang didapat dalam bentuk lain jauh dan sangat jauh lebih membahagiakan. Seperti yang saya dapat malam ini (27/3). Bonus itu berupa kesempatan.

Ya, malam ini saya mengunjungi sebuah toko baju di daerah Soekarno-Hatta. Bukan toko baju bermerek dan bergengsi, sama sekali bukan. Letaknya nyelip di gang sempit, bentuknya semacam rumah yang pagarnya ditutup. Kebayang kan kalau customer mengiranya toko ini tutup? Sepi sekali malam itu, saya jadi satu-satunya pembeli.

Saya masuk, dan mendapati seorang penjaga toko lagi mengaji. Kegiatan itu terhenti begitu saya datang. Salting tentu, tapi saya langsung pura-pura milih-milih baju padahal saya mau beli tas. Ya, toko ini jualan tas juga meski sebetulnya koleksi majornya baju dan celana.

Singkat cerita penjaga toko ini kemudian melayani. Ia adalah seorang wanita paruh baya yang ramah dan asyik abis. Saya yang super duper rewel cuma dalam rangka milih model dan warna tas ini ia ladeni sepenuh hati.

graphicstock-children-writing-and-reading-illustration_H_6N6Fg3l_SB_PM

Kelar milih tas dan baju (sungguh, sulit untuk nggak nambah ini), saya lantas ke meja kasir untuk membayar. Ibu ini lagi yang ngurusi. Hingga akhirnya saya tertegun saat beliau ngodein minta ditolongin.

“Iki tulisan e opo mbak? Gak ketok aku,” tuturnya sambil menyodorkan price tag tas yang mau saya beli. Mau dicatat rupanya. Saya langsung membacakan dan beliau tampak sulit untuk menulis.

“Tak tulisno kene buk,” ujar saya sambil mengambil alih polpennya. Ternyata toko ini pakai cara manual dalam pencatatan keluarnya barang dagangan. Juga nggak ada struk, nggak ada nota atau apapun itu namanya sebagai bukti pembelian.

Saat menuliskan tas dan baju yang saya beli di catatan, saya melihat tulisan ibu ini betul-betul seperti tulisan bocah yang baru belajar menulis. Huruf yang ukurannya nggak seragam, sampai nulisnya nggak selalu nempel di garis-garis buku.

Saya betul-betul baru tahu ada penjaga toko macam begini di jaman yang rasanya apa-apa serba canggih serba digital. Oke urusan menulis selesai, waktunya bayar. Saya keluarkan kartu debit, nggak salah dong sebab di situ emang ada mesinnya.

“Nggak iso pake ngunu iku mbak, pake uang ae,” pinta ibu ini.
“Lha iki onok mesin e ngene buk,” tukas saya ngeyel.
“Gak iso aku makenya. Lagian ini emang nggak pernah dinyalakan,” imbuhnya.

Oke saya pasrah, harus tarik tunai dulu ini. Setelah berdebat kecil soal Indomaret mana yang ada ATMnya sama beliau, saya akhirnya gas motor ke Alfamaret. Perdebatan yang sia-sia sih.

two-friend-girls-with-shopping-bags_gg83988435

Usai tarik tunai dan balik lagi ke toko, saya bayar. Beliau sampaikan permohonan maaf karena bikin saya repot.

“Maaf lho mbak, wes minta ditulisin, nggak bisa gesek lagi bayarnya. Lhaio gimana sih yang punya toko ini, saya nggak bisa apa-apa kok disuruh jaga. Abis yang punya toko ini pergi ke Surabaya selama seminggu mbak,” ujarnya sekalian curhat.

“Nggak papa buk. Lak gak ngene sampean gak eling aku,” kata saya separuh perez sambil cengengesan. Beliau tampak senang dengan kedatangan customer yang ngoceh mulu bak burung beo ini, sampai-sampai saya dianterin hingga luar pagar. Entah ini bagian dari service yang bermotif ekonomi juga apa tidak, tapi bagi saya bonusnya bukan itu.

Ya, bisa mengetahui bahwa masih ada ibu-ibu yang susah membaca dan menulis itu adalah bonus. Bisa membantunya menulis itulah bonus. Perdebatan kecil yang seru dan berujung sia-sia soal ATM itulah bonus. Singkatnya, bertemu dan menjalani beberapa menit bersama ibu ini adalah bonus.

Barangkali sederhana dan tidak penting, tapi bagi saya pengalaman bertemu ibu ini sungguh membahagiakan. Entah ya, conversation kami begitu genuine, rasanya kayak bukan orang asing sampai beliau sempat-sempatnya curcol dan saya sempat-sempatnya perez. Yang begini ini, seberapa mungkin terulang di toko-toko yang lain? Yang barangkali penjaganya keburu males melihat kedatangan customer sing ketok gak gablek duit begini.

Saya sampai berjanji pada ibu ini untuk datang kembali. “Tak parani maneh ya buk emben-emben, gak blonjo tapi, nyambangi sampean,” tutur saya sebelum menstarter motor sambil mesam-mesem bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s