Nonton ‘LOVE FOR SALE’, Disadarkan Akan Resiko Memenangkan Hati

hqdefault

(Credit: id.bookmyshow.com)

Jumat malam (5/4) kemarin, Saya nonton film LOVE FOR SALE. Entah kenapa ya, semenjak bekerja, saya jadi males banget nonton tayangan-tayangan yang bikin mikir. Film detektif, film omnibus yang sarat kandungan kritik sosial, ataupun video-video youtube yang bertema politik itu semua adalah tontonan favorit saya. Namun makin hari, semua itu makin ogah saya sentuh. Saya jadi lebih seneng cari-cari film komedi ataupun tayangan receh semacam youtubenya Raffi Ahmad sampai MLI.

Barangkali saya cuma lagi butuh hiburan saja. Oh iya, kembali ke film LOVE FOR SALE. Memilih film ini pertimbangan utamanya adalah, ini produksi Visinema, rumah produksi milik Angga Dwimas Sasongko, sosok yang saya idolakan. Angga pernah bilang bahwa LOVE FOR SALE adalah salah satu karya dimana ia nggak lagi ‘menyetir’ dan memaksakan idealismenya. Dalam proses kreatif film ini, ia membebaskan para kru untuk mengekspresikan ide-de. Hasilnya, film ini berhasil berjaya di FFI dan festival-festival lain.

Sebagai orang yang selama ini sedikit mengikuti karya-karya Angga Sasongko, terasa sekali perbedaan LOVE FOR SALE dibanding film-film Angga sebelumnya. Saya selalu menemukan misi-misi yang berbau aktivis, kritik sosial, serta makna yang mendalam di film-film Angga, kecuali film HARI UNTUK AMANDA -yang emang kerjasama dengan MNC-.

Sebut saja CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU, dalam film ini jelas, persoalan-persoalan yang timbul dari kerusuhan ia angkat. Biografi serta semangat besar tokoh Sani betul-betul menampar banyak orang, betapa dedikasi dan keyakinan membawa pada perwujudan mimpi.

Begitupun dengan SURAT DARI PRAHA. Berangkat dari persoalan sejumlah orang yang kewarganegaraannya nggak diakui oleh negara, ada kisah cinta yang tersibak dan melahirkan sebentuk romantisme unik antara Larasati dan Jaya. Angga seolah menunjukkan serta mengingatkan bahwa kepentingan politik dampaknya sampai ke ‘hati’, sampai ke hubungan yang berbuntut panjang.

Review-Film-Sarah-Sechan-Curi-Perhatian-di-Film-Bukaan-8

(Credit: apabedanya.com)

Nuansa yang sama juga terkandung dalam film BUKAAN 8. Menurut saya, film ini diinspirasi oleh pengalaman dan kesan Angga semenjak punya Rigen, putranya. Saya sedikit tahu bahwa Angga merasa bahwa Rigen mengubah hidupnya dengan drastis, termasuk idealismenya. Maka nggak heran kalau BUKAAN 8 mengandung pesan betapa perjuangan seorang ayah yang miskin tapi idealis serta diremehkan mertua itu nggak main-main menjelang kelahiran si jabang bayi. Tokoh Alam Merdeka digambarkan sebagai sosok yang doyan mengkritik dan keluarkan statemen-statemen kontroversial di twitter. Terkait politik tentunya. Nggak jauh-jauh deh dari beginian.

Namun LOVE FOR SALE beda. Ya sudah pasti, wong sutradaranya beda, bukan Angga. Tapi di bawah Visinema, saya mengira akan tetap ada nuansa khas ala Angga yang tersemat, tapi ternyata tidak. Satu-satunya rasa yang terus melekat adalah, kesan yang mendalam. Ya, bagi saya, meski sudah menanggalkan isu-isu politik beserta idealisme kritik, film ini tetap tinggalkan kesan mendalam, sampai saya bisa menyelaminya lagi dan lagi.

Kisahnya cukup absurd dan ringan, tentang Richard di bujang lapuk dan Arini si teman kencan sewaan. Sudah bisa ditebak, meski awalnya mereka terlibat sebagai klien dan penyedia jasa, cinta tumbuh nggak terelakkan. Lalu Richard mulai mantap melamar, dan puff… Arini pergi seolah menyadarkan bahwa ini semua hakikatnya soal akad profesional.

Yang masih terngiang hingga sekarang adalah kata-kata Richard, bahwa mencintai itu mengandung resiko. Ini, justru sangat menampar saya yang kerap kali naif kalau sudah cinta.

fheadline jerawat

Barangkali, kesan mendalam atas film ini cuma gara-gara saya lagi sedih sebab sosok yang saya cintai tetiba bilang bahwa saya bukan tipenya. Tentu, hati mana yang nggak terkejut, nggak kalut, nggak ingin cepat-cepat kukut? Sama seperti Richard, seharusnya saya selalu ingat bagaimana ini semua berawal, dan barangkali muaranya akan sama, sebab begitulah resikonya. Bukan menjadi tipenya pun juga resiko.

Saya kerap kali mensimplifikasi bahwa ketinggian derajat saya sebagai manusia salah satunya terletak pada membela perasaan saya sendiri, menikmati dan hidup dengan segala emosi dan perasaan saya, termasuk perasaan mencintai seseorang. Naif pada persoalan ini, saya rasa sah-sah saja sebab toh ini cuma melibatkan saya sendiri, jika hal buruk terjadi tidak akan merugikan orang lain.

Saya selalu merasa, dalam berbagai hal ada banyak sekali motif yang memarjinalkan kedudukan sebagai manusia, makhluk berperasaan. Urusan pekerjaan, harus bermotif ekonomi, berkompromi sana-sini. Urusan pendidikan, lagi-lagi dituntut untuk ikuti sistem yang jelas-jelas penuh kepentingan, saya harus berkompromi lagi. Urusan beragama, aturannya dibikin seabreg, padahal dibikin simple pun bisa wong urusannya sama Yang Maha Kuasa. Segala urusan hidup deh, pokoknya saya harus ikuti aturan dan sistem, nggak bisa seenak ego saya sendiri.

E19_beinghuman-620x350

(Credit: india-forum.com)

Maka, soal hati, soal perasaan, soal mencintai saya ingin memenangkannya dan ogah kompromi-kompromi lagi serta ogah pusingin resiko-resiko yang siap datang. Yes, cinta itu buta, cinta itu naif, bagi orang-orang yang hidup di dunia yang menciptakan konsep buta dan naif. Tapi bagi makhluk yang tercipta dari kasih, dibesarkan dengan kasih, maka memiliki kasih dan membela perasaannya sendiri adalah hal biasa dan nggak perlu dihina-hina.

Maka di sinilah saya, senasib dengan Richard, menikmati resiko dan kembali sendiri lagi. Di akhir film Richard bilang “Mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan. Tapi ku kira mengambil resiko tak pernah ada salahnya.” Tentu, meski seperti ditampar sebab diingatkan soal resiko, kalimat terakhir dari kutipan itu serasa menepuk-nepuk punggung hati saya, seolah menguatkan bahwa saya telah berani mengambil resiko untuk memanusiakan diri saya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s