Rumah Tiada Dua

BeautyPlus_20160912172248_save

Dulu waktu masih remaja, saya sering sebel sama rumah saya yang berada di pelosok desa. Soalnya jelas, rumah ini jauh dari pusat kotanya Nganjuk. Waktu SMP, saya kalau sekolah aja harus naik sepeda dulu abis gitu dilanjut naik bis. Mau nongki cantique, ato sekedar jalan-jalan di pusat pertokoan juga harus menempuh 13 km. Sebel pokoknya.

Selain itu, saya juga sering diejekin temen-temen sekolah. Mereka sering bilang kalau di sekitar rumah saya nggak ada Indomaretnya jadi udah fix ndeso banget. Belum lagi waktu SMA, sakit ati tuh waktu dibilang “Rumahmu kan kabupaten, cah kabupaten kowe.” Hem, sedih.

Kalau inget itu semua, pengen ketawa sendiri. Lha gimana, kini justru lokasinya yang berada di desa ini malah bikin nyaman, bikin kangen. Ya namanya rumah, bukannya selalu begitu? Tentu. Kalau dipikir-pikir lagi, betapa beruntungnya setiap kali pulang kayak berasa liburan yang sesungguhnya. Dari rumah aja bisa melihat hamparan hijaunya sawah, menghirup udara segar, dan mendengar gemerisik suara daun bambu yang terterpa angin. Syahdu kan? Belum lagi suara angin kencang yang begitu mudah dimaklumi. Nggak ada duanya memang.

 

20160718_130543

Bangun tidur, duduk-duduk doang di teras, sepaket yang saya sebutin di atas itu udah tersedia di tambah secangkir teh Earl Grey. Jalanan masih sepi, yang ada cuma beberapa petani yang naik sepeda pelan-pelan sambil saling bersenda gurau. Suara burung mulai memecah dingin, diiringi dengan suara sapu para tetangga yang saling bersahutan.

Sementara langit masih gelap. Pelan-pelan fajar muncul semburat di antara awan-awan sisa hujan semalam. Ya, semalam hujan deras sampai-sampai para katak masih ada yang suarakan bahagianya di subuh hari. Mereka melompat-lompat di atas barisan lubang tanah kecil yang terbentuk akibat tetesan air dari genting.

Syahdu belum usai, subuh dihangatkan pula oleh sapaan orang-orang yang lewat. Mereka yang memandangi dari jalanan, bergelut dengan ragu sambil membatin “Ini mbak Tantri bukan ya?” gara-gara saya yang emang lama nggak pulang. Hingga akhirnya bodo amat dengan itu, mereka lantas melontar “Monggo mbak,” atau kalau ada yang sudah yakin, mereka akan menambahkan “Kapan dugi mbak?” Sebuah basa-basi yang khas, yang tentu nggak nemu beginian di kompleks kosan di Malang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s