Angan Tentang Senja di Usia Senja

images (2)

Pada banyak waktu, bahkan di sela-sela hadirnya pria lain yang datang silih berganti, ada satu pria yang terus menetap atau setidaknya kalaupun ia pergi, perginya nggak jauh-jauh dan pasti akan kembali. Kalau pergi dia nggak pamitan, tapi begitu datang lagi ia minta dimaklumi. Tentu, aku maklum, toh memangnya aku ini siapa minta dipamiti? Pemakluman ini biasanya akan disambut dengan “Alhamdulillah, trimakasih ya.”

Menjalani hari dengan pria ini memang tidak pernah pasti. Tidak pasti kapan akan betul-betul mendapatkan perhatiannya, kala tidak cuma aku wanita yang hadir di hidupnya. Tidak pasti harus berinteraksi seperti apa, kala kami tidak sekedar saling melontar tatap di setiap pertemuan. Tidak pasti pula apa yang terpatri dari keberadaan kami, kala pada banyak kali kami berjauhan lalu baper-baperan.

Namun dari semua ketidakpastian, aku bisa memastikan satu hal bahwa aku dan dia kelak akan menjadi orang yang paling bisa menikmati senja dengan sepenuh kehangatan di sisa-sisa usia tua… jika berkesempatan. Ya, dari segala fase hidup manusia entah kenapa aku memilih untuk memastikan fase yang paling ujung, paling akhir.

Bagaimana bisa aku memastikan itu? Sulit untuk dijelaskan.

images (1)

Orang bilang, di masa tua, tidak banyak yang bisa dilakukan sebab selain fisik yang melemah, fase yang memang harus dijalani adalah masa tua. Masa dimana sakit-sakitan jadi teman, ketenangan sudah serupa rindu harian, meditasi dan kontemplasi jadi kesukaan, dan kematian adalah takdir yang terus berkelebat di pikiran serta ambisi sudah sejauh mungkin ditepikan.

Di masa yang sudah lelah dan dipenuhi oleh pasrah itu, aku bisa membayangkan salah satu alasan untuk tetap hidup dan tidak menyianyiakan detik-detik terakhir adalah senja yang terlewati bersama dia. Senja indah, dan kami berdua juga tak kalah indah.

Burung berpulang memecah udara yang semakin dingin, sementara kami duduk berdua memecah hening. Masih tetap sama, lengan kiriku melingkari lengan kanannya. Daguku tersandar di bahunya. Bedanya, lenganku kini lebih lemah dan lebih kurus. Barangkali lapisan daki ada di antaranya, sebab tentu aku sudah nggak sanggup lagi membersihkan diri dengan lulur lavender favoritku. Wangiku pun sudah tak lagi disponsori oleh Marc Jacobs Daisy Honey, tapi sudah berganti jadi wangi minyak angin yang suka ku oleskan di hampir sekujur tubuh demi mendapatkan kehangatan paripurna. Rambutku sudah tak lagi hitam tebal dan sehat. Yang ada cuma rambut putih yang sudah mulai tipis, tergelung rapi.

Sementara dia, sudah tak lagi memakai sweater slimfit ala Korea yang biasa dipadu dengan kemeja di dalamnya. Dia jelas lebih memilih jaket rajut berkancing berwarna khaki yang agak kedodoran dipadu dengan syal hitam penahan angin dingin. Saat aku merubah posisi dagu jadi sedikit lebih menepi, ia memandangiku sambil tersenyum. Senyumnya tak lagi melengkung sempurna, sebab giginya juga nggak genap lagi, hampir habis malah. Ya, tentu sekedar menghabiskan waktu sore bersamaku tidak perlu pasang gigi palsu biar senyumnya paripurna.

images (3)

Angin sore itu memaksa kami untuk bertoleransi demi jadi penikmat senja sejati. Sekedar merinding sesaat sudah biasa, kini aku harus menanggung bersin dulu, sementara dia berkali-kali mengusap hidung yang kedinginan. Duh, menjadi tua begini amat sih.

Kami memecah hening dengan memulai pembicaraan soal burung yang menghiasi langit. Aku yang menua ini nyatanya masih begitu penasaran dengan hewan-hewan sekitar selayaknya bocah yang mempertanyakan kenapa suara kucing itu ‘meong’.

“Hun, coba lihat burung-burung itu,”
“Iya, kenapa memangnya?” tukasnya sembari meletakkan secangkir kopi Bali favorit yang barusan disesap.
“Mereka terbang bergerombol tapi bisa rapi begitu ya,”
“Iya, entah itu membentuk pola apa,”
“Kok bisa gitu ya? Ada insting apa di antara mereka?”
“Entahlah, tapi coba lihat, mereka menuju ke satu pohon besar,”
“Iya ih, pada ngapain?”
“Ya pulanglah Bun, sore-sore begini kalo nggak pulang mo kemana lagi?”
“Sok tahu deh. Kalau cuma pulang ngapain rame-rame?”
“Kalo bisa pulang barengan, ngapain pulang sendirian?”
“Iki lho mesti, aku nanya beneran jawabnya mesti guyon,”
“Kan mereka keluar kandang buat cari makan. Begitu kenyang, urusannya kelar. Ya udah, perginya barengan pulangnya juga barengan,”
“Nggak gitu, maksudnya mereka tuh semacam hidup secara kolektif gitu ta? Secara ilmiah gitu lho Hun,”
“Yo nggak tahu, Bun. Kamu i mesti lho nanya gini ke anak Satra Inggris,”
“Mesti bawa-bawa jurusan,”
“Lhaiyo kamu yo mesti nanya’e aneh-aneh. Aku sebagai sarjana sastra sejak puluhan tahun lalu mesti kudu menghadapi pertanyaan-pertanyaanmu sing embuh. Kamu kok gak nyari tempat labuhan segala pertanyaanmu itu ke pria lain se? Yang barangkali lebih banyak tau,”
“Nggak, ngapain juga. Mereka nggak ngerti soal Dangdut, Bunda Rita, ataupun mama Iis Dahlia,”

Mendengar itu dia terbahak nyata. Terkekeh-kekeh sampai bahunya bergetar membuatku tak nyaman dan lantas terbangun. Jemari tangan kananku yang lemah mencoba meraih perutnya untuk ku cubit. Namun alih-alih sampai ke perut, tangan kirinya sudah menyambut jemariku duluan, dan menggenggam hangat.

wtstw37srykuc5h3qaotcylpevdfxyb29ftmke6xzrdddrewcdy9efogr9kn69cw-

Angan-angan seperti ini, hanya ku temukan padanya. Seorang teman pernah bilang bahwa menua itu pasti, sepasti segala permasalahan hidup lain yang juga akan hadir silih berganti. Dari segala kekhawatiran yang barangkali bisa diselesaikan jika kami bersama, kekhawatiran akan hari tua saja yang paling ingin ku pastikan. Entah pula mengapa demikian.

Sayangnya, tentu, di awal sudah ku katakan bahwa ini semua indah adanya jika berkesempatan. Nyatanya tidak, kami tidak berkesempatan. Barangkali aku lupa, untuk sampai pada senja di usia senja itu, ada jalan panjang yang harus dilalui, harus dipikirkan. Jangankan sampai, jalannya saja nihil adanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s