Seterjal Naik Gunung, Seasyik Naik Roller Coaster

FHEADLINE ROLLER

Seumur hidup, saya nggak pernah naik gunung. Nggak kayak ‘dia’, yang doyan naik gunung. Bukan tanpa alasan saya ogah banget naik gunung, badan saya yang lebar dan berat ulala ini lho yang selalu jadi momok. Ya, memang nggak sedikit orang berbadan tambun yang mau-mau aja budal mendaki gunung lewati lembah sambil melihat sungai mengalir indah ke samudera, tapi saya ‘No’. Sebab nggak cuma rindu yang berat, naik gunung juga berat, apalagi ditambah badan saya yang sexy-curvy-heavy ini, nggak shanggup rasanya. Terserah deh mau dibilang susah dijak soro atau apa, bagi saya selama saya masih gendut saya nggak mau naik gunung, titik.

Namun, kendati saya nggak pernah naik gunung, bukan berarti saya nggak pernah lalui hal-hal terjal yang naik turun. Setidaknya, pekara mengenal dan berteman dengan ‘dia’ rasanya sudah seperti mendaki gunung lewati lembah, meski tidak secara harfiah. Lelahnya nggak kalah hebat, serunya nggak kalah sarat, bahagianya pun nggak kalah berlipat-lipat.

FP ROLLER 5

Bagaimana tidak, walau baru setahun mengenal dia, jalan hidup pertemanan kami cukup berliku, bikin emosi saya kayak naik roller coaster. Kami sama-sama suka memainkan peran alter sekedar untuk bereksperimen. Kala itu, grup WA jadi lahannya. Setiap hari, setiap malam, saya dan dia bermain peran sebagai duo sejoli yang tengah kasmaran. Saling lempar rayuan, mengoyak gombalan, sampai ciptakan sengitnya pertengkaran. Semuanya sudah dijajal, sekedar demi melihat bagaimana publik beri tanggapan. Lantas apa kami menikmati? Sangat.

Ya, alih-alih bilang bahwa kami 2 orang jomblo kesepian, kami sebut konstruksi peran alter tadi sekedar permainan. Padahal kami sama-sama korban dari para gebetan yang nggak pernah cocok. Ibarat nyari puzzle, kami selalu alami fase “kalau aku cocok, si gebetan yang ogah. Tapi kalau ada gebetan yang ngrasa cocok, aku yang ogah”. Gitu aja terus sampai Avenged rilis album religi, begitu pikir kami. Toh meski nasib kami pekara ini mengenaskan, kami sama-sama teteup punya cem-ceman.

Kemudian waktu berlalu, dan kami kerap bertemu. Menata waktu, tentukan titik tuju. Mulai dari Bangil, sampai mall-mall Surabaya jadi tempat saksi keseruan kita. Sekedar berbincang sambil makan kentang, atau saling menukar pandang, dan diakhiri dengan salam perpisahan tanpa jabat tangan, jadi hal-hal selalu kita lakukan berulang tanpa pernah bilang bosan. Begitu saja bagi kami sudah mengasyikan, walau sudah pasti keasyikan berjibaku dengan alam dan gunung baginya tidak pernah terkalahkan.

FP ROLLER 6

Kelar segala waktu bersama yang nggak pernah gagal bikin pipi merona itu, tetiba gelombang konflik menerjang, bikin saya jadi bego seketika. Ya, dia tetiba kasih warning soal boundaries, dan di saat yang sama saya juga lakukan kesalahan yang hancurkan kepercayaan. Kami terpisah dan bikin saya berantakan. Satu-satunya yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menggulirkan sedih di berbagai platform. Bikin puisi, menulis prosa, dan memutar lagu-lagu tragedi jadi sederet rutinitas tambahan, semata agar kesedihan saya nggak menguap sia-sia. Sebab saya selalu tahu, pada waktu-waktu emosi begitu polarlah energi menulis itu super menggebu.

Sedih saya nggak patut dihiraukan lama-lama. Saya mulai kembali hidup seperti biasa, mengamati dan mengkritisi isu-isu sosial kekinian lalu membaginya ke publik. Mulai dari ketawa-ketiwi lihat iklan kepala ibu-ibu masuk magic com sampai soal kulkas halal. Yup, ada salah satu produsen kulkas yang mengklaim kulkasnya halal. Saya tentu nggak sepakat, aturan agama kok digawe dodolan atas hal-hal yang nggak relevan. Eh, siapa sangka, dia tertarik membahas isu itu. Satu persatu argument kami lempar lewat voice note. Nggak disangka lagi, obrolan soal kulkas halal ini jadi pangkal kembalinya interaksi kami.

FP ROLLER 3

Kami mulai kembali menukar cerita dan opini. Saya hobi melempar gagasan dan permasalahan, dia hobi kirimkan rekaman nyanyian. Tanpa kami sadari, kami sama-sama tengah berbangga diri. Saya membanggakan pemikiran saya sementara dia membanggakan suara merdunya. Bedanya, pemikiran saya bisa ia balas dengan pemikiran, sementara suara merdunya cuma bisa saya balas dengan pujian, semacam “ummm, melting dengerinnya” yang mengandung gombal. Yup, saya sebelas duabelas sama giant kalau nyanyi, mirip juga sih bodynya. Jadi sudah saya tahu dirilah untuk nggak berbalas kirim nyanyian.

Menyebut pujian itu sebagai gombal, cuih, padahal ujung-ujungnya semua rekaman itu saya simpan dan saya jadikan playlist. Bahkan ada juga yang saya jadikan alarm bangun tidur. Ah, bukan, bukannya saya lantas baper, tapi hey coba dengarkan dulu, sulit untuk tidak bilang bahwa ia berbakat lho!

FP ROLLER 4

Cara-cara komunikasi yang seperti itu yang kami lakukan. Sebab, kami tinggal di 2 kota yang berbeda. Baru beberapa minggu ‘mesra’ kembali, masalah menerjang lagi. Saya yang bego ini lagi-lagi terbawa emosi dan putuskan tali silaturahmi. Sementara dia, dengan segenap gengsinya sebagai lelaki yang menggunung, tentu ogah bertanya “kamu kenapa?” kan? Padahal rindu, padahal ingin membagi pilu, padahal malamku sendu, dan padahal-padahal lain yang terus ku tepis. Hingga akhirnya, kehilangan akal, saya upayakan melempar kejutan. Berhasil dan hore! Dia nggak ngambek lagi.

Naik turun intensitas kami ini, tentu mengasyikkan. Ketimbang lempeng-lempeng aja, segala drama ini saya nikmati. Terlebih, dia tau banget cara memainkan perasaan saya, cara bikin saya sebel, bikin saya ngambek, bikin saya tersipu malu, Bikin perut saya berkupu-kupu, dll. Entah apa karena dia yang begitu jago, atau saya yang begitu bego, tapi roller coaster ini nggak pernah mau berhenti. Konflik dan keakraban datang silih berganti.

Nggak terkecuali, saat kami dekat dengan orang lain. Kami sama-sama jadi saksi atas masa-masa jatuh cinta dan patah hati satu sama lain. Kendati, sudah pasti saya yang paling blak-blakan cerita soal si doi, sementara dia, harus saya pancing setengah mati dulu baru mau cerita. Bikin saya pusing mikirin trik korek-korek asmaranya, meski saya sepenuhnya tahu kapan ia jatuh hati dan kapan ia bersedih.

FP ROLLER 2

Di sisi lain, nggak sedikit orang yang bertanya, “kenapa kalian nggak jadian saja?”. Sulit untuk menjawab ini, sebab kami tidak tahu posisi masing-masing. Soal perasaan? Entah. Yang pasti, seperti para ahli asmara menganalogikan “Api itu pasti ada, tapi kemudian disiram, dimatikan, atau dikobarkan itu semua lain cerita”. Kehadiran api, bukan kami yang ciptakan, kita semua tahu siapa pencipta api paling hakiki. Namun, mau disiram, dimatikan, atau dikobarkan itu semua kehendak masing-masing kami kan? Yang pasti, cerita kami hingga hari ini saya yakini berkat dinamika api. Hadir, redup, hilang, hadir lagi, redup lagi, hilang lagi, atau bagaimanapun bentuknya bagi saya yang paling penting adalah pengalaman ini.

Ya, saking pentingnya, saya nggak bisa pungkiri bahwa pernah takut jika kami kelak kecanthol puzzle yang cocok, alias nemu gebetan yang cocok. Saya dan dia pernah bicarakan soal ini dan kami sepakat, pada saat itulah roller coaster kami sampai di pemberhentian. Kami harus turun dan lanjutkan jajal wahana lain, dengan orang lain. Barang kali dia memilih bianglala, yang naik turunnya berlahan dan teratur, sekarakter dengan gadis pilihannya yang kalem dan pemberani. Sementara saya, barangkali akan memilih naik Hysteria yang naik turunnya ekstreme, butuh pegangan erat agar saling kuat. Tapi, baik Bianglala maupun Hysteria keduanya nggak akan pernah bisa gantikan roller coaster kan?

Hampir (Merasa) Memiliki

FHEADLINE GAGAL

Salah satu web series yang lagi booming beberapa waktu belakang adalah ‘Mengakhiri Cinta Dalam 3 Episode”. Kisahnya sederhana, meski bumbu dramatisasinya ulala. Ya, dramatisasi dibutuhkan biar ngenesnya lebih terasa. Eh, sudah pada tahu kan ini webseries ceritanya soal sepasang kekasih yang mau nikah trus si cowoknya tetiba bilang “udah nggak cinta”? Sesederhana itu, padahal udah barengan selama 8 tahun.

Tentu, Toyota Indonesia sudah lakukan riset sebelumnya, barangkali mereka menemukan bahwa ada banyak kisah serupa di kehidupan nyata. Praktis, web series ini jadi sesuatu yang mengandung keterwakilan. Setidaknya memang, begitulah yang terjadi pada sahabat-sahabat saya belakangan. Hampir menikah, lalu selesai sudah.

Ada Alina, yang berpacaran dengan seorang polisi. Saya masih ingat, dia galau banget waktu ditembak. Di lampu merah Jl. Panjaitan itu, ia menarik rem tangan mobilnya sambil mulai bercerita. “Aku takut Tan, biasanya polisi kan punya banyak cewek. Aku takut dia cuma main-main,” ujarnya sambil memandang deretan mobil yang mengular di depannya.

Saat itu saya cuma bisa kasih segala opsi dan kemungkinan, sekedar membuatnya berpikir bijak. Namun, saya juga sertakan bahwa bagaimanapun Alina harus sertakan Tuhan dalam setiap keputusannya, termasuk urusan pacaran ini.

Screenshot (405)

Singkat cerita Alina dan mas polisi ini jadian, mereka memutuskan untuk serius dalam waktu beberapa bulan. Keluarga mereka saling mengenal dan pernikahan tampaknya begitu memungkinkan. Namun tetiba Alina mengajakku bertemu di Mi Setan, lalu ceritakan hubungannya yang kandas. Alasannya? Alina pun tak tahu, tetiba saja mas polisi minta putus dan meninggalkan begitu saja.

Lain Alina lain pula Deswita. Menemukan tambatan hati dari facebook, ia jalin hubungan LDR selama beberapa bulan. Mereka yang sama-sama tengah coass, lantas ditempatkan pada 1 kota yang entah kebetulan atau bagaimana. Makin hari, niat untuk berangkat ke pelaminan makin mantap. Terjadilah lamaran, sebuah kabar gembira bagi ayah Deswita yang tengah sakit keras.

Beberapa bulan setelah lamaran, saat Deswita sudah survei persiapan menikah, tetiba si cowok minta putus tanpa alasan jelas. Deswita tentu sulit menerima itu, ia lantas mencari kejelasan ke keluarga si cowok. Malangnya, mereka malah seenak jidat bilang “Yaudahlah mbak, lupain aja. Dia udah nggak cinta mau gimana lagi,”. Sebuah jawaban yang samasekali tidak membantu Deswita untuk menjelaskan kandasnya hubungan pada ayahnya yang sedang, sekarat.

Screenshot (400)

Barangkali ada yang komentari kisah Deswita dan Alina dengan “Yaiyalah, pacaran baru beberapa bulan udah mau menikah. Mimpi?”, bhaigh, ada pula nih, sahabat saya bernama Dini yang kisahnya barangkali lebih bisa diterima. Pacaran selama 3 tahun, mereka lalui masa indah pacaran di Malang dengan penuh suka cita. 1 tahun belakangan, mereka LDR sebab si cowok harus kerja di Jakarta.

LDR jadi penguji, mulailah terjadi kesalahpahaman kecil. Komunikasi mulai terganggu, hingga akhirnya si cowok minta putus, dengan alasan yang sama kayak Satrio di “Mengakhiri Cinta Dalam 3 Episode”, yakni “Nggak cinta”. Dini sulit menerima ini, sebab mereka berdua memang sudah mantap menikah meski lamaran masih dalam rencana. Dini hancur.

Screenshot (406)

3 cerita di atas hanya sedikit dari sekian banyak kisah sahabat-sahabat saya yang gagal menikah, alias berhenti pada titik ‘Hampir’. Ada banyak perspektif untuk melihat kisah ini, tapi saya memilih untuk mencoba memahami bagaimana Tuhan skenariokan jalan hidup manusia.

Sejatinya, kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia ini, termasuk pasangan atau pacar sendiri. Namun wajar adanya jika setiap hadir sosok yang menyayangi, maka ia hadir pula sepaket dengan harapan untuk saling membersamai hingga mati, harapan untuk jadi sepasang suami-istri. Sebuah jenjang hidup yang kerap disebut sebagai ibadah terlama, salah satu yang pahalanya bisa mendulang surga.

Saat pasangan diambil dari genggaman, pernikahan di depan mata tetiba nggak jadi tergelar, apa maksud-Nya? Bagi saya, barangkali Tuhan sedang ingin membuka mata kita bahwa melihat apa-apa itu yang paling baik adalah dari kacamata-Nya, bukan dari kacamata manusia.

Screenshot (408)

Tentu, sebagai manusia mudah untuk melihat ini sebagai kemalangan, ke-nggletek-an, kesialan, atau barangkali kesalahan pihak lelaki semata. Namun pemaknaan tersebut nggak mengantarkan pada titik apapun kan? Amarah, sedih, dan ratapan tak berujung demi sesuatu yang sejatinya tidak pernah kita miliki? Apakah bijak?

Saya memilih untuk menyandarkan segala reaksi tersebut pada manusiawi, sesuatu yang wajar, masih pada tataran manusia. Namun lebih jauh, bagi saya memaknai peristiwa ini harus disandarkan pada kacamata Tuhan.

Menurut saya, keberadaan manusia di bumi nggak lain hanyalah mencari Ridho-Nya. Segala takdir, segala kisah hidup, segala peristiwa, adalah tentang bagaimana kita selesaikan misi itu. Untuk mendapatkan Ridho, maka kita harus menjadi hamba. Buktikan diri bahwa kita adalah sebenar-benarnya hamba nggak melulu soal ibadah (beserta ikhtiarnya), tapi juga tentang pasrah, sebuah titik yang membuktikan bahwa kita betul-betul nurut sama apa maunya Tuhan.

Screenshot (411)

Titik di mana kita meletakkan pengakuan atas kuasanya, jauh lebih tinggi dibanding kuasa kita sebagai manusia yang kerap dibilang sebagai makhluk paling sempurna. Titik dimana kita menemukan batas, kembali mengingat pada sang pemilik hidup. Barangkali itu semua kerap dilupa saat kita begitu yakin bisa kendalikan hidup sendiri.

Ikhtiar dan pasrah, ikhtiar dan pasrah, ikhtiar dan pasrah, adalah siklus yang terus terjadi, yang sejatinya begitu terus selama hidup hingga pada suatu waktu hanti, kita dipertemukan dengan Tuhan dan dinyatakan lolos tidaknya menjadi hamba. Pantas tidaknya kita mendapatkan Ridhonya, bukankah begitu?

Maka, gagal nikah ataupun segala hal tidak mengenakkan selama hidup, sejatinya hanyalah perjalanan menuju ke sana. Jadi salah satu ujian kita untuk buktikan bahwa kita adalah hamba, barangkali kesempatan hidup beserta segala hal yang nggak mengenakkan ini sudah seharusnya disyukuri. Bayangkan jika hal-hal itu tidak ada, mau bagaimana cara kita buktikan diri?

Sumber foto: Youtube/ToyotaIndonesia

Kenapa Orang Melakukan Bully?

Dampak-Bullying-800x500

Satu hal yang nggak pernah saya pahami, kenapa orang membully? Jawaban akan pertanyaan itu akan mulai saya tanyakan pada diri saya sendiri, ketimbang saya mencoba menerka-nerka pikiran orang lain. Kenapa saya membully?

Lama saya terdiam, saya nggak menemukan satu jawaban. Bukan, bukannya saya hipokrit dan seolah mau bilang bahwa saya nggak pernah membully orang, saya betul-betul nggak ingat kapan terakhir kali saya membully orang. Sebab barangkali, yang ada adalah saya ini kerap jadi sasaran bully.

Begini, ada satu lingkungan, satu kondisi yang paling saya benci, yakni lingkungan bully. Saya nggak suka melihat orang lain dibully, serta nggak suka jadi sasaran bully. Kendati yang terakhir itu saya punya pandangan yang berbeda alih-alih tergesa-gesa beranjak pergi.

1 hal yang saya pahami bahwa, bully sebetulnya berada di koridor bercanda. Kalau saya baper, tentu saya dong yang kelewat batas. Seharusnya bagaimana? Ya seharusnya ikuti permainan, ambil bagian dari drama perbully’an ini.

Masalahnya, saya nggak suka bercanda dengan model begini. Saya nggak belajar caranya ngebully orang, dan nggak suka aja. So, rulesnya adalah pertama, dilarang baper, kedua, harus pinter bales bullyan. Keduanya nggak bisa saya lakukan, karena itu saya memilih meninggalkan lingkungan yang begini.

Pun, kalau melihat orang lain yang dibully, saya sebetulnya juga ingin cabut. Kalaupun harus bertahan, pasti saya punya kepentingan dengan menekan sekuatnya parasaan nggak tega ini. Uhlala…

Tapi jelas, pertanyaan saya belum temukan jawaban, kenapa orang membully? Di salah satu grup WA yang saya ikuti, ada seorang teman yang setiap hari dibully. Dibilang homo, sampai dicitrakan sebagai cowok yang nggak gentle.

girlbullyingapril-570b018a3df78c7d9ede5971

Saya sampai heran, kenapa? Emang kalau temen saya itu homo beneran kenapa? Kalau dia emang nggak gentle beneran kenapa? I mean, orang-orang ini punya dendam apa sih? Oh iya, saya lupa, bukan soal dendam, tapi soal bercanda. Tapi apa betul atas nama bercanda yang biasanya diklaim sebagai cara untuk mendekatkan diri ini, maka bullying menjadi legal?

Masih soal kenapa orang membully, saya lantas buka-buka sejumlah literatur. Beberapa penelitian menemukan bahwa motif orang yang melakukan bully itu untuk menunjukkan dominasi, mendapatkan pengakuan, demi gengsi, serta mendapatkan status sosial.

Lebih lanjut, penelitian menyebutkan pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisikal, ingin popular, sering membuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial. Biuh, mosok teman-temanku di grup begitu?

Yup, fakta ilmiah mengatakan itu semua, tapi entah kenapa, saya masih kurang sreg. Bagaimana jika, yang saya tahu untuk menunjukkan dominasi, pengakuan, dan status sosial semuanya bersandar pada leadership, bukan perilaku bully.

Maksud saya, kalau memang mau mendominasi, ya tunjukkan dan aplikasikan prinsip-prinsip leadeship dengan baik, disisipi cara-cara politik juga sah asal nggak merugikan siapapun. Bertanggung jawab lebih, dedikasi yang lebih, kemampuan retorika yang lebih, bukankah sewajarnya begitu kalau mau mendominasi?

Begitupun dengan pengakuan serta status sosial. Bukankah menunjukkan keunggulan diri seharusnya lebih wajar ketimbang menginjak-injak harga diri orang lain? Ya, konsep ini seharusnya saya pahami sejak awal bahwa untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi, ada 2 cara. Yang pertama, bersusah payah untuk naik. Yang kedua, merendahkan bidang sejajar di sekitar. Voila, jadi yang paling tinggi kan?

Tapi tetap saja, kenapa? Kenapa ingin mendominasi? Ingin diakui? Apa kepentingannya?

Tapi kemudian, barangkali setelah muter-muter cari jawaban di atas, saya pada akhirnya setujui jawaban sederhana dari Deddy Corbuzier. Bahwa ada perasaan senang ketika menjadi orang jahat. Semua orang tahu bahwa bully itu bukan perilaku baik, tapi memang menyenangkan. Lantas, adakah yang lebih menyedihkan dari orang-orang yang mencari kesenangannya sendiri dengan menyakiti orang lain? I mean, atas dasar apa orang lain harus berkorban demi kesenangan pribadimu?

Syukur Yang Dihadirkan Yeslin Wang dan Shezy Idris Pagi Ini

FHADLINE YESLIN

Hari ini (Sabtu, 22/9/2018), jam 7 pagi saya sudah duduk manis di kursi kantor. Sudah saya putuskan, saya akan memandang hari Sabtu dengan cara yang berbeda. Biasanya, Sabtu jadi hari yang dianggap weekend dimana segalanya “end”. Kerjaan end, penat end, dll. Tapi Sabtu bagi para pekerja yang tidak libur, ya tidak ada yang ‘end’.

Menandang Sabtu sebagai weekend dan hari yang santai nyatanya nggak membawa saya pada apapun kecuali kemalasan. Itu lantas bikin saya menyesal di hari minggunya. Saya nggak mau terus-terusan begitu, that’s why saya sepagi ini sudah duduk di sini.

Seperti biasa, jatah saya menulis berita tentang sejumlah selebriti papan tengah. Yup, papan tengah, sebab mereka ini nggak tenar-tenar amat tapi ada aja gitu programnya di TV, nongol aja gitu di akun-akun lambe. klasifikasi papan tengah itu saya sendiri sih yang bikin.

Screenshot (200)

Setelah beres bikin teh panas, saya mulai nyalain PC. Di tengah menulis, saya biasanya buka youtube untuk mendengarkan alunan Konco Mesra atau bojo galak Nella Kharisma. Ya bolehlah selera saya di bilang ndesit, oldies, atau apa. Tapi dangdut bagi saya tuh moodbooster paling oke. Ngantuk sedikit kalau orang lain nyeruput kopi, saya nyetel dangdut. Pokok e Nella Kharisma jagoanku.

Tapi pagi ini, mata saya tetiba tertarik dengan video Hotman Paris Show bertajuk “Tak Kuat Bersama Delon, Yeslin Wang Memilih Angkat Kaki dari Rumah”. Sek disclaimer. Saya sebetulnya nggak begitu mengikuti perkembangan gosip artis. Artinya, saya tahu Luna Maya putus, Sule cerai, Hari Jisun eker-ekeran sama Deddy Corbizuer, tapi ya sekedar tahu aja, nggak ngerti kisahnya. Termasuk soal Yeslin Wang ini.

Satu-satunya yang saya tahu soal Yeslin, dia kasihan. Itupun gara-gara seorang teman yang lagi nulis berita soal Yeslin tetiba nyeletuk “Kasihan ya Yeslin”. Saya yang waktu itu lagi utak-atik foto di photoscape nggak gitu ngereken de e. Tapi entah kenapa, pagi ini, judul video itu bikin saya tertarik dan memutarnya.

Screenshot (201)

Videonya berdurasi singkat, sekitar 8 menit aja. Memang ada part-partnya gitu. Gara-gara video ini saya jadi tahu bahwa Yeslin memutuskan menikah sama Delon setelah 3 bulan kenal. Dia lantas mengaku, sejak 3 bulan pertama pernikahannnya, ia udah nggak sreg sama sifat-sifat Delon yang emang baru ia tahu setelah menikah.

Nggak lama kemudian datanglah Shezy Idris. Baru datang dan dihujani pujian soal betis, ia sudah ditanya sama Hotman “Kamu menikah tahun berapa?”
“2011”
“Berapa tahun pacaran itu?”
“Enggak. Sama kayak Yeslin kita ta’aruf juga. Kayak aku baru kenal langsung nikah,”
Yang lebih nggapleki, Hotman nanya apa Shezy menikah atas dasar cinta? Tentu, Shezy mengiyakan itu. Tapi di saat segala masalah datang, Shezy berusaha untuk selalu lebih cinta lebih sayang dan lebih harmonis. Gokilnya lagi, Shezy mengaku kehilangan kemesraan setelah 1 tahun menikah.

Well, the point is, keduanya menikah dengan ta’aruf dan keduanya juga mengaku udah nggak harmonis di awal pernikahan. Ini, setidaknya, jadi sebuah penyeimbang dimana publik tengah terpesona dengan pernikahan Anisa Rahma (ex cherrybelle) dengan Dito yang didasari ta’aruf.

42141-anisa-rahma-dan-dito-instagram-atmela-insomnia

Gara-gara Anisa, seorang teman sampai japri dan bilang “Tan, koen ta’aruf’an ae”. Kelar nonton talkshow Hotman bersama Yeslin dan Shezy tadi, saya jadi mikir sekian kali untuk ta’aruf.

Jujur saja, saya pernah memandang pernikahan dengan naif. Ada sekian banyak faktor yang bikin saya pengen lekas menikah… dengan tanpa pikir panjang tentunya. Pertama, orang-orang yang saya sayangi mulai bersedih dan khawatir. Bosen ditanyain tetangga, takut kalau saya nanti sulit punya anak karena menikah telat.

Gara-gara itu, saya yang sebetulnya super santai menjalani kejombloan ini jadi mulai mensugesti diri untuk berkeinginan lekas menikah. Salah satu sugestinya adalah, menikah itu ibadah dan wajib bagi siapapun yang sudah mampu.

Sejak itu, saya jadi melakukan apapun untuk dapat calon dengan dalih, mengikhtiarkan pernikahan. Nggak cuma lewat doa, tapi juga berkenalan dengan siapapun yang kadang-kadang ini dinilai terlalu konyol oleh sahabat saya sendiri. Kami sampai bertengkar soal ini di food court Matos. Ia mencegah saya dengan retorika “Emang kamu punya value apa?”. Ia bilang bahwa saya belum lulus kuliah, nggak punya kerjaan, cantik juga enggak, dll. Intinya, saya nggak punya nilai tawar sebagai wanita yang patut dinikahi. Jadi, nggak usahlah fokus cari-cari jodoh.

fp YESLIN

Saya paham, sebetulnya ia bilang begitu demi mencegah saya memurahkan diri mau-maunya digebet siapa saja. Tapi bagi saya, what else? apa lagi yang bisa saya lakukan selain memperbanyak peluang ketemu calon pacar? Toh, bagi saya itu bukan digebet, tapi memperbanyak kenalan apa salahnya? Demi ikhtiar mewujudkan ibadah lho ini, pernikahan kan ibadah to?

Semenjak itu, saya memang akhirnya punya lebih banyak teman cowok dan nggak segan dekat dengan beberapa di antaranya. Di pikiran saya, siapa aja deh yang mau, yuk cus aja, ibadah lho ini. Begitu terus, sampai akhirnya, ibu saya sendiri tetiba bilang bahwa ia ingin mengenalkan saya dengan seorang lelaki asal Yogyakarta. Saya setujui itu, lantas kami chatting.

Komunikasi makin intens dan saya mulai sering ketemu keluarganya lewat video call. Kami ngobrol banyak, dan saling haha hihi. Makin sering ngomongin pernikahan, bukan, bukan pernikahan kami tapi saling tukar pandangan soal pernikahan dan pasangan ideal. Hingga pada suatu hari saya tau bahwa ia miliki orientasi yang berbeda, fakta yang disembunyikan dari saya. Saya cuma bisa bengong melihat kenyataan ini.

Apa yang saya alami, tentu mengejutkan saya sendiri. Pandangan saya menikah tanpa pikir panjang demi segerakan ibadah, ternyata terpatahkan dengan ini. Ini, beserta cerita Yeslin Wang dan Shezy Idris, bikin saya nggak naif lagi memandang pernikahan dan taaruf. Bagaimana jika saya begitu terburu, begitu berambisi untuk menikah, nggak menimbang-nimbang bahkan menekan curiosity saya atas si mas cemewew ini?

Setidaknya, sekarang ikhtiar saya lakukan dengan lebih hati-hati. Tentu, perbanyak peluang harus terus dilakukan, tapi tergesa-gesa dan naif, harus disingkirkan.

Memang, Shezy dan Yeslin hanya segelintir contoh dari perkenalan singkat yang membawa pada pernikahan dan berakhir pegat. Tentu, perkenalan yang sebentar ada banyak yang langgeng sampai kakek nenek. Tapi setidaknya, jangan silau dengan motif ibadah saja, mengenali si mas cemewew ini dengan sebaik-baiknya, semaksimalnya, penting banget. Thanks Yeslin and Shezy.

Mengandung ‘Curiosity’, Begini Amat

image-20150525-32558-q4csn1_fhzbak

Beberapa hari ini saya pulang kantor selalu menjelang maghrib. Bukan karena lembur, tapi karena switch materi sebagai editor freelance ini selalu butuh penyesuaian. Ya, saya yang biasa mengerjakan topik A, lalu tetiba harus kerjakan topik B, selalu butuh waktu lama untuk mempelajari.

Sebetulnya lagi, waktu lama itu semacam habis untuk memenuhi rasa penasaran saya sendiri, keinginan untuk tahu lagi dan lagi, padahal yang dibutuhkan untuk sebuah artikel sudah cukup. Beginilah jadinya kalau mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, hasilnya = remek.

Alhasil, setiap pulang kantor saya jadi rewel. Yup, selalu muncul keinginan untuk dituruti maunya, dimengerti emosinya, dipahami remeknya. Seperti contohnya semalam, saat saya lagi chatting sama Nia. Saya yang suka ngoceh ini, atau lebih tepatnya sedang butuh wadah untuk menumpahkan cerita beserta seabreg emosi yang menyertainya, ingin ngobrol sama dia di telepon. Namun Nia, seperti biasa, beri jawaban “ogah”, sebuah jawaban yang sebetulnya sudah saya duga.

Nia lantas sebel. “Kenapa sih selalu minta telepon? Kamu tahu kan aku tuh nggak suka telponan” ketiknya. Saya lantas membalas “Saya capek ngetik. Pengen ngobrol”. Sebetulnya, saya ingin menambahkan “Saya capek ngetik karena seharian itu yang saya lakukan. Saya cuma bisa kontakan sama kamu di malam hari, saat kita sama-sama pulang kantor. Saya cuma, pengen memaksimal waktu yang ada bersamamu, sebelum kita sama-sama tidur. Ada seabreg cerita yang ingin saya bagi sama kamu, mulai dari cerita receh hingga pemikiran-pemikiran saya yang rumit. Saya butuh kamu untuk diskusiin itu.” Tapi apa daya, Nia tetap keukeuh maunya chatting aja.

Akhirnya, sebagai jalan tengah, Nia tetap chat sementara saya balas chatnya dengan voice note. Sebuah win-win solution yang embuh.

Pada saat-saat seperti itu saya selalu berharap bahwa saya tidak punya otak yang begini, yang selalu penuh pemikiran. Seperti contohnya saat saya hadiri pernikahan seorang teman di Sumber Manjing Wetan (Su-Ma-We=Sumawe)- Malang Selatan, Minggu (26/8) kemarin.

Di google map, jarak antara Soekarno Hatta dan Sumawe itu 61 Km. Sebuah jarak yang katanya bisa ditempuh selama 2,5 jam saja. Ulala, lebih jauh dari pergi ke Surabaya dong. Kenyataannya mbleset. 5 Jam perjalanan harus ditempuh, sebab terjebak macet karnaval sebanyak 3 kali dan medan jalan yang luar biasa liar.

Begitu sampai di lokasi kondangan, mata saya langsung menangkap pola yang sama, yakni kebanyakan tamu lelaki memakai jaket warna gelap dan kopiah hitam. Tentu saya langsung penasaran, kenapa begitu? Apa makna kopiah hitam bagi mereka? Bukankah biasanya lelaki yang pergi ke kondangan lebih memilih pakai batik, jas, atau kemeja gitu? Apa jangan-jangan setelan ‘formal’ bagi mereka itu ya paduan jaket dan kopiah?

Ketika saya pertanyakan itu pada si pengantin, dia cuma jawab “Nggak tahu, adatnya gitu kali”. Ketika saya tanyakan sama temen saya yang lain, yang lagi ngunyah ikan bumbu pedas, dia cuma ngetawain saya sambil bilang bahwa pertanyaan saya nggak penting.

Tentu saya nggak tersinggung kendati saya juga nggak berharap sebuah jawaban yang pasti, tapi gegara itu bikin saya jadi sempat berharap untuk nggak sekritis ini, sepenasaran ini pada apapun.

Sehingga tampaknya akan menyenangkan ketika saya nggak menuntut orang-orang untuk bisa mewadahi pemikiran saya, memperhatikan pertanyaan-pertanyaan saya, atau bahkan miliki analisis ala-ala untuk sekedar didiskusikan. Juga, sehingga saya nggak perlu habiskan waktu lama untuk cari referensi lagi dan lagi buat bikin 1 artikel saja.

Sumber foto: Kumparan

Dear Makhluk Belagu, Seberapa Jauh Kau Tau Ikhtiarku?

b_a-lonely-flower

Bagi saya, melewati usia 25 tahun dan belum juga menikah, itu artinya hidup akan diwarnai dengan sebuah kutukan, yakni kutukan diserbu pertanyaan “Kapan Nikah?” dari segala penjuru. Ya, segala penjuru. Mulai dari circle berisi orang-orang yang jarang ditemui semacam bude-pakde, hingga cirlcle terdekat, orang tua sendiri. Tapi dari seluruh jenis makhluk kepo tersebut, yang paling menyebalkan adalah, mereka yang hendak atau baru menikah. Belagunya setengah mati.

Iya belagu, setidaknya begitu penilaian saya. Saya kerap mengamati, dalam lingkungan saya, yang suka bawel nyuruh-nyuruh nikah itu ya mereka yang akan menikah dalam waktu dekat. Mereka selalu bilang, “Koen kapan ibar? Ayo, selak umurmu akeh. Jadi perawan tua lho kamu nanti”. Teman macam apa ini?

Belum lagi judgement yang bilang bahwa saya itu terlalu pilih-pilih lelaki, terlalu tinggi pendidikannya, dan terlalu ogah membuka hati. Semua itu dasarnya apa jika cerita dan ikhtiar saya selama ini nggak pernah ditanya? Bukankah jika memang betul-betul peduli, maka itu yang seharusnya ditanya? Bukan malah lontarkan pertanyaan yang sesungguhnya kita sama-sama tahu bahwa jawabannya ada di tangan Yang Maha Kuasa.

Makhluk berjenis ‘Manten Anyar’ pun nggak jauh beda, pertanyaannya sama. Kadang juga ditambah “Nikah itu enaknya 20% aja, sisanya uuenak!”. Setiap kali mendengar itu saya selalu ingin bilang “Monmaap nih, situ ngeledek apa gimana? Kok seolah-olah sebagai single hidup saya dikira kurang enak”.

Kedua jenis makhluk di atas bagi saya kurang matang dalam memandang nasib baik yang mereka jalani, ya, nasib menikah duluan. Semacam masih terbelenggu bahagia karena bisa menikah. Ibarat lomba lari, mereka jadi pemenang yang ngejek-ngejekin lawannya. Pemenang macam apa jika berani-beraninya bilang “Kapan menang? Ayo jadi pemenang dong, keburu tua lho nanti nggak bisa lari lagi gegara tulang kakimu udah keropos”.

Sementara lagi, kalau boleh saya kira-kira, motif orang-orang itu nanya “Kapan nikah?” adalah untuk beri motivasi agar saya lekas menikah, buru-buru cari jodoh. Satu hal yang mungkin dilewatkan, kalaupun saya harus menikah bukan demi lari dari kutukan ini, bukan demi biar nggak jadi perawan tua seperti yang mereka lontarkan. Hasrat ngenyek para single yang dilakukan oleh siapapun yang baru menikah itu bagi saya tidak seharusnya jadi pikiran, apalagi jadi motivasi. Cuih, big no no!

Kalaupun betul-betul peduli, setidaknya dengarkan cerita tentang perjalanan ikhtiar saya cari jodoh yang tidak semulus jalan tol Jagorawi misalnya. Ketahui bahwa saya sempat gagal berta’aruf dan sempat putus karena enggan LDR. Pahami bahwa saya pernah jalin hubungan dengan seorang lelaki yang lantas tinggalkan saya demi perempuan lain. Maklumi jika kemudian saya sempat ingin rehatkan diri dari segala hubungan dengan lelaki. Lantas, hargai saat saya sudah pulih dari sedih dan bangkit memulai ikhtiar lagi.

Kemana saja kalian wahai para makhluk penanya “Kapan nikah?” di saat saya lewati itu semua? Nggak ada di sisi. Jelas sudah, singkirkan alibi peduli saat lontarkan pertanyaan-pertanyaan basi. Sekali lagi, matanglah dalam sikapi nasib baikmu sendiri.

Swastamita Dan Bayangan Yang Diciptakannya

FHEADLINE SWASTAMITA

Bagi saya, hidup itu dirayakan dengan kesyukuran. Saya senang terlahir sebagai manusia dengan segenap kandungan “baper” disamping juga mengandung akal yang selama ini disebut sebagai pembeda kita dengan makhluk lain. Sekedar intelejensi, ilmu pengetahuan kian mampu bikin versi buatannya, versi tiruannya. Tapi baper, kerap berakhir dengan sebutan drama dan galau. Ah, tentu saya nggak mau memandang baper serendah itu. Setidaknya, baper juga yang mengantarkan saya untuk merasakan jatuh cinta beserta segala karya yang tercipta darinya.

Saya menyebutnya dengan Swastamita, sebuah cinta pertama. Bertemu dalam kondisi sama-sama berseragam putih abu-abu, kami dipertemukan oleh aplikasi chatting kala itu. Cheesy ya? Iya, dan perkenalan se-cheesy ini membawa pertemanan kami awet hingga bertahun-tahun. Sadari bahwa segala awal nggak selalu tentukan akhirnya, saya sendiri terkejut dan berkali-kali mbatin, “Bagaimana bisa?”

Tentu bisa, sebab pertemanan bertahun-tahun itu nggak selalu mulus. Kendati, saya akhirnya jatuh cinta pada lelaki ini. Tidak bersambut, tapi Swastamita selalu jadi energi tambahan dalam menulis, bikin saya mengartikan dirinya lagi dan lagi. Seperti namanya yang bermakna pemandangan di senja hari, ia selalu hadir walau sebentar. Senja yang sama bahkan selalu terbayang kala segala ruwetnya urusan hidup melingkupi, seolah saya rindukan kontemplasi. Sadari bahwa ia jauh, tak bisa digapai, tapi satu hal yang membuatnya terasa dekat, mensyukuri.

Saya bersyukur karena pernah mencintai Swastamita sebegitu dalamnya. Ia adalah seseorang di balik puisi-puisi serta tulisan singkat yang pernah saya tulis. Saya masih ingat suatu sore ia datang menemui saya dan ceritakan mimpinya, jadi interpreneur. Ia tunjukkan buku favoritnya, “Dare to Fail”. Sebuah buku yang ceritakan tentang jatuh bangun seorang pengusaha.

FP SWASTAMITA

Hidupnya terencana, bahkan di usia semuda itu ia tahu pilihan-pilihannya akan membawa kemana. Kala jurusan IPA adalah jurusan idaman, ia memilih IPS. Pasalnya jelas, ia ingin dalami ekonomi dan manajemen. Terbukti memang, ia juara olimpiade ekonomi se-Kediri kala itu. Masih konsisten, ia lantas mengambil jurusan manajemen di sebuah universitas di Jogja.

Cintanya pada keluarga juga nggak main-main. Masih lekat di ingatan saya, saat adiknya kecelakaan. Ia duduk di samping saya saat saya selesai menjenguk sang adik di Rumah Sakit Bhayangkara. Swastamita lalu ceritakan kronologi serta kekhawatirannya, terlihat sekali ia gelisah.

Hingga suatu sore di tepi sebuah pantai di Gunung Kidul Jogja, ia ungkap harapan untuk membangun Rumah Sakit. Ya, tentu itu sekedar mimpi bagi seorang mahasiswa semester 6. Namun saya percaya kelak ia bisa wujudkan itu. Tekadnya jelas, gara-gara kecelakaan sang adik ia jadi punya keinginan bikin Rumah Sakit yang terjangkau dan berpelayanan baik.

Kuliahnya yang diisi dengan berorganisasi, dagang burger tahu, dan mengasuh website wemary, bikin ia lulus di semester yang offset. Tapi itu nggak jadi masalah karena begitu lulus, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan bergengsi di Jatim. Ia lantas menikahi teman satu SMAnya, dan kini mereka menanti kelahiran anak pertama.

Begitu kisah singkat tentang Swastamita. Gara-gara dia, saya punya sebuah buku harian yang isinya kisah sehari-hari. Selama menulis buku itu saya selalu ibaratkan tengah bercerita padanya. Halu? Nggak juga, sebab pada akhirnya cerita-cerita itu saya bagi saat kami terhubung via suara. Pathetic? Jangan salah, segala kemampuan menulis saya hari ini adalah berkat rajin menulis di buku harian. Ya meski belum jago-jago amat, tapi pencapaian ini dilalui dengan jam terbang bukan?

Nggak cuma berupa buku, tapi juga tulisan-tulisan saya di Tumblr yang kini sudah diblokir. Salah satu yang paling saya ingat ialah tulisan tentang bagaimana kami bertengkar di tengah hujan. Yang ditutup dengan kepergian saya naik kereta sambil terisak. Sejak itu saya percaya, dramatisasi kehidupan itu nyata adanya.

 

Photo by: steemit images.

I, TONYA Sebuah Biografi Yang Mengiris Hati

fHEADLINE TONYA

Semalam saya nonton I, TONYA. Nggak tahu kenapa, saat melihat judulnya di layar laptop saya langsung mengingat film ini sebagai salah satu film gacoan di Oscar 2018. Tanpa basa-basi langsung saya putar. Dengan rating IMDB 7,9, sangat mungkin film ini akan sulit saya cerna seperti halnya film BIRD MAN ataupun BOYHOOD. Kalaupun tidak, saya setidaknya bisa berharap film ini akan semenyenangkan THE SHAPE OF WATER atau THE SHAWSANK REDEMPTION.

Belum sampai akhir, kekonyolan Jeff dan kawan-kawannya bikin saya nggak pengen lagi melanjutkan nonton. Saya nggak tega melihat gimana Tonya harus turut menanggung ulah suami dan kawan-kawannya (Shawn, Derrick, dan satu orang lagi yang saya lupa namanya)  itu. Kenapa film ini harus punya alur begini? Kenapa nggak diceritain aja kalau Tonya akhirnya berhasil jadi juara dunia? Sesederhana itu, bikin ending sesederhana itu apa susahnya?

Ternyata memang susah, sebab insiden itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Serangan pada lutut Nancy Kerrigan yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Shawn itu ternyata betulan terjadi. Yup, Jeff (Suami Tonya) beserta kawan-kawannya itu sok ngide untuk lukai Nancy biar Tonya menang di olimpiade ice skating. Jeff bahkan bilang “Ini adalah cara lain untuk bilang ‘I love you’ pada Tonya”.  Nancy memang rival ketat Tonya.

Setelah hari itu, FBI mulai lakukan pengusutan hingga kasus berujung pada ditahannya Jeff CS. Sementara Tonya, nggak dibolehin lagi ikutan olimpiade ice skating seumur hidupnya. Oh, Tuhan, speechless.

Bagaimana bisa saya nggak speechless, sepanjang film  saya melihat bagaimana seorang Tonya hidup dengan segala kekerasan dari ibu dan suaminya sendiri. Ia begitu berbakat serta jadi wanita Amrik pertama yang bisa lakukan triple axel di atas lapangan es. Berlatih keras, kendati inkonsisten sempat juga melanda seperti saat ia harus terima kekalahan sebab beberapa hari sebelum lomba dia makan dan mabuk gila-gilaan.

Nggak cuma itu, bahkan saat ia sudah berikan segala yang terbaik, ia tetap nggak bisa jadi juara dengan berbagai alasan. Mulai dari bajunya kurang kece hingga karena ia miliki latar belakang yang berantakan, nggak cocok jadi representasi Amrik di mata dunia. Ya, saking miskinnya, ia menjahit sendiri bajunya dengan kain murah meriah. Nggak kece? Kalah kece sama peserta lain pastinya. Sementara nggak cocok jadi representasi Amrik ya memang Tonya nih bicaranya kasar, broken home, pecandu rokok, nggak ramah, dan juga kondisi ekonominya buruk.

Saya seperti melihat seorang wanita yang seluruh hidupnya adalah ice skating. Sejak usia 3 tahun, ia sudah meluncur di lapangan es bikin seorang pelatih yang telah menolak ngajarin dia itu terkesan. Ia tinggalkan bangku sekolah demi ice skating. Ia tinggalkan kehidupan sosialnya demi ice skating. Ia tinggalkan ibunya demi ice skating. Ia tinggalkan segala kenyamanan tidur nyenyak demi subuh-subuh berangkat latihan ice skating. Namun semuanya nggak lantas bisa wujudkan mimpinya, yakni jadi juara ice skating.

Ketidakadilan memang betul-betul nyata adanya. Saya merasa jalan hidup Tonya kejam sekali. Tapi saya yakin sih, di balik ini semua ada sesuatu yang lebih besar, yang lebih berarti bagi hidup Tonya hingga sekarang. Orang mungkin kasihan padanya, atau mempersalahkannya juga, tapi saya percaya, sebagai manusia memang diuji seberapa mampu meyakini bahwa jalan hidup itu nggak pernah keliru, nggak pernah dirancang main-main, dan pasti yang terbaik.

Darah Biru Arema 2: Karya Sineas Lokal Yang Tak Sekedar Tunjukkan Fanatisme Komunal

FHEADLINE DBA 2

Minggu lalu saya ngotot nonton Darah Biru Arema 2 (DBA 2) meski nonton film pertamanya aja nggak pernah. Tiket film sudah saya beli sejak awal Mei waktu pre sale. Waktu itu dibilangnya, tiket cuma dijual 3 hari di bulan Mei. Tentu dong, buru- buru beli, 2 tiket, meski saya nggak tau nanti nontonnya sama siapa. Beli aja dulu pokoknya.

Setelah beres booking, beberapa waktu kemudian handphone saya hilang. Segala kode booking-bukti transfer ikutan hilang. Pas ngadu ke panitianya, cuma hitungan menit masalah saya kelar. Ulala, saya terkesima dong. Pasalnya jelas, berkat sistem booking tiket yang terkomputerisasi dengan baik, masalah saya tadi cuma jadi problema remah-remah.

FP DBAAA.jpg

Sebulan lebih berlalu, akhirnya tiba tanggal 25 Juni, tanggal dimana saya nonton DBA 2. Udah excited sejak bangun tidur. Di kantor juga pengennya buru-buru pulang. Akhirnya hari itu saya ngajak temen kos saya yang nggak rewel soal nonton film.

Maksudnya, ada kan sebagian orang yang pergi ke bioskop aja butuh alasan seabreg, mulai dari filmnya harus worth it, pertimbangan weekend-weekday, rating IMDB harus bagus, bajakannya bakal keluar dalam waktu dekat atau nggak, dll. Seluruh kriterianya harus terpenuhi dulu sebelum melangkahkan kaki ke bioskop.

Sampai di Bioskop, saya duduk sebelahan dengan Dimyati Ruchin, salah satu Aktor yang turut bintangi DBA 2. Fakta ini saya ketahui setelah film selesai dan Dimyati beranjak pergi. Sebab bengong dan bego, saya melewatkan kesempatan foto dan berbincang dengannya yang sudah di depan mata.

Okai, lanjut ke film. Sedikit hal yang saya tahu bahwa film ini diproduseri oleh Vicky Arief H., seseorang yang sempat berkuliah di kampus yang sama dengan saya. Ia adalah suami dari senior saya di JUFOC yang nggak akrab-akrab amat. Selain itu, sutradara dari film ini juga alumni dari kampus yang sama, Taufan Agustyan. Taufan ternyata kakak tingkat yang prestasinya sering disebut-sebut di kampus kala itu, kala saya masih awal kuliah. Ya, piala Eagle Award disabetnya pada 2009 silam.

Satu-satunya karyanya yang saya tau ya cuma DBA, dan itu mendulang kesuksesan luar biasa. Maka saya merasa makin bego aja kalau sampai melewatkan DBA 2, padahal kesempatan kenal dan belajar banyak dengan Vicky dan Taufan sudah saya lewatkan juga waktu masih kuliah dulu.

Singkat cerita, film ini diawali dengan para Aremania yang terjebak pada dilema. Mereka dihadapkan pada pilihan antara menjadi Aremania yang baik, atau menjadi sosok penting bagi kehidupannya sendiri. Hal itu tercermin dari konflik yang dihadapi oleh Sari dan Rahman. Polaritas kembali hadir dengan kedatangan Erik, si anak baru asal Jakarta yang idolakan sepakbola Inggris, serta adanya Pacho, siswa sekolah yang “Aremania Banget”.

Nggak cuma itu, film ini menunjukkan bagaimana Aremania dimaknai oleh berbagai sudut pandang. Sari dan kakaknya, Sekar, mewakili perspektif aremanita, perspektif feminis. Erik mewakili sudut pandang dari non-Aremania. Pacho, tentu berpespektif aremania militan. Sementara Rahman, menunjukkan perspektif Aremania di perantauan.

Di awal film, terus terang saya agak sedikit sebel sebab saya harus berpikir keras untuk memahami dan memaklumi bahwa Arema harus disikapi sebegininya oleh para tokoh. Fanatisme, melumur di depan. Seperti contohnya waktu Pacho ngotot menyatakan bahwa Erik itu Aremania.

Namun semakin lama, film ini nampak memang sembunyikan pesan intinya di belakang. Bahwa Aremania itu bukan sekedar soal supporter dan sepakbola, Aremania adalah semangat persudaraan bahkan juga semangat berkarya seperti yang terjadi pada Sekar dan lagunya.

Kendati begitu, menurut saya beberapa dramatisasi rasanya berlebihan, seperti contohnya saat ayah Sari sambangi stadion dan dijunjung mesisan sak kursi rodanya demi nonton pertandingan. Ulala, entah apa yang ingin disampaikan dari part itu, tapi bagi saya itu nggak perlu.

Selain itu unsur komedi dan musik di DBA 2 juga diracik dengan cantik. Saya paling terbahak melihat bagaimana komedi yang muncul di antara Rahman dan istrinya. Mulai dari Rahman yang gagal kelonan, hingga part si istri minggat berbekal uang jualan TV. Seluruh celetuk lucu sepanjang film nggak ada yang gagal, semuanya petjah! Sementara musiknya, kehadiran lagu ciptaan Sekar berikan oase segar.

Yang paling saya kagumi adalah, permainan semiotikanya, apik sekali. Kendati terkesan, saking banyaknya yang apik, saya cuma bisa mengingat satu, yakni jemuran kaos Aremania. Sekedar mengkomunikasikan kesedihan dengan hujan, tentu sudah biasa. Di film ini kesedihan (dan mungkin keputusasaan) digambarkan dengan tetesan air dari kaos-kaos Aremania yang baru dijemur. Sungguh, nggak terpikirkan.

Secara cerita, hampir semuanya ketebak terutama bagaimana para tokoh selesaikan dilemma yang dihadapi. Namun secara permainan semiotika, serta kualitas visual hingga tata musiknya, luar biasa bagus. Terlebih aktornya, saya kira karena ini pemainnya orang-orang lokal, aktingnya juga nggak niat-niat amat. Ternyata saya salah, ciamik abis! Yang paling saya kagumi, tentu, pesan dari film ini, bahwa Aremania bukan sekedar fanatisme komunal.

Terakhir, Sepanjang film yang menggunakan bahasa jawa Malangan, adalah sesuatu yang sangat saya apresiasi. Film ini meracik penggunaan bahasa Malangan dengan bagus. Ya, memang ada film lain yang sama-sama menggunakan bahasa yang sama tapi DBA 2 paling juara.

Berikan kesan “Malang” dalam film nggak cukup dengan sekedar memasukkan simbol serta fanatisme Aremania saja, atau pun ditambah dengan unsur-unsur lokasi khas Malang seperti Jalan Ijen dan kampung warna-warni misalnya. Kekuatan utamanya justru terletak pada bahasanya, dialeknya, bahkan penggunaan bahasa walikan yang diterapkan dengan super luwes. Kearifan lokal memang nggak pernah ada matinya kan?

 

Sumber foto: Instagram/dbafilm

Menemukan Grapyak di #MalangKipa

fheadline malangkipa.jpg

“Wingenane aku mrene isuk mruput kok durung bukak se pak?”

“Iyo, males aku isuk2. He, ngene iki mbok diganti talah jok e. Tukokno ngarep Sardo kono lho, 50 ewu.”

#malangkipa. Entah kenapa, cinta banget sama kota ini. Jika mencari definisi supel dan grapyak, orang-orang Malanglah yang paling bisa beri gambaran tanpa perlu definisi yang ruwet. Ya, seperti contohnya si bapak pencuci sepeda langganan saya ini. Hal-hal seperti inilah yang jadi alasan makin sulit untuk nggak jatuh hati pada Malang.

Bukan siapa-siapa. Sering ke sini juga nggak terlalu. Tapi perhatiannya pada sepeda saya tuh bikin tertegun. Seperti perhatiannya pada jok sepeda saya yang suwek sedikit di atas misalnya. Bukan pertama kali perhatian macam itu diberikan. Tentu sangat membantu bagi saya yang boleh dikata cuma tau cara kendarai sepeda motor, nggak ngerti gimana meliharanya.

Kecil dan sepele saja sebetulnya. Selain soal jok, beliau juga kerap memeriksa ban dan rantainya. Mungkin karena beliau heran sepeda keluaran lama ini masih bisa hidup hingga kini. Ya, siapa yang masih kendarai Yamaha Vega ZR di tahun 2018? Setidaknya kami, kalangan mahasiswa di kota yang terkenal dengan bakwannya ini. Kalaupun ada, tentu tidak banyak. Terlebih para milenial, mana mau repot-repot injak persneling.

Dan juga, percakapan di antara saya dan beliau di atas, seberapa mungkin akan terjadi jika saya tidak tengah berhadapan dengan orang Malang? Sepengalaman saya, kemungkinannya kecil. Ya kecil. Sepengalaman saya yang kerap berinteraksi dengan orang-orang Jawa Matraman misalnya.

Bukan, bukan bermaksud bilang bahwa orang Jawa Matraman tidak grapyak, hanya saja, sepengalaman saya, sulit memecah dinginnya suasana dengan mereka. Entah mengapa begitu. Atau mungkin sayanya aja yang nggak pintar melakukan itu? Entah lagi. Ah, lupakan itu. Saya cuma seorang mahasiswa yang tengah kasmaran pada kehangatan orang-orang Malang. Kembali ke keramahan dan kesupelan mereka.

Bapak itu hanya satu dari sekian orang Malang supel yang saya kenal. Tentunya ada banyak, tapi salah satu lagi yang paling saya ingat adalah keramahan sebuah keluarga besar yang tengah punya hajat nikahan.

Sekitar 2 tahun lalu saya melakukan riset tentang budaya mbiyodo. Kamu tahu mbiyodo? Itu lho, kegiatan gotong royong yang dilakukan para tetangga/keluarga besar jika ada salah satu dari mereka punya hajat seperti nikahan, tahlilan, khitanan, dll. Kebetulan, yang saya riset kala itu pernikahan teman saya sendiri, mbak Eka namanya.

Saya meminta untuk diijinkan melakukan observasi pastisipatif demi kepentingan pra penelitian. Mbak Eka beserta keluarga berikan ijin. Singkat cerita saya terlibat bantu-bantu apapun sebisa saya di dapur mereka. Mulai dari menata kue di kotak, hingga menata makanan berat di keranjang. Saya sih bisanya ya gitu-gitu aja, hehe…

Saat itu saya merasa diterima dengan cepat. Maksud saya, tidak ada seorangpun yang tidak menyapa atau minimal lontarkan senyum. Para tetangga dan keluarga Mbak Eka ini nggak segan untuk meminta saya melakukan ini itu, saya merasa menjadi bagian meski sebetulnya bukan siapa-siapa. Mereka juga langsung berbasa-basi untuk bikin saya nyaman.

Sempat terbesit pertanyaan, apa yang membuat mereka bisa sebegini supelnya? Sebegini cepatnya menerima orang-orang baru? Di rumah beberapa teman saya pun begitu, baru berapa kali main, orang tuanya sudah bisa ngobrol gayeng ketawa-ketiwi. Entahlah, saya sendiri masih dilingkupi penasaran yang besar.

Sumber foto: fotonya @dj_exza instagram/exploremalang.