Salahkah Jika Aku Masih Hidup di Zamanmu?

dd202_2_cover_image_1

Pulang selalu torehkan cerita tersendiri pada setiap kalinya, tak terkecuali pada pulang kali ini. Mengambil cuti pertama setelah 3 bulan bekerja, rasanya sudah lama sekali saya pulang nggak leha-leha. Ya, mama sempat protes dulu sebab sekali-kalinya pulang, saya masih saja ngumek kerjaan. Ternyata begini rasanya ambil cuti.

Cerita kali ini bukan cerita yang baru sebenarnya, hanya saja baru saya renungkan, baru tahu harus memaknainya seperti apa. Jadi begini, setiap kali saya pulang, mama dan papa saya selalu curhat soal gadget atau hal-hal lain yang berhubungan dengan teknologi. Seperti contohnya papa yang curhat kala handphonenya nggak bisa menyimpan file unduhan, atau mama yang bingung dengan caranya nyambungin laptop ke internet.

Papa cerita kalau berkali-kali harus service handphone, yang ujungnya juga diflashin mulu. Sementara mama, yang masih bekerja, permasalahannya jauh lebih kompleks dari sekedar nyambungin wifi. Dalam pekerjaannya yang mulai harus melek teknologi, beliau dituntut untuk kuasai cara menggunakan email, menggunakan seabreg aplikasi (mulai dari aplikasi rujukan pasien, sampai aplikasi laporan bidan), hingga bikin laporan-laporan yang pakai ms. Word dan Excel.

blog_feature_IT_Careers_072015

Bagi bidan-bidan muda, tentu itu semua memudahkan sebab apa-apa tinggal pencet, tapi bagi mama saya, sekedar memahami logikanya saja, butuh kerja keras. Ya, setiap teknologi memiliki logika, simbol, dan pemahamannya masing-masing kan? Tentu dinas kesehatan nggak sebodoh itu menerapkan penggunaan teknologi tanpa ada pelatihan, tapi pelatihan ini hanya sampai pada tataran hapalan. Akibatnya? Akibatnya, saat mama saya mendapati cara-cara yang dihapalkan itu nggak bekerja dengan baik, beliau bingung dan nggak tahu harus gimana. Padahal jika lebih paham konstruksi dasar dari tindakan-tindakan dari sekedar mencet ctrl+S saja misalnya, banyak hal yang nggak jadi rumit.

Maka kemudian, saya jadi teringat pada materi stand up ‘MESAKE BANGSAKU’ Pandji Pragiwaksono. Bahwa salah satu kelompok minoritas di negeri ini adalah para lansia. Sebab minoritas, maka banyak kebijakan yang nggak berpihak pada orang-orang lansia seperti mama saya termasuk kebijakan soal teknologi ini. Saya selalu teringat pada hakikat teknologi adalah apa-apa yang mempermudah hidup manusia, tapi jika seperti ini, manusia yang mana yang dimudahkan? Manusia mayoritas maksudnya? Bidan-bidan muda itu maksudnya?

Tentu mengumbar gerutu nggak akan berujung pada apapun, toh kalau soal ini, barangkali batinmu berkata “Udah lansia kok masih kerja.” Ya, memang, seharusnya mama saya di rumah saja menikmati masa pensiun yang sesungguhnya itu nggak akan lama lagi. Hanya saja, saya rasa perlu dievaluasi soal kebijakan penggunaan teknologi ini. Mama saya tentu bukan satu-satunya bidan yang mengalami masa-masa transisi penggunaan teknologi saat sudah sepuh.

web-information-technology-it-support

Transisi ini bagi saya cukup massif. Bukan sekedar digitalisasi dokumen saja yang barangkali Cuma repot di pelaporan. Kalau Cuma begitu, pergi ke rental computer saja bisa kan? Transisi ini meliputi banyak hal seperti yang sudah saya paparkan di atas, jelasnya lebih menuntut kemadirian, seperti seyogyanya tujuan munculnya teknologi. Bidan dituntut untuk bisa kirim laporan via email sendiri, rujuk pasien sendiri pakai aplikasi, dll. Itu semua berada di posisi ‘harus’, nggak ada pilihan lain. Can you imagine?

Kalau sudah begini, saya jadi perpikir bahwa definisi kerja keras-banting tulang itu nggak melulu tergambarkan oleh banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan atau banyaknya tanggung jawab yang harus ditanggung. Kerja keras bagi mama saya barangkali berarti memahami dan beradaptasi dengan teknologi masa kini.

Kalau sudah begini, saya juga jadi teringat pada kata-kata Nagabonar dalam film ‘NAGABONAR JADI 2’. Kalimat itu begitu menyentuh, berbunyi “Salahku, aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang sangat sulit kumengerti, tapi berupaya kupahami karena aku mencintaimu, Bonaga…” Ya, memahami teknologi hingga sesusah payah ini, barangkali adalah perwujudan cinta mama pada saya. Betapa beliau masih harus terus bekerja demi terus menyekolahkan saya yang tak kunjung lulus ini.

Berdamai Dengan Ketidakcantikan, Berdamai Dengan Society

fheadline jerawat

Suatu hari di grup WA yang berisi teman-teman dekat semasa kuliah, ada kawan mengirim foto sepasang pengantin. Seorang yang lain tiba-tiba nyeletuk “Tak kiro manten wedok e Tantri,” tulisnya. Saya yang penasaran, langsung download foto itu dan menemukan bahwa memang agak sedikit mirip. Sontak saya membalas “Yo ayuan mbak iku,”. Seketika grup ramai dengan replyan “wkwkwk”, “hahahaha”, bahkan emote LOL. Ada yang membalas “Yo jelaslah, lawas”, ada juga yang nggak segan bilang “Kalau kamu cantik, kamu nggak mungkin berteman sama kita-kita,”.

Itu bagi saya biasa, menjadi tidak cantik adalah keseharian saya. Karenanya, saya juga super maklum ketika orang-orang berkomentar begitu.

Saya menyadari bahwa saya tidak cantik, setidaknya menurut standar yang dikonstruksi media sekaligus diyakini orang-orang Indonesia. Bukan cuma ginuk, tapi saya juga berwajah penuh jerawat. Iya, siapa sih yang mau peduli bahwa saya punya kulit super oily plus hormon yang hih suka bikin jerawat muncul itu? Paduan kulit oily dan hormonal, adalah duet combo untuk hidup dengan jerawat nggak ilang-ilang.

Ya, barangkali sebagian batinmu berkata “Perawatan dong,”. Siapa yang mau peduli juga dengan seabreg dokter beserta cream-creamnya yang sudah saya jajal? Toh, saya sih kadang-kadang percaya bahwa uang berbicara, artinya kalau saya punya uang banyak untuk perawatan wajah, muka saya paling mendingan deh.

fp jerawat 5

Toh sejauh ini juga saya sudah baca-baca soal berbagai perawatan yang dilakukan spesialis kulit untuk atasi jerawat, mulai dari injeksi serum sampai fractional laser. Semua itu secara ilmiah tentu bisa dipertanggungjawabkan, tapi ya sekaligus nggak murce. Susah bagi saya menjangkau perawatan-perawatan itu dengan kantong pas-pasan ini. Maka dari itu, saya memilih berdamai dengan menelateni treatment yang bisa saya jangkau. Nggak ampuh memang, jerawat tetap muncul, tapi ya ini yang bisa saya lakukan.

Selain itu dokter sendiri bilang bahwa sebelum saya tua dan menopouse, saya bakalan terus berjerawat. “Ada juga beberapa orang yang memang secara genetik berjerawat,” tambahnya seolah menekankan bahwa saya kemungkinan was born with theeese pimple.

Nggak cuma berdamai dengan itu, saya juga berdamai dengan segenap pengalaman yang saya punya gara-gara jerawat. Mulai dari disambati ibu sendiri, sampai ditawari pergi ke dukun. Nih lebih jelasnya:

1. Disambati Ibu Sendiri
Setiap kali pulang ke rumah, mama saya selalu bilang “wajah e jerawaten,”, “sumpek aku delok wajahmu, jerawaten terus,” dan lalin-lain. Intinya nyambati jerawatan. Ibarat sedih itu ada levelnya, di nomor inilah kesedihan paling puncak yang saya rasakan. Tapi ya sudah, beliau tahu kok effort saya bagaimana selama ini.

2. “If only you had a face as smooth as yours on the picture”

fp jerawat 3
Kalimat ini betul-betul keluar dari tenggorokan seorang kawan saat kami selesai berfoto di tepi Pantai Batu Bengkung. Ia mengatakan itu sambil memandang foto selfie kita berdua yang memang pakai beautify. Saya waktu itu ketawa aja. Si kawan satu ini memang unik, padahal beberapa waktu sebelumnya dia bilang lebih senang lihat wajah saya tanpa make up, ini sungguhan lucu.

3. Diusap Kain Leluhur

fp jerawat 1
Ide tersebut muncul dari seorang asisten rumah tangga di kos saya waktu masih di Soekarno-Hatta. Kala itu saya lagi nungguin gojek di teras, tetiba ia datang dan ikutan duduk. Entah ada angin apa, dia memandang wajah saya seraya bilang “Coba kamu cari kain mbah buyutmu, terus usapin ke muka. Pasti wajahmu bersih nanti,”. Mendengar itu saya antara bengong dan pengen ketawa. Saya iyain aja deh biar cepet.

4. Didukunin

ilustrasi-paranormal-dukun_20180205_204321

Masih ide yang datang dari ART, bedanya ini ide dari ART waktu saya ngekos di Jl. Karyawiguna belakang Kampus UMM. Saat itu saya lagi patah hati berat, patah hati pertama sebagai mahasiswa kalau nggak salah. Sontak, jerawat saya muncul rame banget kayak arisan kan kalau lagi stress tuh.

Saya yang lagi enak-enak masak indomie, tetiba disamperin sama ibu ART yang sudah lumayan sepuh. Beliau bilang pakai bahasa Jawa khas Banyuwangi yang intinya “Mbak, ke dukun aja ta? Nanti wajahmu jadi bersih, bersinar-sinar kayak diamond. Bikin lelaki itu nyesel mbak, pasti dia mau balik nanti,”. Saya yang memang susah judes sama tiyang sepuh, cuma menolak sambil ketawa.

5. Jeritan MUA

fp jerawat 4
Bebapa tahun lalu, sepupu saya menikah di masjid Agung Surabaya. Saya jelas seperti biasa, didapuk jadi mbak-mbak penjaga souvenir. Dateng subuh-subuh ke venue, lalu ketemu MUA. Baru ngelihat muka saya, dia sudah berteriak “Duh jerawaten! Jerawat e uakeh lho iki,”. Betul-betul berteriak, sampai mama saya di ruangan sebelah denger. Ia juga berkali-kali ngingetin asistennya yang makein foundation ke wajah saya, dia bilang jangan sampai jerawatnya kelihatan. Hem, senyumin aja sih, hahahaha

6. Muka Kayak Pembantu
Yang satu ini, literally terlontar dari sahabat baik saya sendiri, seorang lelaki yang kemana-mana sering sama saya dulu. Saya nggak inget gimana asal muasalnya dia bilang begini, yang saya inget cuma waktu itu kami lagi di koridor dekat kantor jurusan. Dia bilang wajah saya jerawatan dan kayak pembantu. Saya marah waktu itu. Bagi saya merendahkan profesi tertentu itu bukan hal baik.

7. Dimodusin Pedagang Sabun
Ini yang baru bulan lalu saya alami. Waktu itu saya naik grab car, abis pulang dari Bromo. Sengaja bare face, mulai dari berangkat sampai pulang. Saya lagi liburan dan ogah diribetin sama make up, sesimpel itu alasannya.

Dari kaca mobil yang di atas itu, pak driver memandangi saya. Beberapa kali kegap, hingga akhirnya beliau bilang “Mbak, mbak yang jilbab ijo, udah lama jerawatan?”. Saya bilang “udah” sambil bodo amat gara-gara capek banget.

Tampak nggak menyadari keengganan saya mengobrol, driver melanjutkan hasrat bicaranya. “Istri saya jualan sabun Amorea. Itu ampuh lho mbak, tetangga saya sekarang wajahnya bersih kalau pakai itu. Kalau mau tinggal WA saya aja mbak, kan ada ya nomor saya, tadi kan saya telpon,” tukasnya. Lagi-lagi saya iyain singkat, sambil sandaran di kursi, ngantuk.

8. Jomblo Karena Jerawat Ya?

fp jerawat 2
Lebaran 2 tahun lalu, saya lagi semobil sama tante dan om saya. Terjadilah pembicaraan soal saya yang masih jomblo-jomblo aja. Si Om bicara banyak, menduga-duga berbagai faktornya. Mulai dari kurang pergaulan, sampai muka jerawatan. “Itu memang jerawatan ya? Nggak bisa diilangin? Coba perawatan deh, aku dulu naksir tantemu karena wajahnya bersih dan pipinya merah,” celetuknya tanpa tendeng aling-aling.

Pada orang-orang seperti ini, yang saya tahu, mereka tidak betul-betul peduli. Mereka hanya berhasrat bicara, dan butuh ditanggap. Maka kemudian, saya mengambil strategi komunikasi ‘njupuk ngisor e’, alias jadi inferior. Intinya saya menanggapi dengan cara yang mereka harapkan.

Kedelapan peristiwa itu pada akhirnya saya terima dengan lapang dada, saya memilih berdamai dan memaklumi society yang memang manusia biasa, terbiasa dengan standar dan memandang apa-apa lewat mata belaka.

4 Laki-Laki dan 1 Tanggal di Bulan Juni

people-jumping-silhouettes-beach-water-reflections-sunset

Sebagai perempuan yang entah kenapa sejak kecil lebih nyaman bergaul dengan kaum adam, bersahabat dengan lelaki rasanya sudah sangat biasa. Karenanya, saya sering heran sama anggapan orang bahwa perempuan dan lelaki kalau bersahabat itu pasti friendzone alias ada salah satu yang naksir. Tapi di tengah keheranan itu, saya sendiri pernah buktikan kalau anggapan itu benar adanya hanya saja frekuensinya kecil. Katakanlah dari bersahabat dengan 5 lelaki, cuma 1 yang ada rasa ulala itu.

Bersahabat dengan lelaki mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa saya super cocok sohiban sama lelaki berzodiak Gemini. Eits, disclaimer dulu sebelum saya dihujat. Saya nih nggak percaya ramalan zodiac lho ya, dalam konteks ini saya Cuma memakai kategorisasinya saja. Saya sendiri berzodiak pisces, mungkinkah memang sudah banyak terjadi persahabatan antara pisces dan Gemini yang langgeng? Entah juga.

Setidaknya ada 4 lelaki berzodiak ini yang jadi sohib baik saya sampai sekarang. Sebut saja Mas Anin, Mas Dani, Mas Decki, dan Mas Tom. Keempatnya miliki pola interaksi yang berbeda, namun keempatnya adalah orang-orang yang paling bisa memahami isi otak saya.

Sebut saja mas Anin, dia itu sejak awal melihat saya bicara di salah satu forum, sudah semacam tau kalau saya berbeda. Saya inget banget waktu itu saya terlibat dalam forum di organisasi kampus yang diskusikan soal tema pameran foto. Saya lemparkan ide yang nggak popular, yakni tema tentang fasilitas umum. Maksud saya, dari pameran foto ini ada pesan yang ingin disampaikan yakni kritik pada pemerintah tentang fasilitas umum serta melihat bagaimana sih fasilitas umum ini dipakai, sudah sesuai kah atau gimana.

5188345441-9c4cb2febd-b-8cb6c49a4b514fab7b5e6144e37501e7-3d243d58774aeaeb1f153a58036d3cbf

Mendengar ide yang nggak popular itu, orang-orang di forum cuma bengong, dan barangkali mbatin anak semester 1 omongan e KYY (Koyok Yok-Yok o alias sok banget). Yang merespon dan mau mendatangi saya untuk diskusikan lebih jauh cuma 1, mas Anin. Semenjak itu mas Anin jadi salah satu temen diskusi paling nyambung soal organisasi dan leadership.

Kelar ketemu mas Anin di semester awal, saya lantas kenal dengan Mas Decki. Dia sudah seperti mentor saya sebab dia ngajarin saya banyak hal terutama tentang bersosial. Selain itu, ngomongin apa-apa yang idealis beserta hal-hal filosofis lainnya, saya super nyambunglah sama mas ini. Oia, soal ngajarin pentingnya bersosial, dia tuh kritik keengganan saya untuk ‘kumpul ambek menungso’. Ucapannya yang paling saya ingat adalah “Koen iku lapo se isin bersosial? Koen iku gak cacat, koen yo gak kere! Ganok alasan lho!”. Sungguh itu menohok sekali. Sejak itu saya mulai banyak perbaiki diri, mulai dari pola pikir sampai cara bajuan.

Kelar ketemu mas Decki, Tuhan pertemukan saya dengan mas Dani. Sebetulnya saya dan mas Dani ini sudah kenal dari awal kuliah, tapi baru benar-benar sohiban di semester-semester akhir. Mas Dani ini punya seabreg pertanyaan soal hidup yang sering dishare sama saya. Saya senang diajak menemukan jawabannya, sudah kayak nemu teka-teki silang yang berhadiah kapal. Kami setiap hari menukar pertanyaan, mulai dari apa saja resiko jika LGBT dilegalkan sampai kenapa orang marah-marah kalau dibilang gendut.

Selain itu, kami juga paling nyambung ngomongin soal analisis wacana kritis kala itu. Mas Dani juga sempat kasih saya buku tentang menjadi wanita sholehah di penghujung hari-harinya tinggal di Malang. Ya, 2015 silam ia saya lepas di stasiun Kota Baru untuk bertolak ke Jakarta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

2 tahun kemudian saya nggak sohiban sama lelaki Gemini, hingga akhirnya saya kenal sama mas Tom. Kami sebetulnya nggak punya persamaan apapun kecuali sama-sama nyambung. Mas Tom ini enak banget diajak ngobrol soal seni menulis karena kebetulan ia sarjana sastra. Selain itu ngobrolin soal gagasan-gagasan hasil observasi juga oke. Cuma dia memang semacam ogah ngomongin hal-hal spiritual dan pandangan politik sama saya. Barangkali karena berbeda tapi ya entah, dugaan saja sih. Tapi Mas Tom tetap sohib yang oke.

Yang kemudian baru saya sadari, keempatnya terlahir di tanggal yang sama di bulan Juni, yakni tanggal 3. Ulala, ada apa dengan tanggal 3? Bagi saya, ini unik sih saya bisa sohiban dengan lelaki bertanggal lahir sama dalam fase-fase yang berbeda. Apa kamu pun pernah alami hal serupa?

Saat Yang Lain Hujat Milenial, Ngalup Coworking Space Malah Jadi Sobat Kental

Beberapa waktu belakangan, milenial lagi jadi pembicaraan. Yup, mulai dari dasar pengkategoriannya sampai tingkah polah mereka, jadi perdebatan. Nggak salah sih, sebutan milenial tampaknya memang lagi menari-nari di permukaan benak para masyarakat, khususnya netizen.

Lantas, apa sih milenial itu sebenarnya? Dilansir dari tirto.id, para sosiolog membagi manusia jadi beberapa genarasi, yakni Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z. Lebih lanjut, masih menurut tirto.id, milenial merupakan kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980 sampai 1997. Jadi, apa kamu termasuk milenial gengs? Kalau saya sih iya, hehe..

Sebagai generasi milenial, saya sedih sebetulnya melihat ada banyak yang menghujat generasi ini. Milenial kerap dibilang nggak tau selera musik, taunya cuma musik-musik ala DWP. Ada juga yang bilang, milenial anaknya males-males, ogah kerja. Sekalinya kerja kok yo sambatan alias suka ngeluh. Duh! Milenial milenial, sekalinya hidup kok bisanya bikin geleng-geleng kepala aja.

ngalup.co_41955913_300581164103511_7096613471718866014_n

Salah satu kelas yang digelar Ngalup tentang membuat website. Kelas semacam ini wajib banget diikuti buat para Milenials yang mau usahanya go online (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Yang barangkali nggak dimengerti, kami, atau setidaknya saya, sebagai generasi milenial betul-betul berada di dua jaman yang berbeda. Pertama, saya ngerasain banget dibesarkan dengan sistem hidup, sistem pendidikan, yang berlaku di masanya, alias sistem-sistem yang dibikin berdasarkan pemikiran orang-orang jaman lawas.

Yup, orang-orang jaman lawas ini artinya orang-orang yang hidup di jaman orde baru. Menurut As’ad Muzammil dalam jurnal Potensia Volume 2, orang-orang di era tersebut berkarakteristik lemah, tidak berperan fragmentatif, ketakutan, disarkulatif dan involutif.

Kebayang banget dong kalau anak-anak seperti saya dibesarkan oleh orang-orang yang seperti itu? Beserta sistem hidup yang represif dan berciri ‘asal bapak senang’. Yes, boro-boro mikir break the rules, saya ngerasain banget apa-apa harus sesuai aturan, termasuk proyeksi masa depan.

ngalup.co_42003080_319384308794956_7029709981107830967_n

Kalau kelas yang satu ini adalah soal membangun merk lewat video, jadi peserta diajarkan mulai dari teori hingga praktik membuat video. Hem, sayang banget kan kalau dilewatkan? (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Kalau ditanya mau jadi apa, jawabannya nggak jauh-jauh dari profesi yang konvensional, semacam polisi, dokter, pilot, sama insinyur. Profesi-profesi yang sebetulnya dalam dunia nyata nggak jauh-jauh dari sistem yang sudah ada, profesi yang masih begitu tergantung pada sistem pemerintahan.

Namun ketika saya beranjak dewasa, saya menghadapi sebuah perubahan era yang luar biasa pesatnya. Sekedar pintar, rajin belajar dan bercita-cita jadi dokter doang nggak cukup. Era yang ada di depan saya adalah era dimana saya harus break the rules, berorientasi pada perkembangan teknologi, serta berani jadi creator. Sementara saya, nggak dibekali senjata untuk menghadapi itu semua. Pusing dong? Mental-mental yang kadung dibangun ini lho semacam mental-mental pendamba hidup sekedar enak semacam jadi PNS, pegawai tetap, dll.

Terlebih lagi perkembangan teknologi yang begitu pesat, rasanya salah banget kalau nggak mengejarnya cepat-cepat. Iya, saya tahu, saya dan milenial lainnya hidup dan bertumbuh bersama seabreg teknologi ini. Tapi, apa iya kami-kami ini betul-betul menguasai semuanya? Sementara rutinitas kami nggak melulu bergelut dengan itu. Itu lho, kami tuh masih disuruh bikin kerajinan menghias telur paskah di kala anak-anak di belahan dunia lain sudah belajar ngerakit robot. Sekali lagi, milenial adalah generasi yang dibesarkan dengan cara yang tidak dipersiapkan untuk masa depan.

ngalup.co_43985166_575181872936936_8565726028906653665_n

Sementara kelas yang ini ngajarin tentang Panduan Dunia Digital. Mulai dari pengenalan hingga cara mengetahui aktivitas toko online kita. (Credit: instagram.com/ngalup.co)

Di tengah segala kebingungan tak tahu arah ini, saya menemukan Ngalup Coworking Space. Hem, bagai oase di tengah padang pasir, ada semangat produktif yang selalu di-encourage oleh Ngalup Coworking Space. Saya yang biasanya males-malesan, berasa tertampar melihat bagaimana para milenial seusia saya banyak yang ngeramein setiap kelasnya baik sebagai pembicara maupun sebagai peserta.

Di Ngalup Coworking Space selalu dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang bersiap dengan tantangan hidup hari ini. Mereka adalah milenial yang sudah gerah dengan dongeng-dongeng orang tua yang nyuruh daftar CPNS tiap tahun. Mereka adalah orang-orang yang super tertarik untuk wujudkan ide-ide kreatif mereka, lebih dari sekedar berkarya, tapi juga bermanfaat bagi sesama. Orang-orang yang nggak melulu mau idup enak doang, tapi berjuang dan mendistraksi sistem yang ada. Break the rules, dan peka pada kebutuhan masyarakat hari ini.

Kelas-kelas di Ngalup Coworking Space selalu sesuai dengan kebutuhan zaman naaow. Sebut saja kelas-kelas yang diisi oleh para pendiri start up sampai para pengusaha UMKM. Seperti contohnya kelas yang diisi oleh Dinar Hana ST,. MT., seorang CEO dari Abundent. Apa sih Abundent itu? Abundent adalah perusahaan transformasi digital dan big data analytics. Please dong, udah pada tahu big data kan? Tahu algoritma kan?

ngalup.co_44686729_173624276926039_5206851751055900191_n

(Credit: instagram.com/ngalup.co)

Dinar mengisi kelas bertajuk ‘How to prepare your business for the artificial inteligence revolution’. Hem, jelas kelas ini dibutuhin banget kan sama kita-kita yang lagi diterpa gelombang digitalisasi yang masif. Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan sahabat, kalau hal-hal beginian nggak mulai jadi concern, mau jadi apaaa kita hadapi dunia?

ngalup.co_41761937_317551365494827_5047947721051007875_n

(Credit: instagram.com/ngalup.co)

Nggak cuma itu, milenial yang masih so young macam saya ini, sudah punya ambisi untuk bangun berbagai usaha. Ngalup Coworking Space nggak segan-segan gelar kelas soal saham. Nah lho, anak kemarin sore nih, udah pada main saham. Yup, bersama Komunitas Investor Saham Pemula (ISP), Frisca Devi Choirina paparkan soal saham dari A sampai Z. Hal-hal seperti ini lho yang jadi kebutuhan milenial, yang nggak diajarin di sekolah, yang nggak masuk dalam sistem pendidikan kita. Hih, gemesh!

Banner Ngalup

Karenanya, nggak salah banget deh kalau saya berani bilang bahwa Ngalup Coworking Space adalah wadahnya Milenial banget. Seabreg kreativitas beserta ide-ide inovatif kami bisa dishare, didiskusikan, bahkan bisa berkembang di sana. Makanya, rajin-rajin deh cek timeline Ngalup Coworking Space, biar nggak ketinggalan kelas-kelasnya yang barangkali jadi awal kesuksesanmu, buktikan bahwa Milenial nggak melulu doyan drama macam Awkarin!

Namun sebetulnya, Ngalup Coworking Space tidak hanya gelar kelas doang lho. Yang paling penting Ngalup bisa jadi kantor buat kalian para pemilik start up atau bisnis online. Yup, hari gini bikin kantor sendiri kadang mikir-mikir dulu ya, tapi Ngalup sediakan fasilitas ala kantor yang nyaman untuk disewa. Mulai dari wifi, listrik, dll. Ini solusi banget kan buat Milenial yang nggak sabar untuk seriusi bisnisnya?

 

Penulis adalah blogger anyaran yang tersobsesi jadi anggota dari Blogger Ngalam, 😀

Logo Blogger Ngalam edited

Drama OTW ke Stand Up Pandji Pragiwaksono, Dari Sendirian Sampai Nemu Teman Curhatan

BeautyPlus_20181123232123548_save

Soal gemari karya Pandji, saya paling tertarik sama stand upnya sejak 2013. Yup, Pandji memang telurkan banyak karya, mulai dari buku sampai lagu. Sebab tahun ini dia gelar stand up special, saya excited banget. Harus nonton pokoknya. Saya hepi banget soalnya nonton MESAKKE BANGSAKU dan JURU BICARA. Sebab itu, rencana nonton Pandji ini harus disiapin terutama karena lokasi acaranya di luar kota. Salah satu yang penting adalah, soal penginapan.

Jauh-jauh hari, bahkan sejak tahu kalo Pragiwaksono World Tour bakal digelar di Surabaya pad 1o November, saya udah bingung cari penginapan. Yup, nggak cuma dapetin tiket periode Wongsoyudannya doang yang susah, cari penginapan juga susah. Terutama bagi saya yang berkantong cekak ini.

Mengapa? Sebab acara dimulai pukul 19.00 dan selesai pukul 23. 00. Sepengalaman saya nonton JURU BICARA 2 tahun silam, baru bisa keluar gedung jam 1 dini hari. Pasalnya, antri fotonya itu lho panjaang minta ampun!

Sebagai keponakan kesayangan yang punya banyak om-tante dan pakde-bude berdomisili di Surabaya, tentu sekedar cari penginapan nggak ada masalah dong. Tapi kalau acara kelar jam segitu ya wasalam. Kena omel sih enggak, tapi sebagai gadis yang menjunjung tinggi budaya Jawa Matraman, tentu kudu wajib melestarikan perilaku sungkan. Hem, guaya yo? Jarno. Akhirnya jatuhlah pilihan pada nginep di kosan seorang teman yang bawain ogut kunci pager sendiri. Ulala, surga untukmu nak!

Kelar urusan penginapan dan perebutan tiket wongsoyudan, tibalah hari H. Kerjaan kantor beres jam 12 siang, langsung cabut cari bis patas Malang-Surabaya. Duduk sebelahan sama brondong emesh yang berisik mau datengin acara Korea-koreaan di Tunjungan Plaza (TP). Kelar basa-basi bentar saya langsung bablas turu, tau-tau udah mo nyampe aja di terminal Purabaya.

Jam 5 sore udah cantik, udah wangi. Sialnya, saya dapet mas ojol yang nggak tau dimana DBL. Padahal jelas ada di map. Saya sih santai aja pura-pura bego nggak tau dimana DBL, dalam hati cuma berkata “Mari kita lihat seberapa canggih dirimu menemukan DBL, khukhukhu”. Tampaknya itu bukan keputusan yang tepat ya, sebab sepanjang jalan saya bawaannya emosi mulu lihat si mas terkaget-kaget dengan notifikasi map semacam “Belok kanan setelah 200 meter”. Duh, ingin mara tapi taqut tossa~

Sesampainya di DBL, saya turun di trotoar. Mata kemudian tertuju pada seorang gadis yang sama-sama turun dari gojek. Dugaanku, dia juga sama-sama mau nonton Pandji. Eh ternyata bener, waktu saya samperin dan basa-basi, dia juga sama-sama dari Malang. Anak UB juga. Yaelah duniaaaaa…

BeautyPlus_20181123231948268_save

Kami berjalan beriringan bersama-sama menuju venue. Mampir Indomaret Graha Pena dulu dong beli minum. Iya, kami tahu kalau nggak boleh bawa makanan atau minuman ke dalem, tapi saking hausnya sebab berjalan kaki dari trotoar, begitu lihat Indomaret langsung belok. Kami berdua sama-sama semog siist, jalan kaki padahal tak berlari sudah bikin ngos-ngosan. Dan anda tahu pilihan minuman saya jatuh pada apa? Pada satu pack Yakult yang tentu tidak meredakan haus, tapi yasudahlah, kelima botolnya saya minum sekaligus.

Sebelum masuk area venue, sambil menyeruput minum masing-masing, kami berbincang sedikit. Saya yang memang hobi curhat ini, tetiba lontarkan resah yang berbunyi “Kamu sendirian? Kenapa? Kalau aku sendirian kesini soalnya susah tauk nyari temen yang sama-sama suka Pandji.” Si embak yang sungguh ku lupa namanya ini pun sepakat. Baginya sulit untuk menjelaskan apa menariknya Pandji pada kawan-kawannya. Yha, betul, terlebih lagi sejak dia dukung Anies, ah elah, sudahlah.

Setelah registrasi kami masuk venue dan bingung milih kursi. Pasalnya, semua kursi platinum yang depan sudah penuh. Apalagi tengah, elah udah disikat duluan. Jadilah kami duduk di dekat tribun. Yang jelas kami baru bisa lihat muka Pandji dengan super jelas lewat layar. Hemtalah.

Acara dibuka dengan penampilan Fuad Kangean, opener lokal asal Kangean-Madura. Sebagai seorang editor yang pernah nulis berita Stand Up Comedy Academy di Indosiar selama 1 musim, saya tahu banget kalau stand up itu nggak cuma soal lucu, tapi juga soal kegelisahan personal. Yup, Fuad ceritakan gelisahnya sebagai orang Madura beserta segala stereotype yang menyertainya. Mulai dari dianggap suka nyolong besi, sampai dicap ogah rugi. Sumpah, saya terbahak-bahak banget waktu dia bisa fasih banget bilang “Janc*k!”.

Setelah Fuad turun, naiklah Mamat Alkatiri, komika yang baru kali ini saya lihat. Namanya memang nggak asing, tapi entah kenapa saya nggak pernah tergerak nyari stand upnya di youtube. Duh, agak nyesel sih, sebab Mamat nggak cuma lucu, tapi kegelisahannya itu loh dipaparkan dengan logika-logika ala akademisi. Hem, maksudnya premis-premisnya tuh nggak cuma disupport oleh hasil observasi, tapi juga dengan logika yang runtun. Ku syuka Mamat, wkwkwk…

Setelah puas dibikin Mamat terpingkal, Pandji pun akhirnya naik panggung. Belum apa-apa sorak sorai penonton sudah menggema. Saya termasuk yang norak teriak-teriak sambil tepuk tangan cantik. Seperti apa sih penampilan Pandji malam itu sampai saya harus menyebutnya sebagai paket komplit yang bukan favorit? Hem, simak di postingan saya selanjutnya ya!

Seterjal Naik Gunung, Seasyik Naik Roller Coaster

FHEADLINE ROLLER

Seumur hidup, saya nggak pernah naik gunung. Nggak kayak ‘dia’, yang doyan naik gunung. Bukan tanpa alasan saya ogah banget naik gunung, badan saya yang lebar dan berat ulala ini lho yang selalu jadi momok. Ya, memang nggak sedikit orang berbadan tambun yang mau-mau aja budal mendaki gunung lewati lembah sambil melihat sungai mengalir indah ke samudera, tapi saya ‘No’. Sebab nggak cuma rindu yang berat, naik gunung juga berat, apalagi ditambah badan saya yang sexy-curvy-heavy ini, nggak shanggup rasanya. Terserah deh mau dibilang susah dijak soro atau apa, bagi saya selama saya masih gendut saya nggak mau naik gunung, titik.

Namun, kendati saya nggak pernah naik gunung, bukan berarti saya nggak pernah lalui hal-hal terjal yang naik turun. Setidaknya, pekara mengenal dan berteman dengan ‘dia’ rasanya sudah seperti mendaki gunung lewati lembah, meski tidak secara harfiah. Lelahnya nggak kalah hebat, serunya nggak kalah sarat, bahagianya pun nggak kalah berlipat-lipat.

FP ROLLER 5

Bagaimana tidak, walau baru setahun mengenal dia, jalan hidup pertemanan kami cukup berliku, bikin emosi saya kayak naik roller coaster. Kami sama-sama suka memainkan peran alter sekedar untuk bereksperimen. Kala itu, grup WA jadi lahannya. Setiap hari, setiap malam, saya dan dia bermain peran sebagai duo sejoli yang tengah kasmaran. Saling lempar rayuan, mengoyak gombalan, sampai ciptakan sengitnya pertengkaran. Semuanya sudah dijajal, sekedar demi melihat bagaimana publik beri tanggapan. Lantas apa kami menikmati? Sangat.

Ya, alih-alih bilang bahwa kami 2 orang jomblo kesepian, kami sebut konstruksi peran alter tadi sekedar permainan. Padahal kami sama-sama korban dari para gebetan yang nggak pernah cocok. Ibarat nyari puzzle, kami selalu alami fase “kalau aku cocok, si gebetan yang ogah. Tapi kalau ada gebetan yang ngrasa cocok, aku yang ogah”. Gitu aja terus sampai Avenged rilis album religi, begitu pikir kami. Toh meski nasib kami pekara ini mengenaskan, kami sama-sama teteup punya cem-ceman.

Kemudian waktu berlalu, dan kami kerap bertemu. Menata waktu, tentukan titik tuju. Mulai dari Bangil, sampai mall-mall Surabaya jadi tempat saksi keseruan kita. Sekedar berbincang sambil makan kentang, atau saling menukar pandang, dan diakhiri dengan salam perpisahan tanpa jabat tangan, jadi hal-hal selalu kita lakukan berulang tanpa pernah bilang bosan. Begitu saja bagi kami sudah mengasyikan, walau sudah pasti keasyikan berjibaku dengan alam dan gunung baginya tidak pernah terkalahkan.

FP ROLLER 6

Kelar segala waktu bersama yang nggak pernah gagal bikin pipi merona itu, tetiba gelombang konflik menerjang, bikin saya jadi bego seketika. Ya, dia tetiba kasih warning soal boundaries, dan di saat yang sama saya juga lakukan kesalahan yang hancurkan kepercayaan. Kami terpisah dan bikin saya berantakan. Satu-satunya yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menggulirkan sedih di berbagai platform. Bikin puisi, menulis prosa, dan memutar lagu-lagu tragedi jadi sederet rutinitas tambahan, semata agar kesedihan saya nggak menguap sia-sia. Sebab saya selalu tahu, pada waktu-waktu emosi begitu polarlah energi menulis itu super menggebu.

Sedih saya nggak patut dihiraukan lama-lama. Saya mulai kembali hidup seperti biasa, mengamati dan mengkritisi isu-isu sosial kekinian lalu membaginya ke publik. Mulai dari ketawa-ketiwi lihat iklan kepala ibu-ibu masuk magic com sampai soal kulkas halal. Yup, ada salah satu produsen kulkas yang mengklaim kulkasnya halal. Saya tentu nggak sepakat, aturan agama kok digawe dodolan atas hal-hal yang nggak relevan. Eh, siapa sangka, dia tertarik membahas isu itu. Satu persatu argument kami lempar lewat voice note. Nggak disangka lagi, obrolan soal kulkas halal ini jadi pangkal kembalinya interaksi kami.

FP ROLLER 3

Kami mulai kembali menukar cerita dan opini. Saya hobi melempar gagasan dan permasalahan, dia hobi kirimkan rekaman nyanyian. Tanpa kami sadari, kami sama-sama tengah berbangga diri. Saya membanggakan pemikiran saya sementara dia membanggakan suara merdunya. Bedanya, pemikiran saya bisa ia balas dengan pemikiran, sementara suara merdunya cuma bisa saya balas dengan pujian, semacam “ummm, melting dengerinnya” yang mengandung gombal. Yup, saya sebelas duabelas sama giant kalau nyanyi, mirip juga sih bodynya. Jadi sudah saya tahu dirilah untuk nggak berbalas kirim nyanyian.

Menyebut pujian itu sebagai gombal, cuih, padahal ujung-ujungnya semua rekaman itu saya simpan dan saya jadikan playlist. Bahkan ada juga yang saya jadikan alarm bangun tidur. Ah, bukan, bukannya saya lantas baper, tapi hey coba dengarkan dulu, sulit untuk tidak bilang bahwa ia berbakat lho!

FP ROLLER 4

Cara-cara komunikasi yang seperti itu yang kami lakukan. Sebab, kami tinggal di 2 kota yang berbeda. Baru beberapa minggu ‘mesra’ kembali, masalah menerjang lagi. Saya yang bego ini lagi-lagi terbawa emosi dan putuskan tali silaturahmi. Sementara dia, dengan segenap gengsinya sebagai lelaki yang menggunung, tentu ogah bertanya “kamu kenapa?” kan? Padahal rindu, padahal ingin membagi pilu, padahal malamku sendu, dan padahal-padahal lain yang terus ku tepis. Hingga akhirnya, kehilangan akal, saya upayakan melempar kejutan. Berhasil dan hore! Dia nggak ngambek lagi.

Naik turun intensitas kami ini, tentu mengasyikkan. Ketimbang lempeng-lempeng aja, segala drama ini saya nikmati. Terlebih, dia tau banget cara memainkan perasaan saya, cara bikin saya sebel, bikin saya ngambek, bikin saya tersipu malu, Bikin perut saya berkupu-kupu, dll. Entah apa karena dia yang begitu jago, atau saya yang begitu bego, tapi roller coaster ini nggak pernah mau berhenti. Konflik dan keakraban datang silih berganti.

Nggak terkecuali, saat kami dekat dengan orang lain. Kami sama-sama jadi saksi atas masa-masa jatuh cinta dan patah hati satu sama lain. Kendati, sudah pasti saya yang paling blak-blakan cerita soal si doi, sementara dia, harus saya pancing setengah mati dulu baru mau cerita. Bikin saya pusing mikirin trik korek-korek asmaranya, meski saya sepenuhnya tahu kapan ia jatuh hati dan kapan ia bersedih.

FP ROLLER 2

Di sisi lain, nggak sedikit orang yang bertanya, “kenapa kalian nggak jadian saja?”. Sulit untuk menjawab ini, sebab kami tidak tahu posisi masing-masing. Soal perasaan? Entah. Yang pasti, seperti para ahli asmara menganalogikan “Api itu pasti ada, tapi kemudian disiram, dimatikan, atau dikobarkan itu semua lain cerita”. Kehadiran api, bukan kami yang ciptakan, kita semua tahu siapa pencipta api paling hakiki. Namun, mau disiram, dimatikan, atau dikobarkan itu semua kehendak masing-masing kami kan? Yang pasti, cerita kami hingga hari ini saya yakini berkat dinamika api. Hadir, redup, hilang, hadir lagi, redup lagi, hilang lagi, atau bagaimanapun bentuknya bagi saya yang paling penting adalah pengalaman ini.

Ya, saking pentingnya, saya nggak bisa pungkiri bahwa pernah takut jika kami kelak kecanthol puzzle yang cocok, alias nemu gebetan yang cocok. Saya dan dia pernah bicarakan soal ini dan kami sepakat, pada saat itulah roller coaster kami sampai di pemberhentian. Kami harus turun dan lanjutkan jajal wahana lain, dengan orang lain. Barang kali dia memilih bianglala, yang naik turunnya berlahan dan teratur, sekarakter dengan gadis pilihannya yang kalem dan pemberani. Sementara saya, barangkali akan memilih naik Hysteria yang naik turunnya ekstreme, butuh pegangan erat agar saling kuat. Tapi, baik Bianglala maupun Hysteria keduanya nggak akan pernah bisa gantikan roller coaster kan?

Hampir (Merasa) Memiliki

FHEADLINE GAGAL

Salah satu web series yang lagi booming beberapa waktu belakang adalah ‘Mengakhiri Cinta Dalam 3 Episode”. Kisahnya sederhana, meski bumbu dramatisasinya ulala. Ya, dramatisasi dibutuhkan biar ngenesnya lebih terasa. Eh, sudah pada tahu kan ini webseries ceritanya soal sepasang kekasih yang mau nikah trus si cowoknya tetiba bilang “udah nggak cinta”? Sesederhana itu, padahal udah barengan selama 8 tahun.

Tentu, Toyota Indonesia sudah lakukan riset sebelumnya, barangkali mereka menemukan bahwa ada banyak kisah serupa di kehidupan nyata. Praktis, web series ini jadi sesuatu yang mengandung keterwakilan. Setidaknya memang, begitulah yang terjadi pada sahabat-sahabat saya belakangan. Hampir menikah, lalu selesai sudah.

Ada Alina, yang berpacaran dengan seorang polisi. Saya masih ingat, dia galau banget waktu ditembak. Di lampu merah Jl. Panjaitan itu, ia menarik rem tangan mobilnya sambil mulai bercerita. “Aku takut Tan, biasanya polisi kan punya banyak cewek. Aku takut dia cuma main-main,” ujarnya sambil memandang deretan mobil yang mengular di depannya.

Saat itu saya cuma bisa kasih segala opsi dan kemungkinan, sekedar membuatnya berpikir bijak. Namun, saya juga sertakan bahwa bagaimanapun Alina harus sertakan Tuhan dalam setiap keputusannya, termasuk urusan pacaran ini.

Screenshot (405)

Singkat cerita Alina dan mas polisi ini jadian, mereka memutuskan untuk serius dalam waktu beberapa bulan. Keluarga mereka saling mengenal dan pernikahan tampaknya begitu memungkinkan. Namun tetiba Alina mengajakku bertemu di Mi Setan, lalu ceritakan hubungannya yang kandas. Alasannya? Alina pun tak tahu, tetiba saja mas polisi minta putus dan meninggalkan begitu saja.

Lain Alina lain pula Deswita. Menemukan tambatan hati dari facebook, ia jalin hubungan LDR selama beberapa bulan. Mereka yang sama-sama tengah coass, lantas ditempatkan pada 1 kota yang entah kebetulan atau bagaimana. Makin hari, niat untuk berangkat ke pelaminan makin mantap. Terjadilah lamaran, sebuah kabar gembira bagi ayah Deswita yang tengah sakit keras.

Beberapa bulan setelah lamaran, saat Deswita sudah survei persiapan menikah, tetiba si cowok minta putus tanpa alasan jelas. Deswita tentu sulit menerima itu, ia lantas mencari kejelasan ke keluarga si cowok. Malangnya, mereka malah seenak jidat bilang “Yaudahlah mbak, lupain aja. Dia udah nggak cinta mau gimana lagi,”. Sebuah jawaban yang samasekali tidak membantu Deswita untuk menjelaskan kandasnya hubungan pada ayahnya yang sedang, sekarat.

Screenshot (400)

Barangkali ada yang komentari kisah Deswita dan Alina dengan “Yaiyalah, pacaran baru beberapa bulan udah mau menikah. Mimpi?”, bhaigh, ada pula nih, sahabat saya bernama Dini yang kisahnya barangkali lebih bisa diterima. Pacaran selama 3 tahun, mereka lalui masa indah pacaran di Malang dengan penuh suka cita. 1 tahun belakangan, mereka LDR sebab si cowok harus kerja di Jakarta.

LDR jadi penguji, mulailah terjadi kesalahpahaman kecil. Komunikasi mulai terganggu, hingga akhirnya si cowok minta putus, dengan alasan yang sama kayak Satrio di “Mengakhiri Cinta Dalam 3 Episode”, yakni “Nggak cinta”. Dini sulit menerima ini, sebab mereka berdua memang sudah mantap menikah meski lamaran masih dalam rencana. Dini hancur.

Screenshot (406)

3 cerita di atas hanya sedikit dari sekian banyak kisah sahabat-sahabat saya yang gagal menikah, alias berhenti pada titik ‘Hampir’. Ada banyak perspektif untuk melihat kisah ini, tapi saya memilih untuk mencoba memahami bagaimana Tuhan skenariokan jalan hidup manusia.

Sejatinya, kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia ini, termasuk pasangan atau pacar sendiri. Namun wajar adanya jika setiap hadir sosok yang menyayangi, maka ia hadir pula sepaket dengan harapan untuk saling membersamai hingga mati, harapan untuk jadi sepasang suami-istri. Sebuah jenjang hidup yang kerap disebut sebagai ibadah terlama, salah satu yang pahalanya bisa mendulang surga.

Saat pasangan diambil dari genggaman, pernikahan di depan mata tetiba nggak jadi tergelar, apa maksud-Nya? Bagi saya, barangkali Tuhan sedang ingin membuka mata kita bahwa melihat apa-apa itu yang paling baik adalah dari kacamata-Nya, bukan dari kacamata manusia.

Screenshot (408)

Tentu, sebagai manusia mudah untuk melihat ini sebagai kemalangan, ke-nggletek-an, kesialan, atau barangkali kesalahan pihak lelaki semata. Namun pemaknaan tersebut nggak mengantarkan pada titik apapun kan? Amarah, sedih, dan ratapan tak berujung demi sesuatu yang sejatinya tidak pernah kita miliki? Apakah bijak?

Saya memilih untuk menyandarkan segala reaksi tersebut pada manusiawi, sesuatu yang wajar, masih pada tataran manusia. Namun lebih jauh, bagi saya memaknai peristiwa ini harus disandarkan pada kacamata Tuhan.

Menurut saya, keberadaan manusia di bumi nggak lain hanyalah mencari Ridho-Nya. Segala takdir, segala kisah hidup, segala peristiwa, adalah tentang bagaimana kita selesaikan misi itu. Untuk mendapatkan Ridho, maka kita harus menjadi hamba. Buktikan diri bahwa kita adalah sebenar-benarnya hamba nggak melulu soal ibadah (beserta ikhtiarnya), tapi juga tentang pasrah, sebuah titik yang membuktikan bahwa kita betul-betul nurut sama apa maunya Tuhan.

Screenshot (411)

Titik di mana kita meletakkan pengakuan atas kuasanya, jauh lebih tinggi dibanding kuasa kita sebagai manusia yang kerap dibilang sebagai makhluk paling sempurna. Titik dimana kita menemukan batas, kembali mengingat pada sang pemilik hidup. Barangkali itu semua kerap dilupa saat kita begitu yakin bisa kendalikan hidup sendiri.

Ikhtiar dan pasrah, ikhtiar dan pasrah, ikhtiar dan pasrah, adalah siklus yang terus terjadi, yang sejatinya begitu terus selama hidup hingga pada suatu waktu hanti, kita dipertemukan dengan Tuhan dan dinyatakan lolos tidaknya menjadi hamba. Pantas tidaknya kita mendapatkan Ridhonya, bukankah begitu?

Maka, gagal nikah ataupun segala hal tidak mengenakkan selama hidup, sejatinya hanyalah perjalanan menuju ke sana. Jadi salah satu ujian kita untuk buktikan bahwa kita adalah hamba, barangkali kesempatan hidup beserta segala hal yang nggak mengenakkan ini sudah seharusnya disyukuri. Bayangkan jika hal-hal itu tidak ada, mau bagaimana cara kita buktikan diri?

Sumber foto: Youtube/ToyotaIndonesia

Kenapa Orang Melakukan Bully?

Dampak-Bullying-800x500

Satu hal yang nggak pernah saya pahami, kenapa orang membully? Jawaban akan pertanyaan itu akan mulai saya tanyakan pada diri saya sendiri, ketimbang saya mencoba menerka-nerka pikiran orang lain. Kenapa saya membully?

Lama saya terdiam, saya nggak menemukan satu jawaban. Bukan, bukannya saya hipokrit dan seolah mau bilang bahwa saya nggak pernah membully orang, saya betul-betul nggak ingat kapan terakhir kali saya membully orang. Sebab barangkali, yang ada adalah saya ini kerap jadi sasaran bully.

Begini, ada satu lingkungan, satu kondisi yang paling saya benci, yakni lingkungan bully. Saya nggak suka melihat orang lain dibully, serta nggak suka jadi sasaran bully. Kendati yang terakhir itu saya punya pandangan yang berbeda alih-alih tergesa-gesa beranjak pergi.

1 hal yang saya pahami bahwa, bully sebetulnya berada di koridor bercanda. Kalau saya baper, tentu saya dong yang kelewat batas. Seharusnya bagaimana? Ya seharusnya ikuti permainan, ambil bagian dari drama perbully’an ini.

Masalahnya, saya nggak suka bercanda dengan model begini. Saya nggak belajar caranya ngebully orang, dan nggak suka aja. So, rulesnya adalah pertama, dilarang baper, kedua, harus pinter bales bullyan. Keduanya nggak bisa saya lakukan, karena itu saya memilih meninggalkan lingkungan yang begini.

Pun, kalau melihat orang lain yang dibully, saya sebetulnya juga ingin cabut. Kalaupun harus bertahan, pasti saya punya kepentingan dengan menekan sekuatnya parasaan nggak tega ini. Uhlala…

Tapi jelas, pertanyaan saya belum temukan jawaban, kenapa orang membully? Di salah satu grup WA yang saya ikuti, ada seorang teman yang setiap hari dibully. Dibilang homo, sampai dicitrakan sebagai cowok yang nggak gentle.

girlbullyingapril-570b018a3df78c7d9ede5971

Saya sampai heran, kenapa? Emang kalau temen saya itu homo beneran kenapa? Kalau dia emang nggak gentle beneran kenapa? I mean, orang-orang ini punya dendam apa sih? Oh iya, saya lupa, bukan soal dendam, tapi soal bercanda. Tapi apa betul atas nama bercanda yang biasanya diklaim sebagai cara untuk mendekatkan diri ini, maka bullying menjadi legal?

Masih soal kenapa orang membully, saya lantas buka-buka sejumlah literatur. Beberapa penelitian menemukan bahwa motif orang yang melakukan bully itu untuk menunjukkan dominasi, mendapatkan pengakuan, demi gengsi, serta mendapatkan status sosial.

Lebih lanjut, penelitian menyebutkan pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisikal, ingin popular, sering membuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial. Biuh, mosok teman-temanku di grup begitu?

Yup, fakta ilmiah mengatakan itu semua, tapi entah kenapa, saya masih kurang sreg. Bagaimana jika, yang saya tahu untuk menunjukkan dominasi, pengakuan, dan status sosial semuanya bersandar pada leadership, bukan perilaku bully.

Maksud saya, kalau memang mau mendominasi, ya tunjukkan dan aplikasikan prinsip-prinsip leadeship dengan baik, disisipi cara-cara politik juga sah asal nggak merugikan siapapun. Bertanggung jawab lebih, dedikasi yang lebih, kemampuan retorika yang lebih, bukankah sewajarnya begitu kalau mau mendominasi?

Begitupun dengan pengakuan serta status sosial. Bukankah menunjukkan keunggulan diri seharusnya lebih wajar ketimbang menginjak-injak harga diri orang lain? Ya, konsep ini seharusnya saya pahami sejak awal bahwa untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi, ada 2 cara. Yang pertama, bersusah payah untuk naik. Yang kedua, merendahkan bidang sejajar di sekitar. Voila, jadi yang paling tinggi kan?

Tapi tetap saja, kenapa? Kenapa ingin mendominasi? Ingin diakui? Apa kepentingannya?

Tapi kemudian, barangkali setelah muter-muter cari jawaban di atas, saya pada akhirnya setujui jawaban sederhana dari Deddy Corbuzier. Bahwa ada perasaan senang ketika menjadi orang jahat. Semua orang tahu bahwa bully itu bukan perilaku baik, tapi memang menyenangkan. Lantas, adakah yang lebih menyedihkan dari orang-orang yang mencari kesenangannya sendiri dengan menyakiti orang lain? I mean, atas dasar apa orang lain harus berkorban demi kesenangan pribadimu?

Syukur Yang Dihadirkan Yeslin Wang dan Shezy Idris Pagi Ini

FHADLINE YESLIN

Hari ini (Sabtu, 22/9/2018), jam 7 pagi saya sudah duduk manis di kursi kantor. Sudah saya putuskan, saya akan memandang hari Sabtu dengan cara yang berbeda. Biasanya, Sabtu jadi hari yang dianggap weekend dimana segalanya “end”. Kerjaan end, penat end, dll. Tapi Sabtu bagi para pekerja yang tidak libur, ya tidak ada yang ‘end’.

Menandang Sabtu sebagai weekend dan hari yang santai nyatanya nggak membawa saya pada apapun kecuali kemalasan. Itu lantas bikin saya menyesal di hari minggunya. Saya nggak mau terus-terusan begitu, that’s why saya sepagi ini sudah duduk di sini.

Seperti biasa, jatah saya menulis berita tentang sejumlah selebriti papan tengah. Yup, papan tengah, sebab mereka ini nggak tenar-tenar amat tapi ada aja gitu programnya di TV, nongol aja gitu di akun-akun lambe. klasifikasi papan tengah itu saya sendiri sih yang bikin.

Screenshot (200)

Setelah beres bikin teh panas, saya mulai nyalain PC. Di tengah menulis, saya biasanya buka youtube untuk mendengarkan alunan Konco Mesra atau bojo galak Nella Kharisma. Ya bolehlah selera saya di bilang ndesit, oldies, atau apa. Tapi dangdut bagi saya tuh moodbooster paling oke. Ngantuk sedikit kalau orang lain nyeruput kopi, saya nyetel dangdut. Pokok e Nella Kharisma jagoanku.

Tapi pagi ini, mata saya tetiba tertarik dengan video Hotman Paris Show bertajuk “Tak Kuat Bersama Delon, Yeslin Wang Memilih Angkat Kaki dari Rumah”. Sek disclaimer. Saya sebetulnya nggak begitu mengikuti perkembangan gosip artis. Artinya, saya tahu Luna Maya putus, Sule cerai, Hari Jisun eker-ekeran sama Deddy Corbizuer, tapi ya sekedar tahu aja, nggak ngerti kisahnya. Termasuk soal Yeslin Wang ini.

Satu-satunya yang saya tahu soal Yeslin, dia kasihan. Itupun gara-gara seorang teman yang lagi nulis berita soal Yeslin tetiba nyeletuk “Kasihan ya Yeslin”. Saya yang waktu itu lagi utak-atik foto di photoscape nggak gitu ngereken de e. Tapi entah kenapa, pagi ini, judul video itu bikin saya tertarik dan memutarnya.

Screenshot (201)

Videonya berdurasi singkat, sekitar 8 menit aja. Memang ada part-partnya gitu. Gara-gara video ini saya jadi tahu bahwa Yeslin memutuskan menikah sama Delon setelah 3 bulan kenal. Dia lantas mengaku, sejak 3 bulan pertama pernikahannnya, ia udah nggak sreg sama sifat-sifat Delon yang emang baru ia tahu setelah menikah.

Nggak lama kemudian datanglah Shezy Idris. Baru datang dan dihujani pujian soal betis, ia sudah ditanya sama Hotman “Kamu menikah tahun berapa?”
“2011”
“Berapa tahun pacaran itu?”
“Enggak. Sama kayak Yeslin kita ta’aruf juga. Kayak aku baru kenal langsung nikah,”
Yang lebih nggapleki, Hotman nanya apa Shezy menikah atas dasar cinta? Tentu, Shezy mengiyakan itu. Tapi di saat segala masalah datang, Shezy berusaha untuk selalu lebih cinta lebih sayang dan lebih harmonis. Gokilnya lagi, Shezy mengaku kehilangan kemesraan setelah 1 tahun menikah.

Well, the point is, keduanya menikah dengan ta’aruf dan keduanya juga mengaku udah nggak harmonis di awal pernikahan. Ini, setidaknya, jadi sebuah penyeimbang dimana publik tengah terpesona dengan pernikahan Anisa Rahma (ex cherrybelle) dengan Dito yang didasari ta’aruf.

42141-anisa-rahma-dan-dito-instagram-atmela-insomnia

Gara-gara Anisa, seorang teman sampai japri dan bilang “Tan, koen ta’aruf’an ae”. Kelar nonton talkshow Hotman bersama Yeslin dan Shezy tadi, saya jadi mikir sekian kali untuk ta’aruf.

Jujur saja, saya pernah memandang pernikahan dengan naif. Ada sekian banyak faktor yang bikin saya pengen lekas menikah… dengan tanpa pikir panjang tentunya. Pertama, orang-orang yang saya sayangi mulai bersedih dan khawatir. Bosen ditanyain tetangga, takut kalau saya nanti sulit punya anak karena menikah telat.

Gara-gara itu, saya yang sebetulnya super santai menjalani kejombloan ini jadi mulai mensugesti diri untuk berkeinginan lekas menikah. Salah satu sugestinya adalah, menikah itu ibadah dan wajib bagi siapapun yang sudah mampu.

Sejak itu, saya jadi melakukan apapun untuk dapat calon dengan dalih, mengikhtiarkan pernikahan. Nggak cuma lewat doa, tapi juga berkenalan dengan siapapun yang kadang-kadang ini dinilai terlalu konyol oleh sahabat saya sendiri. Kami sampai bertengkar soal ini di food court Matos. Ia mencegah saya dengan retorika “Emang kamu punya value apa?”. Ia bilang bahwa saya belum lulus kuliah, nggak punya kerjaan, cantik juga enggak, dll. Intinya, saya nggak punya nilai tawar sebagai wanita yang patut dinikahi. Jadi, nggak usahlah fokus cari-cari jodoh.

fp YESLIN

Saya paham, sebetulnya ia bilang begitu demi mencegah saya memurahkan diri mau-maunya digebet siapa saja. Tapi bagi saya, what else? apa lagi yang bisa saya lakukan selain memperbanyak peluang ketemu calon pacar? Toh, bagi saya itu bukan digebet, tapi memperbanyak kenalan apa salahnya? Demi ikhtiar mewujudkan ibadah lho ini, pernikahan kan ibadah to?

Semenjak itu, saya memang akhirnya punya lebih banyak teman cowok dan nggak segan dekat dengan beberapa di antaranya. Di pikiran saya, siapa aja deh yang mau, yuk cus aja, ibadah lho ini. Begitu terus, sampai akhirnya, ibu saya sendiri tetiba bilang bahwa ia ingin mengenalkan saya dengan seorang lelaki asal Yogyakarta. Saya setujui itu, lantas kami chatting.

Komunikasi makin intens dan saya mulai sering ketemu keluarganya lewat video call. Kami ngobrol banyak, dan saling haha hihi. Makin sering ngomongin pernikahan, bukan, bukan pernikahan kami tapi saling tukar pandangan soal pernikahan dan pasangan ideal. Hingga pada suatu hari saya tau bahwa ia miliki orientasi yang berbeda, fakta yang disembunyikan dari saya. Saya cuma bisa bengong melihat kenyataan ini.

Apa yang saya alami, tentu mengejutkan saya sendiri. Pandangan saya menikah tanpa pikir panjang demi segerakan ibadah, ternyata terpatahkan dengan ini. Ini, beserta cerita Yeslin Wang dan Shezy Idris, bikin saya nggak naif lagi memandang pernikahan dan taaruf. Bagaimana jika saya begitu terburu, begitu berambisi untuk menikah, nggak menimbang-nimbang bahkan menekan curiosity saya atas si mas cemewew ini?

Setidaknya, sekarang ikhtiar saya lakukan dengan lebih hati-hati. Tentu, perbanyak peluang harus terus dilakukan, tapi tergesa-gesa dan naif, harus disingkirkan.

Memang, Shezy dan Yeslin hanya segelintir contoh dari perkenalan singkat yang membawa pada pernikahan dan berakhir pegat. Tentu, perkenalan yang sebentar ada banyak yang langgeng sampai kakek nenek. Tapi setidaknya, jangan silau dengan motif ibadah saja, mengenali si mas cemewew ini dengan sebaik-baiknya, semaksimalnya, penting banget. Thanks Yeslin and Shezy.

Mengandung ‘Curiosity’, Begini Amat

image-20150525-32558-q4csn1_fhzbak

Beberapa hari ini saya pulang kantor selalu menjelang maghrib. Bukan karena lembur, tapi karena switch materi sebagai editor freelance ini selalu butuh penyesuaian. Ya, saya yang biasa mengerjakan topik A, lalu tetiba harus kerjakan topik B, selalu butuh waktu lama untuk mempelajari.

Sebetulnya lagi, waktu lama itu semacam habis untuk memenuhi rasa penasaran saya sendiri, keinginan untuk tahu lagi dan lagi, padahal yang dibutuhkan untuk sebuah artikel sudah cukup. Beginilah jadinya kalau mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, hasilnya = remek.

Alhasil, setiap pulang kantor saya jadi rewel. Yup, selalu muncul keinginan untuk dituruti maunya, dimengerti emosinya, dipahami remeknya. Seperti contohnya semalam, saat saya lagi chatting sama Nia. Saya yang suka ngoceh ini, atau lebih tepatnya sedang butuh wadah untuk menumpahkan cerita beserta seabreg emosi yang menyertainya, ingin ngobrol sama dia di telepon. Namun Nia, seperti biasa, beri jawaban “ogah”, sebuah jawaban yang sebetulnya sudah saya duga.

Nia lantas sebel. “Kenapa sih selalu minta telepon? Kamu tahu kan aku tuh nggak suka telponan” ketiknya. Saya lantas membalas “Saya capek ngetik. Pengen ngobrol”. Sebetulnya, saya ingin menambahkan “Saya capek ngetik karena seharian itu yang saya lakukan. Saya cuma bisa kontakan sama kamu di malam hari, saat kita sama-sama pulang kantor. Saya cuma, pengen memaksimal waktu yang ada bersamamu, sebelum kita sama-sama tidur. Ada seabreg cerita yang ingin saya bagi sama kamu, mulai dari cerita receh hingga pemikiran-pemikiran saya yang rumit. Saya butuh kamu untuk diskusiin itu.” Tapi apa daya, Nia tetap keukeuh maunya chatting aja.

Akhirnya, sebagai jalan tengah, Nia tetap chat sementara saya balas chatnya dengan voice note. Sebuah win-win solution yang embuh.

Pada saat-saat seperti itu saya selalu berharap bahwa saya tidak punya otak yang begini, yang selalu penuh pemikiran. Seperti contohnya saat saya hadiri pernikahan seorang teman di Sumber Manjing Wetan (Su-Ma-We=Sumawe)- Malang Selatan, Minggu (26/8) kemarin.

Di google map, jarak antara Soekarno Hatta dan Sumawe itu 61 Km. Sebuah jarak yang katanya bisa ditempuh selama 2,5 jam saja. Ulala, lebih jauh dari pergi ke Surabaya dong. Kenyataannya mbleset. 5 Jam perjalanan harus ditempuh, sebab terjebak macet karnaval sebanyak 3 kali dan medan jalan yang luar biasa liar.

Begitu sampai di lokasi kondangan, mata saya langsung menangkap pola yang sama, yakni kebanyakan tamu lelaki memakai jaket warna gelap dan kopiah hitam. Tentu saya langsung penasaran, kenapa begitu? Apa makna kopiah hitam bagi mereka? Bukankah biasanya lelaki yang pergi ke kondangan lebih memilih pakai batik, jas, atau kemeja gitu? Apa jangan-jangan setelan ‘formal’ bagi mereka itu ya paduan jaket dan kopiah?

Ketika saya pertanyakan itu pada si pengantin, dia cuma jawab “Nggak tahu, adatnya gitu kali”. Ketika saya tanyakan sama temen saya yang lain, yang lagi ngunyah ikan bumbu pedas, dia cuma ngetawain saya sambil bilang bahwa pertanyaan saya nggak penting.

Tentu saya nggak tersinggung kendati saya juga nggak berharap sebuah jawaban yang pasti, tapi gegara itu bikin saya jadi sempat berharap untuk nggak sekritis ini, sepenasaran ini pada apapun.

Sehingga tampaknya akan menyenangkan ketika saya nggak menuntut orang-orang untuk bisa mewadahi pemikiran saya, memperhatikan pertanyaan-pertanyaan saya, atau bahkan miliki analisis ala-ala untuk sekedar didiskusikan. Juga, sehingga saya nggak perlu habiskan waktu lama untuk cari referensi lagi dan lagi buat bikin 1 artikel saja.

Sumber foto: Kumparan